
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
WARNING: ada sedikit adegan kekerasan di part ini. Mohon untuk tidak
meniru adegan ini ya gaess. Harap pembaca bijak menyikapi. Terima kasih.
Ray melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa
menyusul taksi yang ditumpangi Khay. Namun apa daya, sepertinya supir taksi itu
memiliki skill menyetir yang mumpuni sehingga membuat Ray tidak berhasil
menyusul laju taksi itu.
Merasa tidak bisa menyaingi laju taksi Khay, akhirnya Ray
menepikan mobilnya di pinggir jalan. Pikirannya tertuju ke masa lampaunya pada
memori tentang tato Imoogi. Ketakutan akan kenyataan pahit yang akan ia terima
jika Khay mengetahui semuanya membuatnya kembali mengenang masa indah itu.
.
.
.
*Flashback*
Sekitar sepuluh tahun lalu,
“Wah, kau sangat hebat, Ray. Kau berhasil memecahkan
teka-teki ini…” ucap Zevanya.
“Tentu saja. Siapa dulu dong! Ray gitu lho!” ungkap Ray
bangga.
“Baiklah, karena kau berhasil memecahkan teka-teki yang
kuberikan, maka aku akan memberimu hadiah.”
“Oh ya? Apa hadiahnya?”
CUP!
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Ray. Mata Ray
membulat sempurna.
“Kau? Itu adalah ciuman pertamaku…”
“Oh ya? Itu juga ciuman pertamaku, Ray. Dan aku
memberikannya padamu…”
“Zevanya…”
Mata mereka saling beradu. Ada perasaan menggelora di hati
para muda mudi tujuh belas tahun itu.
Tanpa ragu lagi, Ray kembali meraih bibir gadis di
sampingnya itu. Mereka saling beradu mengecap semua rasa yang terpendam dalam
diri muda mereka.
“Aku mencintaimu, Zevanya…” ucap Ray kala kecup manis itu
telah usai.
Gadis itu malah menggeleng pelan. “I can’t…”
“Kenapa?” Ray masih merangkum wajah gadis manis itu.
__ADS_1
“Tidak bisa, Ray. Aku tidak bisa…” Lalu ia pergi dari hadapan
Ray. Dan membuat Ray mematung tidak percaya jika gadis yang ia dambakan itu
tidak bisa mencintainya.
Ray tidak mengerti apa alasannya hingga Zevanya tidak bisa
mencintainya. Meski Ray tahu melalui sorot matanya jika Zevanya mencintainya.
Hanya belum bisa mengungkapkannya. Dan Ray akan menunggu saat itu.
Hingga saat itu tiba, Zevanya membawa Ray ke sebuah tempat
yang jauh dari kota. Ray tidak mengerti kenapa Zeze, panggilan sayang Ray untuk
Zevanya, membawanya ke tempat seperti gudang kontainer yang dipenuhi yang sunyi
dan sepi.
“Ze, mau apa kita
kesini? Ini jauh sekali dari kota.”
Zeze tidak menjawab. Ia mulai berjalan menjauh dari Ray, dan
tiba-tiba mengacungkan senjata api kearah Ray.
Sungguh Ray amat terkejut. Bagaimana bisa gadis yang
terlihat lugu dan polos itu memiliki senjata api ditangannya dan tahu cara
menggunakannya. Bahkan Ray yang anak seorang anggota polisi pun tidak pernah
memegangnya apalagi menggunakannya.
“Ze, apa yang kau lakukan?”
Bisa Ray lihat jika tangan Zevanya bergetar saat memegang
pistol itu. Namun arah pistol itu masih tetap menuju pada Ray.
Ray berjalan mendekat namun dihentikan oleh Zevanya.
“Jangan mendekat! Atau kau akan mati, Ray…” suara Zevanya
mulai bergetar.
Ray tak bisa melakukan apapun saat ini. Ia hanya berdiri
mematung dengan Zevanya yang siap membidiknya dari jarak sekitar dua meter. Dan
entah kenapa pistol yang tadinya mengarah pada Ray berpindah pada Zevanya
dengan mengarah ke kepalanya.
“Ze…!!!” teriak Ray yang ingin melangkah maju namun satu
tangan Zevanya memberi tanda jika Ray tidak boleh mendekat.
“Aku mencintaimu, Ray. Sangat mencintaimu. Maaf karena aku
baru mengatakannya sekarang…” usai mengatakan isi hatinya, Zevanya memejamkan
matanya dan…
DOORRR DOOORRR!
Ray berteriak histeris melihat tubuh Zevanya yang terhuyung.
Ia ingin berlari menolong Zevanya, namun dengan cepat seseorang menarik tubuh
Ray agar menjauh dari tempat itu.
“Tidak! Zeze! Lepaskan aku! Zevanya!” teriak Ray.
“Sadar, Ray! Kau harus segera pergi dari sini. Ayo!” ucap
seorang pria yang tak lain adalah ayah Ray.
“Tidak! Zevanya!!! Jangan tinggalkan aku!”
__ADS_1
Tak lama terdengar bunyi sirine beberapa mobil polisi menuju
ke arah mereka. Satu orang petugas polisi memeriksa tubuh Zevanya yang
tergeletak di tanah. Polisi itu menggeleng yang artinya bahwa Zevanya telah
meninggal dunia dengan luka tembak di kepalanya.
Ray masih terus berteriak memanggil nama Zevanya. Namun Rein
tetap membawa pergi Ray dari tempat itu.
.
.
.
“ARRRGGGGHHHH!” Ray berteriak didalam mobil.
Ingatannya tentang kejadian hari itu tidak pernah bisa ia lupakan
meski sudah 10 tahun lalu. Masih terngiang dengan jelas saat Zevanya mengatakan
keinginannya untuk menjadi kekasih Ray.
“Ray, jika nanti aku sudah keluar dari organisasi, aku ingin
kau menjadi kekasihku. Bagaimana?”
Saat itu, Ray tidak mengerti apa maksud dari ucapan Zevanya
tentang organisasi. Namun sekarang ia telah mengerti dan tidak ingin Khay
terlibat lebih jauh dengan orang-orang itu.
Setelah dirinya mulai tenang, Ray kembali melajukan mobilnya
menuju ke apartemen.
.
.
.
.
.
Khay menundukkan wajahnya ketika Rakha mulai berjalan
medekat kearahnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Rakha akan datang ke
apartemennya hari ini.
“Sayang… kau dari mana?” Tanya Rakha.
“Eh?”
“Penampilanmu sungguh berbeda dari yang biasanya. Tapi…”
Khay masih menundukkan kepalanya. “Tapi aku menyukainya. Kau
tetap cantik meski bergaya tomboy begini.”
“Eh?” kini Khay mendongakkan kepalanya menatap Rakha. Lalu secercah
senyum terbit di bibir Khay.
Rakha membawa tubuh Khay dalam pelukannya. Tak peduli mereka
ada di tempat umum, Khay mulai terbiasa dengan sentuhan yang diberikan Rakha.
Bahkan aroma tubuh Rakha mulai menjadi candu baginya. Ia merasa lebih tenang saat
berada dipelukan kekasih kakaknya itu. Beban yang dirasanya berat, menjadi
lebih ringan saat bersama Rakha.
#bersambung…
__ADS_1