
PIP PIP PIP PIP PIP
Suara alat-alat medis yang terpasang di tubuh pasien di salah satu ruang ICU berbunyi bersahutan. Seorang perawat sedang memeriksa keadaan pasien yang telah koma sejak setahun lalu.
Perawat itu merasakan ada sesuatu yang terjadi pada pasien itu.
"Eh? Apa itu? Apa dia menangis?" gumam perawat itu sambil mengernyitkan dahi. Ia mengambil selembar tisu dan menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata pasien.
"Menurut para perawat yang lain, pasien ini sudah koma sejak setahun lalu. Apa mungkin dia..."
Perawat itu menutup mulutnya kala melihat pergerakan jari-jari tangan pasien tersebut.
"Hah?! Tidak mungkin. Aku harus segera memanggil dokter." Perawat itu berlari keluar dan memanggil dokter jaga.
Seorang dokter tak lama datang memeriksa organ-organ vital pasien. Dan dokter itu makin terkejut karena ternyata pasien itu sudah membuka matanya namun tak memberikan respon apapun.
"Nona... Hai nona... Apa kau bisa mendengarku?" Dokter itu memeriksa kedua mata pasien wanita itu. Namun tetap belum ada respon.
"Cepat hubungi wali pasien ini." perintah sang dokter pada perawat.
"Baik, dokter."
.
.
.
DRRRTTT DRRRTTTT DRRRRTT
Ponsel Ken terus bergetar di atas nakas. Ia masih terlelap dan tidak mendengar bunyi getar dari ponselnya. Hingga berkali-kali ponselnya terus bergetar, dan akhirnya membuat Ken terbangun.
"Siapa yang menghubungi tengah malam begini?" gumam Ken dengan malas namun tetap mengambil ponselnya.
Ken membulatkan mata. "Hah?! Ini 'kan dari rumah sakit?"
Ken segera mengangkat panggilan itu.
"Halo..."
"............"
"Hah?! Benarkah?!"
"..........."
__ADS_1
"Iya, baiklah. Aku akan kesana sekarang!"
Panggilan berakhir. Ken menghela nafasnya. Ia memakai kacamatanya kemudian meraih jaket dan kunci mobilnya. Tak lupa ia mengganti celana boxernya dengan celana jeans andalannya. Ia segera keluar dari kamar.
Aku akan menghubungi Bibi Liana setelah nanti tiba di rumah sakit. Dan Khay...
Ken sempat terhenti di depan kamar Khay dan Rakha.
Maaf, Khay. Aku akan memberitahumu nanti jika waktunya sudah tepat.
Ken kembali melangkahkan kakinya dan menuju mobilnya di garasi rumah Rakha. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena jalanan tengah malam sangat lengang.
.
.
Pagi harinya, Khay bangun dan tak mendapati Rakha ada disampingnya. Karena semalam ia amat lelah, makanya ia sampai terlambat bangun. Khay segera membersihkan diri dan merias wajahnya tipis. Rambut panjangnya yang basah sengaja ia gerai untuk membuat seseorang cemburu.
Khay tersenyum menyeringai ketika keluar dari kamar. Khay berjalan dengan anggun dan melewati kamar Niya yang ternyata pintunya terbuka.
Khay penasaran lalu ia pun masuk kesana.
"Ada apa ini?" tanya Khay yang melihat beberapa asisten sedang membereskan barang-barang di kamar Niya. Ada beberapa barang pecah berserakan.
"Umm, begini Nona. Semalam... sepertinya Nona Niya mengamuk lagi." tutur salah seorang asisten pada Khay dengan menunduk.
"Iya, Nona. Nona Niya terbiasa memecahkan barang-barang jika sedang tidak terkontrol. Dia juag sering berteriak tidak jelas jika ada hal yang tidak sesuai keinginannya." tutur asisten yang lain.
Astaga!!! Gadis manja itu benar-benar ya!
Khay segera keluar dari kamar Niya dan menuju lantai bawah. Sudah bisa ditebak jika Niya pasti mendengar aktifitas Khay dan Rakha semalam.
Aku tidak bisa membiarkan gadis itu bertindak lebih jauh lagi. Dia sudah membunuh Rich dan sekarang mengincar Rakha.
Khay yang tadinya berjalan anggun, kini mengangkat dress panjangnya agar bisa melangkah lebih cepat. Khay mendengar suara canda tawa dari arah ruang makan. Ia segera menuju kesana.
Dan benar saja, dilihatnya Niya sedang merangkul leher Rakha mesra sambil mengecupi pipi Rakha. Khay mengepalkan tangannya. Rasanya ia ingin menarik rambut gadis manja itu dan melempar tubuhnya jauh-jauh dari Rakha.
Khay berusaha mengatur nafasnya agar tidak terlalu jelas jika sekarang ia tengah cemburu.
"Selamat pagi semuanya..." sapa Khay dengan suara lembut dan senyum merekah.
"Selamat pagi, sayang..." balas Rakha dan berusaha melepas tangan Niya dari lehernya.
"Selamat pagi kakak ipar..." Sapa Niya yang akhirnya berjalan memutar dan duduk di depan Khay.
__ADS_1
Sementara Liana masih sibuk menyiapkan makanan diatas meja makan.
"Selamat pagi, sayang. Apa tidurmu nyenyak?" tanya Liana.
"Hmm, sebenarnya tidak terlalu nyenyak ibu. Karena ada nyamuk yang mengganggu." tutur Khay dengan menatap Niya.
Rakha tersedak saat sedang meminum jusnya.
"Sayang, pelan-pelan saja." Khay mengelap tumpahan jus di bibir Rakha dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Aku tidak apa, sayang..." balas Rakha dengan mengelus pipi Khay.
Di depan mereka, Niya sedang mengontrol emosinya. Ia mengepalkan tangan untuk menetralkan kekesalannya.
"Kakak, kapan kita akan liburan ke Eropa?" tanya Niya dengan suara manjanya.
"Kakak akan siapkan tiketnya. Maaf ya, akhir-akhir ini kakak sibuk mengurus para wartawan yang terus menerus datang ke kantor."
"Nak, bukankah sebaiknya kau tunda dulu liburanmu. Keluarga kita baru saja ditimpa musibah. Tidak mungkin kau langsung bepergian seperti itu." lerai Liana.
Niya terlihat cemberut. Khay tersenyum miris dalam hati.
Kau bukan bagian dari keluarga ini. Jadi kau dengan santainya ingin berlibur disaat tanah makam Rich belum kering. Kau memang gadis jahat! Kau lihat saja. Aku akan membalas semua perbuatanmu pada keluarga ini dan juga kakakku.
"Oh ya, ibu, dimana keponakan ibu? Apa dia masih tidur?"
"Eh?"
Khay terkejut.
"Oh, Ken tadi menghubungi ibu katanya ada urusan pagi ini. Jadi dia tidak sempat sarapan bersama kita." jawab Liana.
Khay menatap Niya dengan tajam.
Awas saja jika kau juga ingin menyakiti Ken. Kupastikan kau tidak akan hidup dengan tenang.
.
.
#bersambung...
*Is there anything that you wanna say? 😬😬
Dont forget to leave Like, Comments, Vote n Gift.
__ADS_1
Thank U kesayangan💟💟