
Ken akan kembali ke kamar rawat Khay, namun dari kejauhan ia melihat Rein dan Liana sedang berjalan kearah kamar Khay. Ken berlari kecil agar bisa menyapa mereka.
"Selamat pagi, Ibu, Paman Rein." sapa Ken.
"Pagi, Ken. Kau dari mana?" tanya Liana.
"Aku barusan menelepon kantor. Kalian ingin menjenguk Khayla?"
"Iya. Paman sangat mengkhawatirkannya." ujar Rein yang nampak cemas.
"Tenang saja, Paman. Dia sudah sadar. Dia sedang ditemani Ray." ucap Ken.
Mereka bertiga pun berjalan menuju kamar rawat Khay. Ken mengetuk pintu sebelum membukanya.
Rein amat bahagia karena Khay sudah sadar dan sedang menyantap sarapannya.
"Ayah? Bagaimana ayah dan Bibi Liana bisa masuk? Bukankah ini belum waktunya jam besuk?" tanya Ray heran.
"Ayah menggunakan sedikit kekuasaan ayah sebagai polisi untuk bisa diijinkan masuk." jawab Rein santai.
"Khay, bagaimana keadaanmu?" tanya Liana sambil duduk di kursi samping brankar Khay.
"Baik, Ibu. Aku sudah mulai pulih. Terima kasih karena kalian telah menolongku."
"Jangan bicara begitu. Sudah menjadi tugas Paman untuk menjagamu, Nak." Rein tersenyum pada Khay.
"Oh ya, siang nanti Rakha akan datang kemari." ucap Liana.
"Eh?" Khay cukup terkejut.
"Dia sangat mengkhawatirkanmu, Nak."
Khay menundukkan kepala. Ia masih tidak yakin apakah akan melanjutkan sandiwara ini.
"Ada apa?" tanya Liana menepuk bahu Khay pelan.
"Aku... Aku tidak tahu apakah harus melanjutkan semua ini, Bu. Aku... Tidak bisa menyakiti Rakha lebih dari ini. Jika dia tahu aku bukanlah Khania, maka... Dia pasti akan membenciku..." ucap Khay tertunduk.
Ray sungguh tidak tahu kenapa sahabatnya ini begitu lemah. Tidak biasanya Khay bersikap lemah pada masalah yang menurutnya sepele ini. Ray mengepalkan tangan karena tahu jika Khay pasti memiliki perasaan pada Rakha.
"Belum saatnya ia mengetahui semuanya, Nak. Akan lebih menyakitkan untuk Rakha jika tahu wanita yang dicintainya justru ingin melenyapkannya." ucap Liana.
Khay menatap Liana kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Tapi... Organisasi hitam sudah tahu jika aku bukanlah Khania yang asli." sahut Khay.
"Tidak apa, Nona. Percayalah pada polisi dan ISS. Kami akan melindungimu. Dan kau sendiri adalah seorang detektif. Kau pasti bisa menghadapi ini." celetuk Ken.
Tampaknya banyak orang yang mendukung Khay saat ini. Ia akan percaya diri untuk menjalani peran sebagai Khania.
.
.
-PT. Anak Bangsa-
Rakha kembali ke kantor usai meeting di luar bersama kliennya. Ia menemui Dika yang sedang mengerjakan tugas-tugasnya selama Rakha pergi keluar.
"Dik... Siang nanti aku akan ke rumah sakit. Kau tolong tangani semua pekerjaanku ya." ucap Rakha.
"Eh? Rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Khania. Khania sudah ditemukan."
"Apa?!" Dika cukup terkejut karena sejak pagi mereka memang belum mengobrol banyak. "Jadi Khania sudah ketemu? Dimana?" Dika penasaran. Karena saat kemarin bertanya pada Disha, ia tidak mendapatkan jawaban.
"Entahlah. Ibu tidak memberitahu detilnya. Teman ibu di kepolisian yang berhasil menemukannya." Jawab Rakha.
"Bos, sebaiknya perketat penjagaanmu pada Khania. Hanya untuk berjaga-jaga siapa tahu ada hal buruk terjadi lagi." usul Dika.
"Hmm, kau benar. Akan kupikirkan nanti. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Tolong tangani semuanya hari ini..."
"Siap, bos. Jangan khawatir. Salam untuk Khania ya!"
Rakha mengangguk lalu keluar dari ruangan Dika.
.
.
-Rumah Sakit-
Rakha bertemu dengan Liana yang sudah menunggu di lobi rumah sakit. Mereka saling menyapa sebentar kemudian berjalan menuju kamar rawat Khay.
Rakha sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Langkah kakinya sengaja ia lebarkan agar cepat sampai ditujuan. Liana yang melihat itu hanya bisa tersenyum.
Tok
__ADS_1
Tok
Pintu kamar Khay diketuk, dan Rein membukakan pintu. Hanya ada Rein dan Ray dikamar Khay. Sementara Ken memilih keluar karena tidak mau terlalu mencolok.
Mata Rakha berbinar melihat Khay dan langsung memeluknya. Ia begitu khawatir terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Rakha usai melepas pelukannya.
"Iya, aku baik-baik saja. Kau jangan khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir. Kau diculik mana mungkin aku tidak cemas." Ucap Rakha membelai wajah Khay.
"Lalu bagaimana dengan Disha? Apa dia baik-baik saja?" tanya Khay yang tiba-tiba teringat dengan Disha.
"Aku tidak tahu. Sebaiknya jangan memikirkan dia. Karena kau pergi dengannya, kau jadi celaka begini." ucap Rakha kesal.
"Anak Ibu sepertinya sangat protektif pada kekasihnya ya. Oh ya, Rakha, kenalkan ini Paman Rein. Dia adalah kepala polisi. Dia yang sudah membantu menemukan Khania." ujar Liana.
Rakha mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Rein. Rakha mengembangkan senyumnya dan berterimakasih karena sudah menemukan kekasih hatinya.
"Lalu siapa pria ini?" tanya Rakha menatap Ray.
Ray yang sedang duduk di sofa, sontak berdiri dan menghampiri Rakha. Tatapannya tertuju tajam pada Rakha.
"Kenalkan, aku Ray. Sahabat Khania." Ray mengulurkan tangan.
Rakha menyambut uluran tangan Ray dan tersenyum. Khay yang melihat kejadian itu malah bingung apa yang akan ia katakan pada Rakha setelah ini. Secara tak terduga Ray malah dengan jujur memperkenalkan diri sebagai sahabatnya.
.
.
#Bersambung lagi ya shay...
*kira2 perang dingin gak yaa Ray sama Rakha? π¬π¬
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ππ
.
.
Gaess, mamak punya sekilas info nih. Buat kalian yg mau lihat video2 dari novel2 keren Noveltoon, mampir aja langsung ke ig nya @lucyv146. disana digambarkan visual novel dari karya author2 daebak di NT. Cuss mampir ππ
__ADS_1
Terima kasih ππ