RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 069


__ADS_3

Rein dan Ray mendatangi kantor polisi pusat di Kota M. Rein menemui Danial yang menjadi ketua polisi untuk kasus tewasnya Richie Wicaksana.


"Ada apa kau jauh-jauh datang kemari, Rein? Kasus ini terjadi di wilayah kekuasaanku. Jadi, kau tidak bisa ikut campur dalam kasus ini." ucap Danial.


Danial dan Rein adalah kawan lama. Mereka dulu sama-sama di sekolah kepolisian yang sama.


"Tolonglah, Danial. Aku bukan ingin ikut campur, tapi aku yakin kasus ini ada hubungannya dengan kasus 10 tahun lalu." jelas Rein.


Ray hanya memperhatikan kedua pria didepannya yang saling beradu argumen.


"Maaf, Rein. Aku tidak bisa membantumu. Biarkan kasus ini kami yang akan menanganinya."


"Aku yakin jika dia tidak bunuh diri. Tolong kau usut tuntas kasus ini, Danial." pinta Rein.


Danial hanya mengangguk paham. "Kau tenang saja! Jika memang kasus ini bukan kasus bunuh diri biasa, maka semua pasti akan terbongkar." ucap Danial sambil menepuk bahu Rein.


Rein dan Ray keluar dari kantor polisi kemudian masuk kedalam mobil.


"Sekarang kita harus bagaimana, ayah?" tanya Ray.


"Kita tidak bisa ikut campur urusan kepolisian jika kita tidak dimintai tolong. Satu-satunya jalan adalah kita harus meminta tolong pada ISS."


"Eh? Ayah yakin?"


"Iya, nak. Jika memang menyangkut organisasi hitam, ayah rasa mereka lebih berhak untuk mengusut tuntas kasus ini." balas Rein dengan menatap putranya.


"Sekarang kita kemana?"


"Kita akan ke pemakaman Rich."


Ray menganggukkan kepala.


.


.


Sementara itu, suasana duka menyelimuti rumah keluarga Wicaksana. Sedari pagi, hilir mudik para pelayat datang untuk mengucapkan bela sungkawa pada Rakha.


Khay berdiri agak jauh dari kerumunan orang yang datang silih berganti. Liana sedari tadi duduk ditemani asisten rumah tangganya. Khay menatap tajam kearah Niya yang terus menangis di sisi peti jenazah Richie.


Khay merasa jika akting Niya sangatlah sempurna. Khay memandangi satu persatu orang yang datang. Ia merasa tak ada yang mencurigakan. Lagipula ia yakin jika Liana pasti akan mengetatkan penjagaan di rumah ini.


Khay berdiri agak di belakang saat pemakaman Rich berlangsung. Ia melihat Rakha, Liana dan Niya yang tampak amat bersedih melepas kepergian anggota keluarga mereka.


Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di samping Khay. Khay menoleh dan dilihatnya seorang pria yang berkacamata.


"Ken?" Khay mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Kau tenang saja. Mulai saat ini, aku akan ada bersamamu."


"Eh?"


"Kasus ini bukan kasus bunuh diri."


"Kau tahu?"


"Iya. Aku akan ikut masuk kedalam keluarga itu."


"Eh?" Lagi-lagi Khay terkejut. "Bagaimana jika ada yang curiga?"


"Tidak akan. Kau percaya padaku, 'kan?"


Khay tersenyum. "Terima kasih karena kau bersedia membantuku."


Dari kejauhan, bisa terlihat Khay yang sedang tersenyum kearah Ken. Ray yang lagi-lagi melihat kedekatan mereka menjadi sesak dibuatnya.


"Bukankah itu pria itu, ayah?" tanya Ray.


"Siapa? Ken maksudmu?"


Ray seakan enggan menyebut nama Ken.


"Ayah yakin dia akan membantu Khayla. Kau jangan khawatir, nak."


.


.


"Bibi, aku ikut berbela sungkawa." Ken menghampiri Liana.


"Iya, nak. Terima kasih. Oh ya, Rakha, perkenalkan, dia adalah Kenzo, dia keponakan ibu."


"Ah, iya. Aku Rakha."


"Aku tahu, aku sudah sering mendengar tentang kalian dari Bibiku ini."


"Benarkah? Kenapa aku tidak pernah mendengar tentangmu dari ibu?" Kini Niya yang bicara. Ia memicingkan mata melihat kearah Ken.


"Maaf ibu tidak pernah cerita tentang Ken. Selama ini dia tinggal di luar negeri."


"Salam kenal, Ghaniya..." Ken menyapa Niya dengan senyuman maskulinnya.


Khay hanya tersenyum simpul melihat akting Ken yang lumayan bagus. Sambil membetulkan letak kacamatanya yang berbingkai emas dan berbentuk kotak, Ken menatap Niya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Rakha, bolehkah jika Ken ikut tinggal disini? Menurut ibu jika dia tinggal bersamaku daripada harus menyewa apartemen. Ken sendirian disini, kedua orang tuanya telah tiada." pinta Liana.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, ibu. Keluarga ibu bukankah keluarga kita juga." jawab Rakha.


.


.


Di tempat yang berbeda, seorang gadis menutup mulutnya karena mendengar berita tentang kematian Rich dari televisi. Ia menangis dalam diam dan sesenggukan. Hatinya begitu sedih mendengar berita kematian ini. Entah memang ada ikatan batin, namun kesedihan itu amat terasa seakan mereka satu darah.


Pintu kamar gadis itu, terbuka dan menampakkan satu pria membawa nampan berisi makanan.


"Makanlah, Nona! Kau harus tetap kuat dan jangan membuatku susah."


Gadis yang tak lain adalah Disha menatap tajam kearah pria muda berjas hitam itu.


"Aku ingin pulang!" ucap Disha dengan diiringi sebuah isakan.


"Saudaraku meninggal. Aku ingin berkunjung ke makamnya." ucap Disha lagi.


Pria itu nampak menghela nafasnya. "Maaf, nona. Aku tidak bisa membantumu, nona." balas pria itu penuh sesal.


PRAAAANNNGGGG!!!


Disha memukulkan vas bunga ke kepala pria itu. Sedetik kemudian pria itu sempoyongan sambil memegangi kepalanya. Darah segar mulai mengucur dikepalanya.


Disha tak ingin menyia-nyiakan waktunya. Ia segera pergi dari kamar itu dan berlari sekencangnya. Beruntung ternyata hanya satu orang saja yang menjaga rumah itu.


Rumah yang berada di sebuah bukit itu adalah vila milik Alan Thariq. Dan vila itu memang jauh dari pemukiman penduduk. Disha berusaha berlari sekencangnya agar jauh dari tempat itu dan mencari rumah penduduk.


Keberuntungan makin memihak pada Disha karena dia berhasil mencuri ponsel milik pria tadi. Sesaat setelah jauh dari vila milik Alan, Disha mengatur nafasnya kemudian mulai membuka ponsel milik pria tadi yang ternyata tidak memiliki kode.


"Hah? Aneh sekali. Jaman sekarang mana ada ponsel tidak berkode." Disha masih mengatur nafasnya.


Mungkin ini adalah hari keberuntungannya atau pria itu sengaja ingin membantu Disha? Entah mana yang benar. Namun kini hanya satu di pikiran Disha. Dia menghubungi nomor ponsel seseorang.


Telepon pun tersambung,


"Halo, Dika..."


.


.


#bersambung...


*Huft! Disha sudah ketemu. Dan semua peristiwa akan segera terbongkar.


Ready for the next?😁😁

__ADS_1


__ADS_2