
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Rakha mendapat pesan dari Khania jika hari ini ia tidak bisa
masuk kerja. Ada hal penting yang harus ia lakukan. Rakha pun mengerti. Ia juga
memiliki hal lain untuk dilakukan. Ia sedang menyusun rencana untuk bicara
dengan Alan Thariq. Rekan bisnis mendiang ayahnya yang kini menjadi rekan
bisnisnya.
Rakha tetap menjalani kegiatannya seperti biasa. Meski ia
sedikit kehilangan semangatnya karena tidak melihat kekasih hatinya, namun ia
harus bersikap profesional didepan kliennya. Sedari pagi Dika merasa ada yang
aneh pada atasan sekaligus sahabatnya itu.
“Ada apa denganmu, Rakha?” Tanya Dika.
“Tidak ada, Dika. Tapi… hari ini aku akan melakukan hal
besar.”
“Eh? Apa itu?”
“Aku tidak bisa lagi melanjutkan pertunanganku dengan Disha.”
“Apa? Jangan bilang kau…”
“Iya, aku akan membatalkan pertunanganku dengan Disha hari
ini.”
“Rakha!” Entah kenapa Dika tidak suka dengan keputusan Rakha
kali ini.
“Aku mencintai Khania. Aku tidak bisa melepaskannya. Aku tidak
mau menyakiti Disha lebih dari ini.”
“Lalu bagaimana perjanjian bisnis dengan Tuan Alan?”
“Aku akan mengurusnya. Meski kita nantinya terpuruk, kita
pasti bisa melalui ini. Percayalah padaku!”
Dika masih tidak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya
itu. Namun apapun keputusan Rakha, pasti dia sudah memikirkannya dengan matang.
“Terserah kau saja, sob. Aku pasti akan mendukungmu…”
Tanpa Rakha ketahui, Dika menghubungi Disha. Ia meminta
bertemu empat mata dengan Disha sekarang juga. Karena saat ini Rakha sedang
__ADS_1
rapat, jadi Dika bisa pergi keluar kantor sementara waktu.
Dika menemui Disha di lokasi pemotretan yang sudah
diberitahu sebelumnya oleh Disha.
“Dika? Ada apa kau ingin menemuiku?” Tanya Disha di
sela-sela waktu break shooting.
Dika membawa Disha agak menjauh dari lokasi pemotretan.
“Disha… Maaf jika aku harus memberitahu hal ini. Tapi…”
“Dika, sebenarnya ada apa?”
Dika sedikit ragu. Ia tidak tega melihat kesedihan Disha.
“Rakha berencana menemui ayahmu.”
“Heh, apa? Rakha mau menemui ayahku?”
“Iya. Dia… ingin membatalkan pertunangan kalian.”
“Apa?” tubuh Disha meremang mendengar penuturan Dika.
“Tidak! Ini tidak mungkin! Aku tidak akan pernah berpisah
dengan Rakha. Tidak!!!” teriak Disha. Disha segera meninggalkan lokasi
pemotretan dan akan menemui ayahnya.
“Disha!!!” teriak Dika namun Disha terus berjalan cepat
kemana mobil Disha pergi.
Ternyata memang benar jika Disha menemui ayahnya. Sekretaris
ayahnya melarang Disha untuk masuk kedalam ruang kerja ayahnya karena ayahnya
sedang ada tamu. Namun Disha tak mengindahkan perkataan sang sskretaris dan
menerobos masuk.
Dan Disha makin syok saat tahu siapa tamu yang sedang
bersama dengan ayahnya.
“Rakkha?!” ucap Disha tak percaya.
Dika yang mengikuti Disha juga tidak percaya jika Rakha
berbohong padanya. Ia tidak sedang rapat melainkan menemui Alan Thariq.
“A-Ayah… Apa yang ayah bicarakan dengan Rakha?” Tanya Disha terbata.
“Nak…”
“Tidak! Tidak, ayah! Aku tidak akan membatalkan
pertunanganku dengan Rakha!” teriak Disha dengan berurai air mata. Disha jatuh
terduduk. Ia terus berteriak.
__ADS_1
“Bangunlah, Nak!” Alan berusaha memapah putrinya dan mendudukkannya
di sofa.
“Disha, maafkan aku…” kini Rakha membuka suaranya. “Bukankah sudah kubilang jika aku tidak bisa
bersama denganmu… Jika kita terus melanjutkan pertunangan ini, maka kau akan
tersakiti, Disha. Aku melakukan ini karena aku menyayangimu sebagai adikku.”
“TIDAAAAKKKK!!!!”
Alan memberi isyarat agar Rakha keluar dari ruangannya. Rakha
pun mengerti. Ia pun undur diri dari ruang kerja Alan Thariq.
Dika mengikuti Rakha di belakangnya. “Bos!” panggil Dika.
“Ada apa? Jika ingin bicara, kita bicara dikantor saja.” Balas
Rakha.
Dika tidak memiliki pilihan selain menuruti keinginan Rakha.
Sementara itu, Alan masih berusaha menenangkan Disha yang
masih terisak. Alan tidak tega melihat putrinya begitu menderita. Tapi ia juga
tidak bisa memaksa Rakha untuk menikahi putrinya.
“Kenapa ayah menyetujui pembatalan pertunnangan ini? Ayah tahu
jika aku mencintai Rakha…” protes Disha saat mulai tenang.
“Dengar, Nak, kau tidak bisa memaksakan cinta. Kau akan
menderita karena itu.”
“Tapi, ayah…”
“Nak, untuk sementara terima saja dulu keputusan Rakha.”
“Maksud ayah?” Disha mengerutkan dahi.
Alan menepuk pelan bahu Disha. “Kau tahu ‘kan siapa ayahmu
ini?”
Disha mulai menunjukkan senyumannya. “Hmm, aku mengenal
ayahku dengan baik. Tapi ayah… Jangan sampai menyakiti Khania ya. Dia adalah
temanku.”
“Hahaha, kau ini. sudah terluka masih saja membelanya. Kita lihat
saja nanti. Apakah Rakha sanggup jika harus kehilangan gadis itu sekali lagi?”
Disha tersenyum menyeringai pada Alan, begitu juga
sebaliknya.
#bersambung…
__ADS_1