RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 054


__ADS_3

Ken sedang sibuk di meja kerja dengan mengotak atik notebooknya. Sesekali ia menyesap rokok dan juga kopinya agar bisa fokus. Dahinya berkerut kala mendapatkan informasi yang menurutnya diluar ekspektasinya.


"Jika firasatku benar, maka... Gadis itu berhubungan dengan organisasi hitam..." gumam Ken.


Ken mengusap wajahnya kasar. Ia terus menatap layar notebooknya dan sesekali menghubungi orang kepercayaannya. Ia tidak bisa menyerah sekarang. Meski raganya amat lelah. Sejak semalam ia pulang, ia tidak lepas dari layar datar itu.


James menghampiri Ken. Ia tak tega melihat juniornya itu begitu sibuk karena obsesinya menangkap Jonas.


"Nak, makanlah dulu. Ini paman bawakan makanan untukmu. Makanlah!" ucap James.


"Sebentar lagi, Paman. Sepertinya aku mendapatkan informasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya." Ken tersenyum seringai menatap James.


"Aku tahu aku tidak akan bisa menghentikanmu. Baiklah, Paman permisi. Jangan lupa dimakan ya!" James undur diri dengan menekan tombol pada kursi rodanya.


"Ini adalah sesuatu yang menarik. Dia pasti akan sangat terkejut jika tahu putrinya menjalin kasih dengan Jonas. Ckckck, dunia ini memang penuh dengan tipu muslihat. Kalian semua, bersiaplah! Kejutan yang manis akan kalian dapatkan." gumam Ken dengan tangan terkepal.


.


.


-PT. Anak Bangsa-


Rakha terburu-buru memasuki gedung kantor dan mencari keberadaan Dika yang ternyata sudah menunggunya di lobi kantor.


"Bos! Astaga! Bos kemana saja? Bukankah sudah kubilang kita ada rapat pukul sebelas siang. Bos malah menghilang. Panggilan dariku pun sama sekali tidak kau angkat! Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Bukannya tadi kau menjemput Khania dari rumah sakit?" Dika berujar panjang lebar.


"Sudahlah, aku sedang tidak bisa mendengar ceramahmu. Cepat siapkan baju ganti untukku!"


Mereka berdua menaiki lift menuju ruangan Rakha. Sesampainya di ruang kerja Rakha, ia menuju kamar rahasianya dan mengganti baju yang sudah terlihat kusut karena ulahnya dan juga Khay tadi.


"Sebenarnya apa yang terjadi hingga bos lama mengangkat panggilan dariku?" Dika masih penasaran dengan alasan Rakha.


Rakha sudah kembali memakai kemejanya. Ia menatap Dika sejenak. Kemudian ia menepuk pelan bahu Dika.

__ADS_1


"Untung saja kau meneleponku berulang kali, Dik. Jika tidak ... "


Rakha menggantung kalimatnya. Dika mengerutkan dahi menunggu lanjutan kalimat Rakha.


"Jika tidak aku dan Khania ... Pastinya sudah melakukan kesalahan. Kami hampir saja melakukan hal itu ... "


Dika menutup mulutnya. "Astaga, bos! Kau kehilangan kendali?" Dika geleng-geleng kepala.


"Iya, aku tahu. Aku tidak bisa menahan diri. Kami sudah dibutakan oleh gairah ... " sesal Rakha.


"Lalu, apa yang membuat kalian akhirnya berhenti?"


"Salah satunya adalah panggilan telepon darimu. Tapi yang satunya lagi adalah ... Khania menendang dadaku dengan keras hingga aku terjungkal dari tempat tidur." jawab Rakha malu.


Dika tertawa amat keras. "Bos, bos! Makanya jangan kebablasan. Itulah akibatnya jika bos tidak hati-hati."


