
-PT. Anak Bangsa-
Dika berjalan cepat memasuki gedung kantor dan segera menuju ruangan Rakha. Si bosnya itu sudah menghubunginya berkali-kali namun sengaja tidak ia angkat. Dika bertemu dengan Khay yang sedang duduk di meja kerjanya. Ia menyapa Khay.
"Selamat pagi, Khania." sapa Dika.
"Selamat pagi, Pak Dika. Tidak biasanya bapak terlambat." balas Khay yang melihat kecemasan di wajah Dika. Dan juga keringat yang ada di pelipis Dika. Ia tahu jika Dika pasti terburu-buru.
"Apa Rakha ada di ruangannya?"
"Iya, Pak. Sepertinya bapak sudah ditunggu." ucap Khay sopan.
Dika segera bergegas menuju ruang kerja Rakha. Meski mereka berteman baik, urusan pekerjaan tetaplah pekerjaan. Rakha tidak membeda-bedakan antara teman atau bukan.
Khay menatap aneh pada sikap Dika. "Apa terjadi sesuatu dengannya?" gumam Khay.
Khay kembali berkutat dengan pekerjaannya. Namun ingatannya tiba-tiba melayang ke beberapa jam yang lalu saat bersama dengan Ray.
.
.
*Flashback*
Khay dan Ray sedang sarapan bersama di kamar Khay. Seperti biasa agenda sarapan disiapkan bersama dan bergiliran. Kini giliran Khay yang harus menyiapkan sarapan. Tidak harus memasak sendiri. Bisa juga membeli di warung nasi dekat apartemen mereka.
Masih tidak ada percakapan diantara mereka. Mereka masih sama-sama menikmati menu sarapan mereka.
"Umm, Ray..." ucap Khay memecah keheningan.
"Iya, ada apa?"
"Sepertinya aku... Aku akan menerima tawaran dari ibu Liana."
TAK!
Ray meletakkan sendoknya ke meja. "Apa katamu?!"
"Kurasa aku harus menerima tawaran itu." ucap Khay lirih.
"Jadi kau akan menikah dengan Rakha?" tanya Ray dengan nada kesal.
"Bu-bukan begitu. Tinggal disana bukan berarti aku harus menikah dengan Rakha, 'kan?" jawab Khay gugup.
"Sudahlah. Percuma saja bicara denganmu. Hatimu memang sudah diisi oleh pria itu." Ray melenggang pergi dan tak menghabiskan sarapannya.
__ADS_1
"Ray!!!" Khay berteriak namun Ray tidak menggubris dan tetap pergi dari kamar Khay.
.
.
Khay menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak bisa fokus bekerja setelah mengingat kejadian pagi tadi.
"Khania! Rakha memanggilmu!" suara Dika membuyarkan lamunan Khay.
"Eh? Ah iya, Pak. Ada apa?"
"Rakha memanggilmu." ulang Dika.
"Oh, iya Pak." Khay segera berdiri dan berjalan menuju ruangan Rakha.
Dika menatap punggung Khay yang mulai menjauh. "Apa yang harus kulakukan? Apa aku bicara saja pada Khania? Dia pasti bersedia menolongku. Aku sangat khawatir dengan Disha. Pasti ada yang tidak beres disini. Bagaimana bisa Disha menghilang begitu saja?" batin Dika dengan tatapan sendu pada punggung Khay yang sudah menghilang dibalik pintu.
Khay memasuki ruangan Rakha dan seperti biasa ia tak melihat Rakha ada di kursi kebesarannya.
"Kemana sih dia?" gumam Khay.
"Khania! Kemarilah!" teriak Rakha dari dalam ruang rahasianya.
"Ck, mau apa sih dia?" Dengan malas Khay menuju kamar itu.
"Astaga! Bapak!!!" pekik Khay karena melihat Rakha bertelanjang dada. Ia refleks menutup matanya dengan kedua tangan dan berbalik badan.
Rakha tertawa keras dan segera memakai kemejanya. Ia mendekati Khay dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa? Bukankah kau sudah melihat semuanya, kenapa masih malu?" goda Rakha dengan sengaja menghembuskan nafasnya di tengkuk Khay.
Khay menggeleng pelan.
Rakha membalikkan tubuh Khay dan melepas kedua tangannya. "Aku sudah berpakaian, sayang. Hari ini ada meeting penting, jadi aku ingin berpenampilan istimewa. Aku memintamu datang kesini untuk memilihkan pakaian mana yang bagus untukku."
"Kenapa harus aku? Bukankah bapak biasanya juga bisa memilih sendiri?"
"Kau ini! Cepat pilihkan!" Rakha menarik tangan Khay dan membawanya ke lemari pakaian miliknya.
Khay nampak berpikir. "Orang seperti apa yang akan bapak temui?"
Rakha menjelaskan secara singkat gambaran kliennya yang akan meeting bersama dengannya. Khay mengangguk paham. Ia memilih satu stel jas dan dasi yang amat cocok untuk Rakha.
"Pakailah ini! Bapak pasti akan terlihat menakjubkan!" ucap Khay.
__ADS_1
"Apakah itu pujian?" kerling Rakha pada Khay.
"Oops!!!" Khay menutup mulutnya.
Rakha kembali tertawa karena melihat tingkah gemas sekretarisnya itu. Khay tersipu malu karena sudah berani memuji Rakha.
Rakha memakai jasnya dan juga dasinya. Ia sudah rapi sekarang.
"Sekarang aku minta vitamin darimu!" ucap Rakha.
"Vitamin?!" Khay mengerutkan dahinya.
Rakha segera meraih pinggang Khay dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Khay. Dipeluknya tubuh Khay dan dihirupnya wangi wanita pujaannya itu.
"Pak, nanti baju bapak kusut lagi." ucap Khay menunduk malu usai Rakha melepas pelukannya.
" Aku akan minta vitaminku dulu!"
Rakha meraih wajah Khay lalu mengecup bibir Khay sekilas.
"Bapak!" pekik Khay kaget.
"Maaf ya kemarin aku benar-benar lepas kendali." sesal Rakha mengingat kejadian kemarin dimana ia hampir saja melakukan hal diluar batas.
"Aku juga minta maaf karena sudah menendang bapak. Apa masih sakit?" ucap Khay ragu.
"Tidak. Sama sekali tidak."
"Umm, Pak. Ada yang harus kusampaikan pada Bapak." ucap Khay ragu.
"Soal apa?"
"Aku... bersedia untuk tinggal di rumah bapak..." lirih Khay.
"Benarkah?!" Rakha bersorak gembira.
Rakha menciumi wajah Khay dengan gemasnya. Lalu berakhir pada bibir Khay yang selanjutnya dibalas oleh Khay. Sebuah ciuman panjang namun dilakukan dengan gerakan slow motion dan tidak dipenuhi gairah seperti kemarin. Mereka menyesap rasa satu sama lain. Hingga sama-sama puas kemudian terhenti karena Rakha harus segera pergi bertemu klien.
Rasanya hari ini menjadi hari yang sangat membahagiakan untuk Rakha. Jalannya untuk bersama Khanianya akan segera terwujud.
Khay menatap punggung Rakha yang kian menjauh dari pandangannya bersama Dika. Masalah hidupnya akan bertambah rumit setelah ini. Bayangan Ray kembali hadir dalam pikirannya.
"Maafkan aku, Ray..." gumam Khay lirih.
.
__ADS_1
.
#bersambung...