
Khay berjalan pelan memasuki rumah keluarga Rakha. Ia masuk dengan wajah yang tidak bersemangat. Liana menyambut kedatangan menantunya itu.
"Sayang, kau sudah pulang?"
"Iya, Bu."
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Liana karena melihat wajah sendu menantunya itu.
"Tidak ada, Bu." jawab Khay datar.
Meski Liana tahu ada yang terjadi dengan Khay, namun ia tidak bertanya lebih banyak.
"Baiklah. Sekarang bersihkan dirimu dulu lalu ikut memasak bersama Ibu."
Khay mengangguk lalu meningglakan Liana dan naik ke kamarnya di lantai dua. Khay berjalan masih dengan menundukkan wajahnya.
"Hai, kakak ipar..."
Sebuah suara membuat Khay mendongak melihat siapa yang menyapanya.
"Niya?"
"Maaf ya, aku sangat sibuk setelah pernikahan kalian. Jadi, aku baru sempat memberikan ini untukmu."
Niya memberi Khay sebuah kotak.
"Itu adalah gaun rancanganku. Edisi terbatas. Bukankah kakak ipar hanya memakai baju edisi terbatas?"
"Eh? Terima kasih."
"Semoga kau suka kakak ipar..."
Khay tahu dibalik senyuman manis Niya, tersimpan sesuatu yang tidak biasa.
Khay menuju kamar Rakha. Kamar yang kini juga adalah miliknya.
Khay menutup pintu kamar. Lalu duduk di tepi ranjang. Ia segera membuka kotak pemberian Niya. Sebuah gaun indah berwarna putih tulang.
Khay mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia memindai seluruh bagian gaun pemberian Niya.
PIP PIP PIP
__ADS_1
Terdengar suara dari alat pemindai yang dipegang oleh Khay. Sebelum berpisah dengan Ken, Ken memberikan sebuah alat pemindai untuk mendeteksi adanya alat penyadap yang bisa saja menempel di baju.
Khay menghela nafasnya. Ia mencoba mencari dimana alat penyadap itu berada. Tapi tiba-tiba ia terhenti.
"Tidak! Jika aku mengambil alat sadap dari gaun ini. Mereka akan sadar jika aku mengetahui rencana mereka. Dan akan membuktikan jika aku bukanlah Khania yang asli." gumam Khay dalam hati.
"Jadi memang benar jika Niya adalah bagian dari organisasi hitam. Tapi kenapa? Dan apa tujuannya? Atau jangan-jangan... Karena gadis ini makanya kakakku di lenyapkan?" Khay menggeleng pelan.
Khay segera memindai seluruh ruangan kamar Rakha. Khay tercengang karena kamar Rakha sudah disadap.
"Tidak! Apa yang sebenarnya diinginkan gadis ini? Apa jangan-jangan semua kamar di rumah ini sudah disadap olehnya? Lalu kamar ibu Liana?"
Khay berjalan mondar mandir memikirkan semua kekacauan ini.
"Bagaimana aku harus bicara dengan Ibu jika semua ruangan disini di penuhi penyadap?"
Khay memegangi kepalanya. Ia harus mendinginkan otaknya. Ia menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Ia harus bicara dengan Ibu Liana.
Usai membersihkan diri, Khay turun ke dapur dan membantu Liana menyiapkan makan malam. Khay tersenyum menyapa Liana.
Khay ingin sekali mencari tahu tentang kamar Liana. Namun ia tidak mau Liana curiga jika memang kamarnya sudah disadap. Mereka memasak bersama dengan kompak.
Makan malampun tiba, anggota keluarga hadir di meja makan.
"Yeah, sepertinya ini sangat enak. Terima kasih banyak ya kakak ipar." sahut Rich.
Mereka semua tertawa renyah karena akhirnya bisa berkumpul bersama di meja makan. Khay nampak memperhatikan gerak gerik Niya saat menyantap makanannya. Terlihat tidak ada yang aneh dengan sikap gadis yang duduk berhadapan dengan Khay.
Ketika makan malam hampir usai, Niya mendekati Rakha dan memeluk leher Rakha dengan posesif. Ia juga menghujani Rakha dengan ciuman di pipinya.
"Ada apa? Kau manja begini pasti ada maunya, hmm?"
"Kakak... Apa aku boleh minta sesuatu?" ucap Niya dengan suara manjanya.
"Apa?"
"Apa kakak janji akan mengabulkannya?"
"Tentu saja. Bukankah selama ini kakak selalu menepati janji."
Niya nampak membisikkan sesuatu di telinga Rakha. Kedekatan kakak dan adik ini membuat Khay yang duduk disamping Rakha menjadi risih. Ia membuang wajahnya tak mau melihat interaksi antara Rakha dan Niya.
__ADS_1
Di kamar, Khay tampak terus memalingkan wajahnya dan tak ingin bertatap muka dengan Rakha.
"Sayang... Apa kau cemburu?"
Khay mendelik. "Cemburu? Tidak! Siapa yang cemburu?"
"Sayang, jangan marah. Kau tahu 'kan jika Niya memang amat manja denganku. Dia selalu merajuk padaku." Rakha memeluk Khay dari belakang. Ia mulai mengecupi leher jenjang Khay.
"Rakha!" pekik Khay ketika tangan Rakha mulai bergerilya.
"Sayang... Bisakah kita?"
"Apa?" Khay mengerutkan dahi.
Tanpa meminta ijin lagi, Rakha menyambar bibir Khay dan menyesapnya pelan. Khay pun membalasnya dengan sama pelan.
Khay sengaja menciptakan suara-suara agar bisa didengar di alat penyadap yang ada di kamar Rakha. Khay ingin tahu seperti apa reaksi Niya ketika mengetahui kakak tersayangnya bermain di ranjang bersama Khay.
Rakha membawa Khay keatas tempat tidur. Mereka masih saling berbagi rasa. Khay mendesah agak keras agar bisa di dengar oleh orang di seberang sana.
Dan benar saja, seseorang yang sedang memakai headset di telinganya terlihat mengepalkan tangan.
"Brengsek!!!" umpatnya dengan kesal.
"Berani sekali dia merebut Rakhaku! Tidak bisa dibiarkan!"
Orang yang tak lain adalah Niya kembali mendengarkan apa yang sedang dilakukan oleh kakak dan kakak iparnya. Ia tersenyum menyeringai karena ternyata mereka telah menghentikan aktifitas mereka. Khay beralasan jika dirinya saat ini tengah didatangi tamu bulanan. Sehingga aktifitas mereka hanya sebatas saling mencecap saja.
Niya tersenyum girang karena kakaknya tidak sampai melakukan hubungan intim bersama Khay.
"Kali ini mereka mungkin tidak jadi melakukannya. Tapi bagaimana jika lain kali..."
Niya menggeleng kencang. "Aku tidak bisa membiarkan ini! Apakah aku harus melenyapkannya lagi untuk kedua kalinya?"
Seringai Niya dengan tangan terkepal.
.
.
#bersambung...
__ADS_1
*waduh waduh, musuh yg sebenarnya akan mulai terkuak ya gaess. Yuk tebak2 kira2 apa yg akan terjadi selanjutnya? 😬😬