
...Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Donβt forget to leave Like and Comments. Thank You....
...*Happy Reading*...
Rein dengan membawa beberapa orang andalannya pergi ke tempat yang sudah terlacak oleh Andre. Tak lupa Ken juga membawa orang-orang ISS terbaiknya untuk menangkap pimpinan organisasi hitam, Jonas Wilder.
Rein membawa beberapa senjata api yang cukup canggih. Karena menurut Ken, mereka cukup handal dalam menggunakan senjata.
"Organisasi hitam sangat ahli dalam menyelundupkan senjata api. Dan mereka juga merakit senjata api mereka sendiri. Jadi, kita harus waspada terhadap mereka." Kalimat Ken terus mengiang di benak Rein. Ia berharap jika orang-orangnya akan selamat.
Tak lupa mereka memakai rompi anti peluru karena pasti nanti akan ada acara baku tembak dengan anggota Black Jack.
Saat mobil mereka mulai memasuki kawasan terpencil milik Black Jack, mereka sudah disambut oleh suara tembakan dari para anggota organisasi.
Rein memerintahkan anak buahnya untuk berhati-hati. Ken pun sudah menyiagakan senjata canggih miliknya yang mampu menyerang dengan kecepatan sepersekian detik dan memuntahkan banyak peluru sekaligus.
DOORRR DOOORRR DOOORRR!!!
Suasana tengah malam di hutan yang sepi menjadi riuh dengan suara tembakan yang saling bersahutan.
"Siaga semuanya!!!" perintah Rein melalui alat komunikasinya.
"Seraaaanggg!!!!" titah Ken pada para anggota ISS terbaiknya.
"Jonas, aku harus mendapatkanmu malam ini juga!!!" batin Ken menggebu-gebu.
DOOOORRR DOOORRR DOOOORRRR
Ken menyerang dengan membabi buta seakan ingin membalaskan dendamnya.
"Hyaaaa!!!!!" Ken menarik pelatuknya dengan semangat membara.
__ADS_1
Beberapa anggota organisasi tumbang dengan hentakan senjata Ken yang mematikan itu. Ken menerobos masuk dengan melindungi Ray yang mendobrak pintu.
BRAAAKKKK!!!
"Khay!!!" Teriak Ray.
Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Khay terbaring di ranjang kayu. Ia segera berlari menuju ranjang.
Ray menggoyang tubuh Khay yang terpejam.
"Khay!!! Bangunlah!!" Ray sudah panik setengah mati. Ia bahkan tidak memeriksan denyut nadi Khay dan malah menangis meraung-raung memeluk tubuh Khay. Ia mengira jika Khay sudah tewas.
Ken segera memeriksa denyut nadi Khay. Ia memutar bola matanya malas.
"Hei, bung. Dia masih hidup. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Karena denyutnya amat lemah." ucap Ken.
Seketika Ray berhenti menangis dan menatap wajah Khay yang mulai membuka matanya meski hanya sedikit.
"Ray..." lirih Khay kemudian kembali memejamkan mata. Ternyata Jonas menyuntikkan kembali obat bius pada Khay sebelum ia pergi.
Ray menggendong tubuh Khay keluar dari tempat itu. Ken melihat masih ada satu anggota organisasi yang tertinggal dan mengarahkan pistolnya ke arah Ray. Beruntung Ken dengan sigap menembak ke arah orang itu. Dan dalam sekejap orang itu telah terkapar tak berdaya.
Ray terus memeluk tubuh Khay yang mulai pucat dan berkeringat dingin.
"Khay, bertahanlah... Aku ada disini... Kau pasti selamat." Ray terus menggumam dan mengusap wajah Khay yang terpejam.
"Cepatlah sedikit!!! Tancap gasnya!!!" teriak Ray pada Ken yang menyetir mobilnya.
"Cih, ini aku juga sudah cepat, bung! Tidak perlu berteriak padaku atau kita tidak akan sampai rumah sakit dengan selamat." balas Ken yang akhirnya membuat Ray terdiam.
Sementara itu, Rein dan anak buahnya juga Liana sedang menyisir seluruh tempat yang berada di hutan itu. Mereka mengamankan para anggota organisasi yang sudah tak bernyawa dan yang masih hidup.
__ADS_1
"Sepertinya Jonas sudah kabur sebelum kalian datang." ucap Liana yang baru saja datang.
"Iya, mereka sudah menyiapkan semua ini." jawab Rein.
"Bagaimana dengan gadis itu?"
"Dia sudah dibawa Ray dan Ken ke rumah sakit. Kuharap Khay bisa bertahan." ucap Rein yang terlihat menyesal dengan apa yang menimpa Khay yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri.
"Kau sepertinya sangat menyayangi gadis itu ya?"
"Iya. Aku sangat menyayanginya. Dia adalah gadis yang sudah membuat putraku kembali bangkit dari keterpurukannya."
"Hmmm, sepertinya putramu juga mencintainya." tebak Liana.
"Lalu bagaimana dengan putramu? Siapa yang sebenarnya dicintai oleh putramu? Khania atau... Khayla?"
Liana tersenyum penuh arti. "Entahlah. Itu adalah urusan hati anak-anak kita. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka. Benar 'kan?"
"Benar. Kita serahkan semuanya pada mereka saja."
"Hmm, dan kurasa... Aku lebih menyukai Khayla dari pada kakaknya..." ucap Liana sebelum berlalu dari hadapan Rein.
#Bersambung dulu ya shay...
*Adakah yg tidak menyukai jika cerita ini akhirnya merembet ke sedikit adegan action, dan malah romancenya jarang? πatau pada suka dengan selingan adegan penjahat dan polisi, detektif juga ada organisasi hitam?
Mohon maap jika ada yg kurang berkenan ππ
Memang dari awal cerita ini kubuat dengan yaaa seperti ini ππ dan akhirnya banyak mengalami perkembangan sejalan dengan ide yg mengalir diotak mamak.
ini juga yg akhirnya membuat mamak keluar dari zona nyaman yg terus2an nulis sad romance.ππ
__ADS_1
semoga kalian akan tetap mendukung mamak, karena tanpa kalian apalah apalah mamak ini π’ hanya seorang emak2 rempong yang suka ngehalu ππ
Terimakasih utk kalian pembaca, kalian ruaaaaarrr biasaaaahh πππ