RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 083


__ADS_3

Rakha sudah berada di ruang perawatan setelah tadi diperiksa oleh dokter. Matanya masih terpejam dan belum sadarkan diri akibat suntikan obat bius yang dilakukan oleh Niya.


Khay duduk disamping ranjang Rakha dan memandangi wajah suaminya itu. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka setelah Rakha bangun nanti.


Khay merasa hina jika harus menggunakan nama Khania lagi. Sepertinya ia terhasut dengan kata-kata Niya tadi. Meski sulit dipercaya, tapi apa yang dikatakan Niya adalah benar. Kakaknya memang sudah menjadi wanita kotor dengan terus melayani ***** bejat Jonas.


Malam pun semakin larut. Khay akhirnya tertidur di samping ranjang Rakha. Tubuh dan hatinya terasa lelah setelah seharian ini tenaganya terkuras habis.


Keesokan paginya, Liana datang ke kamar Rakha dan mengusap pelan lengan Khay. Khay yang merasakan sentuhan akhirnya terbangun dari tidurnya.


Khay mengerjapkan matanya. "Ibu?" Khay menatap Liana.


Liana tersenyum. "Semalaman kau tertidur dengan posisi begini? Sayang, harusnya kau tidur di sofa saja."


"Tidak apa, Bu. Aku baik-baik saja."


"Sebaiknya bersihkan dirimu dulu lalu kita sarapan bersama."


"Iya, Bu."


Khay segera beranjak dan pergi ke kamar mandi. Setelah merasa tubuhnya kembali segar, Khay duduk bersama Liana di sofa.


"Terima kasih karena sudah menjaga Rakha." ucap Liana.


"Ibu, sudah menjadi tugasku untuk menemani Rakha. Dia adalah suamiku."


"Iya, Nak. Kau memang anak yang baik. Maaf ya, dulu ibu sempat meragukanmu."


"Tidak apa, Bu. Aku mengerti. Mengingat apa yang dilakukan kakakku, pasti orang-orang berpikir jika aku sama seperti kakakku. Oh ya, bagaimana keadaan Niya? Semalam aku terpaksa menembaknya karena agar dia tidak bisa kabur lagi. Dia harus menanggung akibat dari perbuatannya."

__ADS_1


"Niya sudah di bawa pihak kepolisian. Kondisinya juga sudah membaik."


"Ibu..." Khay menggenggam tangan Liana. "Ini pasti berat untuk Ibu dan Rakha."


"Iya, nak. Terima kasih karena kami memilikimu." Liana memeluk Khay. Khay membalas pelukan Liana seakan memberi kekuatan pada ibu mertuanya itu.


Tak lama setelah mereka selesai sarapan, Rein dan beberapa orang dari kepolisian datang ke kamar Rakha. Hingga saat ini Rakha masih belum sadarkan diri.


"Nona Khania, silahkan ikut kami untuk memberikan keterangan terkait kejadian kemarin malam." ucap Danial.


Khay mengangguk lalu berpamitan dengan Liana. Khay pergi bersama Rein dan Danial. Rein sengaja tetap mendampingi Khay karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Sesampainya di kantor pusat kepolisian Kota M, Khay di tempatkan di ruangan khusus investigasi yang kedap suara namun memiliki kamera pengawas dan pengeras suara. Khay berusaha tetap tenang meski hatinya amat gugup.


Khay duduk berhadapan dengan Danial, kepala polisi di Kota M. Danial menatap Khay dengan tatapan yang aneh.


Khay menjawab dengan detil dan datar pertanyaan yang diajukan Danial.


"Aku punya bukti rekaman percakapanku dengan Niya kemarin. Disana Niya mengakui perbuatannya yang telah melenyapkan Rich. Dan juga pengakuan jika Niya bukanlah anak kandung keluarga Wicaksana." Khay menyerahkan alat rekamnya kepada Danial.


Danial segera menyerahkan alat rekam itu ke anak buahnya dan memutarkannya di ruang itu. Khay tahu ini mungkin bukan hal yang bagus, karena di akhir rekaman ia mengakui sesuatu.


"Baiklah, Nona. Terima kasih atas buktinya. Ini merupakan bukti yang cukup kuat untuk menjerat Nona Niya. Lalu..." Danial menjeda kalimatnya.


Rein yang memperhatikan dari luar ruangan mulai cemas. Ia tidak tahu jika Khay mengakui sesuatu di rekaman itu.


"Lalu... Bagaimana dengan pernyataan terakhir anda, Nona? Anda bilang jika anda bukanlah Khania. Jadi, siapa anda sebenarnya? Menurut catatan medis, Nona Khania Anjani sudah dinyatakan meninggal dunia sekitar satu tahun yang lalu. Apa maksud dari semua ini, Nona?" Danial menatap tajam kearah Khay.


Khay menggenggam tangannya erat.

__ADS_1


Apa memang sudah saatnya semua ini terbongkar?


Batin Khay terus bermonolog. Ia ingin mengeluarkan jawaban tapi ia ragu.


Sementara Rein mondar mandir di depan ruang investigasi dengan memegangi dagunya dan sesekali mengusap wajahnya.


Aku tidak tahu jika Khay akan berkata seperti itu sebelum menembak Ghaniya. Ya Tuhan, selamatkan Khayla.


Rein benar-benar sudah tidak tahan dan ingin masuk ke ruang itu dan menginterupsi semuanya. Ia bersiap menerobos masuk namun anak buah Danial menghalanginya.


"Tolong jangan mengacaukan jalannya investigasi, Tuan Rein." ucap seorang penyidik kepolisian yang menghalangi Rein.


Khay yang sempat tertunduk kini menengadahkan wajahnya dan menatap Danial. Ia yakin jika polisi di depannya tidak akan bertindak gegabah dengan menanyainya begini. Meski ada sedikit rasa takut, namun sesegera mungkin Khay menepisnya. Ia tak boleh terlihat takut dan bersalah. Ia yakin jika dirinya tidak akan dianggap bersalah.


"Iya, aku bukanlah Khania..."


Jawab Khay lantang yang membuat Danial membulatkan mata. Terlebih lagi Rein yang merasa jika sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.


...***...


...***...


#BERSAMBUNG dulu ya shay...


*Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Semoga masih setia sampai cerita ini selesai yaak 😊😊


Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


...TERIMA KASIH ...

__ADS_1


__ADS_2