RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 092


__ADS_3

"Baiklah. Aku mengakui semuanya..."


Alan berucap dengan lantang dan percaya diri. Tak nampak raut penyesalan di wajahnya. Para penyidik yang menanyainya hanya bisa diam mendengar semua pengakuan Alan. Dia benar-benar mengakui semua kejahatannya dan sudah siap dihukum, sama seperti putrinya.


Usai pengakuan Alan yang membuat semua orang tercengang, bahkan dunia bisnis ikut terguncang dengan kabar di tangkapnya Alan. Tajuk berita di televisi banyak menyorot tentang Alan dan bisnisnya. Namun seperti biasa, semua pengakuan Alan tanpa di sertai embel embel organisasi hitam persis seperti pengakuan Niya.


"Aku tahu kalian para polisi tidak akan bisa mengusut tentang organisasi hitam. Jadi, bukankah lebih baik aku tidak perlu membahasnya." begitulah jawaban Alan untuk membungkam pihak kepolisian.


Danial hanya diam mendengar ucapan Alan. Karena itu memang benar. Hanya ISS yang bisa mengusut tuntas tentang organisasi hitam.


.


.


Dika tergesa gesa memasuki ruangan Rakha. Ia ingin memberitahu kabar tertangkapnya Alan.


"Bos!" Dika memasuki ruang kerja Rakha tanpa mengetuk pintu.


"Ada apa? Kenapa kau berlarian?"


"Lihat ini!" Dika menyambar remote televisi dan menyalakannya.


Rakha sangat terkejut dengan berita yang ia dengar. Ia tak percaya jika lelaki yang sudah ia anggap seperti ayah baginya, ternyata menyimpan rahasia sebesar itu dalam hidupnya.


Alan mengakui jika dialah yang sudah membunuh ayah Rakha sepuluh tahun lalu. Dan juga menukar bayi Niya dengan Disha. Bahkan berniat menjodohkan Rakha dengan adik kandungnya sendiri untuk membalas dendam.


Rakha mengepalkan tangan tidak percaya. Seperti halnya yang terjadi saat kematian Rich, kini para pemburu berita telah mengantri untuk mendapat klarifikasi dari pihak Rakha.


Malam itu, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk membicarakan masalah tertangkapnya Alan. Disha hanya bisa menunduk. Ia merasa bersalah meski pria itu bukan ayah kandungnya. Tapi selama ini Alan sudah menjadi ayah baginya dan memanjakannya.


Liana dan Khay juga hanya terdiam. Mereka tidak bisa fokus mendengar kalimat kalimat Dika bersama sang pengacara, bernama Daniel. Bisnis Rakha terhubung dengan Alan, jadi ketika Alan tertangkap, Rakha harus siap merugi karena pastinya perusahaannya akan sedikit menurun. Tidak bisa dikatakan bangkrut karena Rakha juga memiliki harta yang cukup untuk menutup semua kerugian yang terjadi.


Di sela sela perbincangan Dika dan Daniel, Rakha menatap Khay yang hanya diam. Memang istrinya itu tidak ada hubungannya dengan bisnis, tapi kenapa raut wajahnya seakan menyimpan beban?


Rakha seakan ingin menanyakan banyak hal pada wanita itu. Tapi entah kenapa rasanya sulit. Pikirannya sedang tidak sinkron, dan dia akan membicarakan hal ini lain kali saja.

__ADS_1


.


.


.


Rakha memijat pelipisnya pelan saat memikirkan wajah Khay. Wanita yang ia duga adalah kembaran Khania, seperti menyembunyikan sesuatu.


Bayangan senyum Khay yang tulus dan sorot matanya yang penuh dengan cinta, sebenarnya tidak jadi masalah, apakah Rakha menikahi Khania atau Khayla. Tapi tetap saja Rakha ingin kejujuran dalam hubungan mereka. Toh mereka sama sama saling suka saat melakukan hubungan intim.


"Bos!!!"


Dika kembali masuk meski tanpa ijin Rakha. Karena sebenarnya ia sudah mengetuk berulang kali namun Rakha tak menyahuti.


"Dika... Bagaimana jika orang yang kau kenal, ternyata bukanlah orang yang kau kenal?" pertanyaan aneh Rakha membuat Dika menautkan alisnya.


"Apa maksud Bos?"


"Kau tahu, Khania bukanlah Khania."


"Dia bukanlah Khania, Dik. Dia adalah orang lain."


"Apa Bos yakin?"


"Iya, tentu saja. Dia bukanlah Khania karena aku sudah menyelidikinya. Dia adalah saudara kembar Khania."


Dika hanya diam mendengar cerita Rakha.


"Apa maksud dari semua ini, Dik? Kenapa dia menyamar menjadi Khania? Lalu, dimana Khania yang asli? Apa mungkin Khania yang meminta kembarannya untuk menyamar?"


"Sebaiknya Bos bicarakan baik-baik semua masalah ini. Bukankah kalian sudah menikah."


"Tapi aku menikahi Khania, Dik. Bukan Khayla. Aku harus bagaimana?" Rakha mengusap wajahnya kasar.


Dika hanya bisa menghela nafas. Ia tahu bukan ranahnya untuk ikut campur urusan hati tuannya itu.

__ADS_1


.


.


.


Khay mendapat pesan dari Ken yang memintanya datang ke rumah sakit pusat Kota M. Sebenarnya Khay memang bertanya-tanya untuk apa Ken memintanya datang ke rumah sakit. Tapi hati kecilnya berkata, jika Ken ingin mengatakan sesuatu kepadanya.


"Ruang VIP nomor 5." gumam Khay saat langkah kakinya hampir tiba di ruangan yang Ken maksud.


Khay melihat Ken duduk di kursi tunggu depan kamar.


"Ken?" sapa Khay.


Ken mendongakkan kepalanya dan tersenyum melihat kedatangan Khay.


"Ada apa? Siapa yang sakit?" tanya Khay masih belum mengerti dengan yang terjadi.


"Maaf sudah membuatmu datang kemari. Masuklah! Kau akan tahu jawabannya." balas Ken datar.


Khay melangkahkan kakinya memasuki kamar itu. Dilihatnya seorang wanita terbaring koma disana.


"HAH?!"


Mata Khay membulat sempurna melihat siapa yang ada didepannya ini. Lututnya seakan tak kuasa lagi menahan bobot tubuhnya.


"Kakak...!!!" pekiknya dengan air mata yang berderai.


...***...


#bersambung,,,


Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak 😊😊


Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


__ADS_2