"Iya, padahal dia sudah mengatakan jika semua ini tidak benar. Tapi aku merasa tidak bisa berhenti di tengah-tengah." Rakha menyesali perbuatannya. Entah menyesal sudah hampir melakukan hal itu dengan Khay, atau menyesal karena juniornya yang dibawah tak jadi menemukan sarangnya.


"Ya sudah. Sebaiknya kalian segera menikah saja. Itu akan lebih aman jika kalian akan berbuat sesuka hati." Nasehat Dika sebelum akhirnya keluar dari kamar rahasia Rakha.


.


.


"Haduh... Bagaimana jika Rakha curiga? Aku juga harus meminta maaf padanya. Aku sudah menendangnya dengan keras. Sungguh aku tidak bermaksud begitu..." gumam Khay yang kini sedang mondar mandir tidak jelas.


Suara ketukan pintu kamar membuatnya berjingkat kaget. Ia pun segera membuka pintu. Tampak sosok Ray berdiri di depan pintu.


Khay segera memeluk Ray. Ray nampak terkejut karena mendapat pelukan tiba-tiba dari Khay.


"Ada apa, Khay?" tanya Ray mengusap punggung Khay.


Ray masuk kedalam kamar lalu duduk di sofa. Khay menceritakan kegundahannya pada Ray. Hanya Ray satu-satunya orang yang mengerti dirinya.

__ADS_1


"Jadi, kau bingung apakah harus menuruti keinginan Bibi Liana atau tidak?" Ray bertanya seolah-olah ia tidak mengetahui apapun. Meski sesungguhnya ia sudah mendengar semuanya semalam.


"Apa aku harus melangkah sejauh ini, Ray? Menikah? Aku tidak pernah membayangkan akan menikah dengan cara begini. Aku seakan menipu Rakha."


Ray tidak tahu harus menanggapi apa semua curahan hati Khay. "Khay, tanyakan saja pada hatimu. Apa kau mencintai Rakha?"


"Eh?"


"Sebagai sahabatmu, aku akan selalu mendukungmu."


"Ray..."


"Dengar, kau ingat saat terakhir kita mengejar penjahat di Kota D? Kita menangkap pembunuh berantai dan kau terluka terkena sabetan benta tajam darinya." ujar Ray. (see chapter 13)


Khay mengerutkan dahi tidak mengerti kemana arah pembicaraan Ray.


"Iya, aku ingat. Itu adalah sebelum kita memutuskan untuk pindah ke kota ini." jawab Khay.


"Malam itu, ayah memberitahuku semuanya. Orang yang kita tangkap saat itu adalah anggota Black Jack."


Khay nampak memperhatikan Ray dengan serius.


"Ayah memintaku untuk menjagamu dan ikut denganmu pindah kemari. Sebenarnya saat itu... Aku sudah tahu tentang Khania dan organisasi hitam. Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena aku merasa kau tidak akan percaya padaku. Kau akan lebih mempercayai Khania. Dan alasanku menjadi seorang detektif adalah... Karena aku sangat ingin menangkap orang-orang yang sudah membuat Zevanya bunuh diri. Tujuan kita sama, Khay. Kita ingin menangkap dalang dari semua kesakitan yang kita alami selama ini. Kau kehilangan Khania. Dan aku kehilangan Zevanya." tutup Ray dengan menerawang jauh.


Khay menatap iba pada sahabatnya itu. Ia tahu jika luka di hati Ray amatlah dalam. Kenangan masa lalu yang selalu menghantui. Khay kembali memeluk Ray. Sebuah pelukan hangat sebagai sahabat.


"Jika dengan cara itu bisa segera menangkap mereka, maka lakukanlah Khay. Menikahlah dengan Rakha..." ucap Ray sambil memejamkan matanya dan makin memeluk erat Khay.


.


.


#bersambung...

__ADS_1


*khilapnya Khay sama Rakha dipending dulu ya ๐Ÿ˜‰


jangan lupa tinggalkan jejak kesayangan mamak ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2