RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 029


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave


Like and Comments. Thank You.


*Happy Reading*


WARNING: ada sedikit adegan kekerasan di part ini. Mohon untuk tidak


meniru adegan ini ya gaess. Harap pembaca bijak menyikapi. Terima kasih.


Ray melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa


menyusul taksi yang ditumpangi Khay. Namun apa daya, sepertinya supir taksi itu


memiliki skill menyetir yang mumpuni sehingga membuat Ray tidak berhasil


menyusul laju taksi itu.


Merasa tidak bisa menyaingi laju taksi Khay, akhirnya Ray


menepikan mobilnya di pinggir jalan. Pikirannya tertuju ke masa lampaunya pada


memori tentang tato Imoogi. Ketakutan akan kenyataan pahit yang akan ia terima


jika Khay mengetahui semuanya membuatnya kembali mengenang masa indah itu.


.


.


.


*Flashback*


Sekitar sepuluh tahun lalu,


“Wah, kau sangat hebat, Ray. Kau berhasil memecahkan


teka-teki ini…” ucap Zevanya.


“Tentu saja. Siapa dulu dong! Ray gitu lho!” ungkap Ray


bangga.


“Baiklah, karena kau berhasil memecahkan teka-teki yang


kuberikan, maka aku akan memberimu hadiah.”


“Oh ya? Apa hadiahnya?”


CUP!


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Ray. Mata Ray


membulat sempurna.


“Kau? Itu adalah ciuman pertamaku…”


“Oh ya? Itu juga ciuman pertamaku, Ray. Dan aku


memberikannya padamu…”


“Zevanya…”


Mata mereka saling beradu. Ada perasaan menggelora di hati


para muda mudi tujuh belas tahun itu.


Tanpa ragu lagi, Ray kembali meraih bibir gadis di


sampingnya itu. Mereka saling beradu mengecap semua rasa yang terpendam dalam


diri muda mereka.


“Aku mencintaimu, Zevanya…” ucap Ray kala kecup manis itu


telah usai.


Gadis itu malah menggeleng pelan. “I can’t…”


“Kenapa?” Ray masih merangkum wajah gadis manis itu.

__ADS_1


“Tidak bisa, Ray. Aku tidak bisa…” Lalu ia pergi dari hadapan


Ray. Dan membuat Ray mematung tidak percaya jika gadis yang ia dambakan itu


tidak bisa mencintainya.


Ray tidak mengerti apa alasannya hingga Zevanya tidak bisa


mencintainya. Meski Ray tahu melalui sorot matanya jika Zevanya mencintainya.


Hanya belum bisa mengungkapkannya. Dan Ray akan menunggu saat itu.


Hingga saat itu tiba, Zevanya membawa Ray ke sebuah tempat


yang jauh dari kota. Ray tidak mengerti kenapa Zeze, panggilan sayang Ray untuk


Zevanya, membawanya ke tempat seperti gudang kontainer yang dipenuhi yang sunyi


dan sepi.


 “Ze, mau apa kita


kesini? Ini jauh sekali dari kota.”


Zeze tidak menjawab. Ia mulai berjalan menjauh dari Ray, dan


tiba-tiba mengacungkan senjata api kearah Ray.


Sungguh Ray amat terkejut. Bagaimana bisa gadis yang


terlihat lugu dan polos itu memiliki senjata api ditangannya dan tahu cara


menggunakannya. Bahkan Ray yang anak seorang anggota polisi pun tidak pernah


memegangnya apalagi menggunakannya.


“Ze, apa yang kau lakukan?”


Bisa Ray lihat jika tangan Zevanya bergetar saat memegang


pistol itu. Namun arah pistol itu masih tetap menuju pada Ray.


Ray berjalan mendekat namun dihentikan oleh Zevanya.


“Jangan mendekat! Atau kau akan mati, Ray…” suara Zevanya


mulai bergetar.


Ray tak bisa melakukan apapun saat ini. Ia hanya berdiri


mematung dengan Zevanya yang siap membidiknya dari jarak sekitar dua meter. Dan


entah kenapa pistol yang tadinya mengarah pada Ray berpindah pada Zevanya


dengan mengarah ke kepalanya.


“Ze…!!!” teriak Ray yang ingin melangkah maju namun satu


tangan Zevanya memberi tanda jika Ray tidak boleh mendekat.


“Aku mencintaimu, Ray. Sangat mencintaimu. Maaf karena aku


baru mengatakannya sekarang…” usai mengatakan isi hatinya, Zevanya memejamkan


matanya dan…


DOORRR DOOORRR!


Ray berteriak histeris melihat tubuh Zevanya yang terhuyung.


Ia ingin berlari menolong Zevanya, namun dengan cepat seseorang menarik tubuh


Ray agar menjauh dari tempat itu.


“Tidak! Zeze! Lepaskan aku! Zevanya!” teriak Ray.


“Sadar, Ray! Kau harus segera pergi dari sini. Ayo!” ucap


seorang pria yang tak lain adalah ayah Ray.


“Tidak! Zevanya!!! Jangan tinggalkan aku!”

__ADS_1


Tak lama terdengar bunyi sirine beberapa mobil polisi menuju


ke arah mereka. Satu orang petugas polisi memeriksa tubuh Zevanya yang


tergeletak di tanah. Polisi itu menggeleng yang artinya bahwa Zevanya telah


meninggal dunia dengan luka tembak di kepalanya.


Ray masih terus berteriak memanggil nama Zevanya. Namun Rein


tetap membawa pergi Ray dari tempat itu.


.


.


.


“ARRRGGGGHHHH!” Ray berteriak didalam mobil.


Ingatannya tentang kejadian hari itu tidak pernah bisa ia lupakan


meski sudah 10 tahun lalu. Masih terngiang dengan jelas saat Zevanya mengatakan


keinginannya untuk menjadi kekasih Ray.


“Ray, jika nanti aku sudah keluar dari organisasi, aku ingin


kau menjadi kekasihku. Bagaimana?”


Saat itu, Ray tidak mengerti apa maksud dari ucapan Zevanya


tentang organisasi. Namun sekarang ia telah mengerti dan tidak ingin Khay


terlibat lebih jauh dengan orang-orang itu.


Setelah dirinya mulai tenang, Ray kembali melajukan mobilnya


menuju ke apartemen.


.


.


.


.


.


Khay menundukkan wajahnya ketika Rakha mulai berjalan


medekat kearahnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Rakha akan datang ke


apartemennya hari ini.


“Sayang… kau dari mana?” Tanya Rakha.


“Eh?”


“Penampilanmu sungguh berbeda dari yang biasanya. Tapi…”


Khay masih menundukkan kepalanya. “Tapi aku menyukainya. Kau


tetap cantik meski bergaya tomboy begini.”


“Eh?” kini Khay mendongakkan kepalanya menatap Rakha. Lalu secercah


senyum terbit di bibir Khay.


Rakha membawa tubuh Khay dalam pelukannya. Tak peduli mereka


ada di tempat umum, Khay mulai terbiasa dengan sentuhan yang diberikan Rakha.


Bahkan aroma tubuh Rakha mulai menjadi candu baginya. Ia merasa lebih tenang saat


berada dipelukan kekasih kakaknya itu. Beban yang dirasanya berat, menjadi


lebih ringan saat bersama Rakha.


#bersambung…

__ADS_1


__ADS_2