
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Khay membolak-balikkan buku harian Khania dan mencari
sesuatu yang sekiranya penting. Ia melewatkan hal-hal yang menurutnya tidak
memiliki petunjuk apapun. Matanya tertuju pada sebuah kalimat yang membuatnya
amat sangat tercengang.
“Sudah satu tahun berlalu. Dan sudah hampir lewat dari tenggat waktu yang diberikan oleh
organisasi. Aku harus segera melenyapkan Rakha. Sejak awal, aku memang dipilih
untuk menjadi orang yang harus melenyapkan Rakha. Organisasi memintaku untuk
masuk kedalam yayasan dan menyamar sebagai tenaga pengajar disana. Aku sendiri
sudah kehilangan rasa dihatiku sejak masuk kedalam organisasi. Termasuk rasaku
pada Rakha.
Ya, ada sedikit cinta untuknya, dan sedikit pula rasa kasihan. Dia adalah tulang punggung
keluarganya. Ada secuil perasaan iba dihatiku. Namun itu tidaklah besar. Entah
kenapa kebersamaanku mmembuatku mulai terbuai dengan semua perlakuan manisnya
padaku. Dia amat mencintaiku. Hingga aku tetap tidak bisa melakukannya.
Bagaimana aku bisa melenyapkannya?
Aku mencoba bernegosiasi pada Prince, itu adalah julukan untuk Jonas. Semua anggota
organisasi memanggilnya Prince. Meski kelakuannya amat jauh dari seorang Prince
yang sesungguhnya. Aku bicara padanya dan mencoba membujuknya agar tidak segera
melenyapkan Rakha. Satu konsekuensi yang harus kita tanggung sebagai anggota
adalah kita tidak akan bisa keluar dari organisasi. Seorang wanita yang masuk
kedalam organisasi tidak bisa keluar. Jika kau bersikeras untuk keluar maka
taruhannya adalah nyawa.
Aku menemui Prince dan meminta perpanjangan waktu untukku. Ia menyetujuinya. Meski aku harus membayar
mahal semua keputusanku itu. Aku menyerahkan tubuhku pada Prince. Ya, aku
__ADS_1
adalah wanita bodoh. Mungkin jika ibu dan adikku tahu apa yang sudah aku
lakukan, mereka pasti akan membenciku.
Tapi lama kelamaan aku menikmatinya. Setiap sentuhan yang diberikan Prince padaku. Bahkan terkadang
dia memberiku obat perangsang. Dan aku menjadi liar dalam memainkan peranku. Lenguhan
itu terjadi setiap kali Prince memintaku melayaninya. Dan aku sudah pasrah akan
semua takdirku. Aku ingin menyelamatkan Rakha. Entah apakah itu cinta atau
bukan.”
Mata Khay memanas usai membaca halaman itu. Ia mengepalkan
tangannya kuat.
“ARRRRGGGGGHHHH!!!” teriak Khay di suasana sunyi tengah
malam.
Khay memukul-mukul dadanya. Betapa ia tidak menyangka jika
kakaknya akan menjalani kehidupan kotor semacam itu.
“Kenapa Kak? Kenapa kau melakukan hal seperti ini?” teriak
Khay berkali-kali sambil masih memukuli dadanya.
kukatakan pada ibu? Anak yang begitu ia banggakan ternyata tega menggadaikan
semuanya demi organisasi terkutuk itu!!!” Khay menangis sejadinya. Ia menjambak
rambutnya saking frustasi menghadapi kenyataan tentang Khania.
“Seharusnya aku tidak pernah menjadi dirimu, Kak. Aku malu
menjadi dirimu!!!” Khay benar-benar sudah tidak terkontrol. Hatinya begitu
sakit karena kenyataan yang ia dapat tidak sesuai dengan harapannya.
Ray yang sedang tertidur, sontak terbangun karena mendengar
suara teriakan Khay yang cukup keras karena waktu sudah menunjukkan tengah
malam.
“Khayla? Ada apa dengannya?” Ray segera bangkit dari tempat
tidur dan keluar kamarnya.
Ray menggedor pintu kamar Khay. “Khay, buka pintunya!!!”
__ADS_1
teriak Ray.
“Khay!!! Buka pintunya atau kudobrak paksa!!” teriak Ray lagi.
Dan tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan menampakkan wajah
Khay yang sembab dan rambutnya acak-acakan.
“Khay? Ada apa?” Ray membingkai wajah Khay yang tampak
kacau.
Tanpa menjawab, Khay langsung memeluk tubuh Ray dan kembali
menangis. Ray tidak pernah melihat Khay yang serapuh ini.
Setelah puas menangis, akhirnya Khay tertidur dan Ray
menemani di kamar Khay. Ia tertidur di sofa. Sebelum tidur, Ray sempat
menghubungi Rein dan memintanya agar secepatnya kembali ke Kota M.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Tapi sepertinya
Khay memberanikan diri untuk membaca buku harian Khania. Dia histeris usai
membaca isinya. Aku tidak tahu bagian mana yang ia baca. Aku sendiri juga tidak
bisa membacanya ayah. Aku juga terlalu takut.”
“Baiklah. Besok ayah
akan usahakan datang kesana. Kau tolong jaga Khay dengan baik. Dia pasti amat
syok sekarang.”
“Terima kasih, ayah. Pasti, aku pasti akan menjaga Khay.”
“Sudah tengah malam,
Nak. Sebaiknya kau juga beristirahat.”
“Iya, ayah. Baik.”
Panggilan berakhir.
Ray memandangi wajah Khay yang tampak sudah lebih tenang. ia
sudah terlelap. Ada rasa sedih dihati Ray ketika melihat Khay yang menangis terisak tadi.
“Semoga saja besok kau bisa melupakan semuanya, Khay…” harap
Ray dalam hati.
__ADS_1
#bersambung…
Next???