RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 039


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave


Like and Comments. Thank You.


*Happy Reading*


Khay membolak-balikkan buku harian Khania dan mencari


sesuatu yang sekiranya penting. Ia melewatkan hal-hal yang menurutnya tidak


memiliki petunjuk apapun. Matanya tertuju pada sebuah kalimat yang membuatnya


amat sangat tercengang.


“Sudah satu tahun berlalu. Dan sudah hampir lewat dari tenggat waktu yang diberikan oleh


organisasi. Aku harus segera melenyapkan Rakha. Sejak awal, aku memang dipilih


untuk menjadi orang yang harus melenyapkan Rakha. Organisasi memintaku untuk


masuk kedalam yayasan dan menyamar sebagai tenaga pengajar disana. Aku sendiri


sudah kehilangan rasa dihatiku sejak masuk kedalam organisasi. Termasuk rasaku


pada Rakha.


Ya, ada sedikit cinta untuknya, dan sedikit pula rasa kasihan. Dia adalah tulang punggung


keluarganya. Ada secuil perasaan iba dihatiku. Namun itu tidaklah besar. Entah


kenapa kebersamaanku mmembuatku mulai terbuai dengan semua perlakuan manisnya


padaku. Dia amat mencintaiku. Hingga aku tetap tidak bisa melakukannya.


Bagaimana aku bisa melenyapkannya?


Aku mencoba bernegosiasi pada Prince, itu adalah julukan untuk Jonas. Semua anggota


organisasi memanggilnya Prince. Meski kelakuannya amat jauh dari seorang Prince


yang sesungguhnya. Aku bicara padanya dan mencoba membujuknya agar tidak segera


melenyapkan Rakha. Satu konsekuensi yang harus kita tanggung sebagai anggota


adalah kita tidak akan bisa keluar dari organisasi. Seorang wanita yang masuk


kedalam organisasi tidak bisa keluar. Jika kau bersikeras untuk keluar maka


taruhannya adalah nyawa.


Aku menemui Prince dan meminta perpanjangan waktu untukku. Ia menyetujuinya. Meski aku harus membayar


mahal semua keputusanku itu. Aku menyerahkan tubuhku pada Prince. Ya, aku

__ADS_1


adalah wanita bodoh. Mungkin jika ibu dan adikku tahu apa yang sudah aku


lakukan, mereka pasti akan membenciku.


Tapi lama kelamaan aku menikmatinya. Setiap sentuhan yang diberikan Prince padaku. Bahkan terkadang


dia memberiku obat perangsang. Dan aku menjadi liar dalam memainkan peranku. Lenguhan


itu terjadi setiap kali Prince memintaku melayaninya. Dan aku sudah pasrah akan


semua takdirku. Aku ingin menyelamatkan Rakha. Entah apakah itu cinta atau


bukan.”


Mata Khay memanas usai membaca halaman itu. Ia mengepalkan


tangannya kuat.


“ARRRRGGGGGHHHH!!!” teriak Khay di suasana sunyi tengah


malam.


Khay memukul-mukul dadanya. Betapa ia tidak menyangka jika


kakaknya akan menjalani kehidupan kotor semacam itu.


“Kenapa Kak? Kenapa kau melakukan hal seperti ini?” teriak


Khay berkali-kali sambil masih memukuli dadanya.


kukatakan pada ibu? Anak yang begitu ia banggakan ternyata tega menggadaikan


semuanya demi organisasi terkutuk itu!!!” Khay menangis sejadinya. Ia menjambak


rambutnya saking frustasi menghadapi kenyataan tentang Khania.


“Seharusnya aku tidak pernah menjadi dirimu, Kak. Aku malu


menjadi dirimu!!!” Khay benar-benar sudah tidak terkontrol. Hatinya begitu


sakit karena kenyataan yang ia dapat tidak sesuai dengan harapannya.


Ray yang sedang tertidur, sontak terbangun karena mendengar


suara teriakan Khay yang cukup keras karena waktu sudah menunjukkan tengah


malam.


“Khayla? Ada apa dengannya?” Ray segera bangkit dari tempat


tidur dan keluar kamarnya.


Ray menggedor pintu kamar Khay. “Khay, buka pintunya!!!”

__ADS_1


teriak Ray.


“Khay!!! Buka pintunya atau kudobrak paksa!!” teriak Ray lagi.


Dan tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan menampakkan wajah


Khay yang sembab dan rambutnya acak-acakan.


“Khay? Ada apa?” Ray membingkai wajah Khay yang tampak


kacau.


Tanpa menjawab, Khay langsung memeluk tubuh Ray dan kembali


menangis. Ray tidak pernah melihat Khay yang serapuh ini.


Setelah puas menangis, akhirnya Khay tertidur dan Ray


menemani di kamar Khay. Ia tertidur di sofa. Sebelum tidur, Ray sempat


menghubungi Rein dan memintanya agar secepatnya kembali ke Kota M.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Tapi sepertinya


Khay memberanikan diri untuk membaca buku harian Khania. Dia histeris usai


membaca isinya. Aku tidak tahu bagian mana yang ia baca. Aku sendiri juga tidak


bisa membacanya ayah. Aku juga terlalu takut.”


“Baiklah. Besok ayah


akan usahakan datang kesana. Kau tolong jaga Khay dengan baik. Dia pasti amat


syok sekarang.”


“Terima kasih, ayah. Pasti, aku pasti akan menjaga Khay.”


“Sudah tengah malam,


Nak. Sebaiknya kau juga beristirahat.”


“Iya, ayah. Baik.”


Panggilan berakhir.


Ray memandangi wajah Khay yang tampak sudah lebih tenang. ia


sudah terlelap. Ada rasa sedih dihati Ray ketika melihat Khay yang menangis terisak tadi.


“Semoga saja besok kau bisa melupakan semuanya, Khay…” harap


Ray dalam hati.

__ADS_1


#bersambung…


Next???


__ADS_2