RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 019


__ADS_3

Halo Readers👋👋👋 kesayangan mamak, Rakhania is back!!! Dont forget to leave Like 👍 and Comments.


*Happy Reading*


Rakha tiba dirumahnya dan disambut oleh Disha yang sudah ada disana. Rakha cukup terkejut karena Disha tak menghubunginya lebih dulu jika ia akan datang.


"Hai, Rakha, kau sudah pulang?" sapa Disha ramah seperti biasa.


"Hmm, kau disini? Kenapa tidak menghubungiku lebih dulu?"


"Aku sengaja memberimu kejutan."


"Benar, hari ini kau banyak memberiku kejutan," gumam Rakha.


"Sayang, Disha akan makan malam di rumah kita. Kau bersihkan dirimu saja dulu." ucap Liana yang datang menghampiri mereka.


"Baiklah, bu. Disha, aku ke kamarku dulu ya." pamit Rakha.


Disha hanya menjawab dengan anggukan.


Rakha mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia ingin mendinginkan pikirannya yang kini mulai kalut. Sekitar lima belas menit Rakha ada di kamar mandi.


Rakha keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia mengibaskan rambutnya yang basah karena guyuran air.


"Wah, kau sangat seksi, Rakha..."


Rakha terperanjat karena melihat Disha ada didalam kamarnya dan duduk di atas tempat tidurnya.


"Disha, apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Rakha agak risih karena tubuh bagian atasnya sudah terekspos oleh mata Disha.


"Aku hanya ingin membantu menyiapkan baju ganti untukmu. Ini sudah kuambilkan. Kau tinggal memakainya."


Disha menunjuk ke arah tepi tempat tidur yang sudah ada setelan baju untuknya. Mau tak mau Rakha mengambil baju itu dan kembali ke kamar mandi.


Setelah Rakha selesai mengganti baju, Disha membuka suara atas keperluannya datang kerumah Rakha malam ini.


"Aku senang bisa bertemu dengan Khania secara langsung. Dia gadis yang manis."


"Apa maksudmu ingin menemui Khania?"


"Tidak ada. Aku hanya ingin mengenalnya saja. Ingin tahu seperti apa gadis yang berhasil mencuri hatimu selama tiga tahun ini."


Terdengar suara Niya memanggil Rakha. "Kak, sudah ditunggu untuk makan malam. Segeralah turun!" teriak Niya dari balik pintu kamar Rakha.


"Iya, baik. Disha, ayo kita turun."

__ADS_1


"Hmm, ayo!"


.


.


.


Keesokan harinya, Khay berangkat ke kantor dengan mengendarai ojek online yang dipesannya. Sampai dikantor, Khay langsung berkutat dengan pekerjaannya sebagai sekretaris Rakha. Hari ini Rakha memiliki banyak agenda meeting bersama kliennya. Dan Khay bertemu sekilas dengannya saja.


Jam makan siangpun, Khay habiskan bersama dengan Rani dan mengobrol sekenanya. Khay tahu jika Rani juga penasaran dengan hubungannya dengan Rakha. Karena memang Rani tahu jika Rakha tidak ingin memiliki sekretaris. Namun tiba-tiba Khay hadir dan menjadi sekretaris pertama Rakha.


"Kami hanya tak sengaja saling mengenal saja, haha." jawab Khay sekenanya.


"Tapi, ada yang bilang jika kau pernah bekerja di yayasan Anak Bangsa dan menjadi salah satu tenaga guru disana. Apakah itu benar?'


Sepertinya rumor tentang kakakku mulai terkuak karena aku bekerja disini. Duh, bagaimana ini?


"Umm, itu memang benar. Tapi, aku sudah mengundurkan diri dari sana." Khay meneguk air minumnya hingga tandas. Tenggorokannya terasa sangat kering.


Sebaiknya lain kali aku makan siang sendiri saja. Lebih baik makan siang bersama Disha dari pada dengan salah satu karyawan disini. Pikir Khay.


Sore harinya, Khay pulang dengan tanpa diketahui oleh Rakha karena sosok itu masih belum kembali ke kantor dan masih meeting bersama Dika. Seperti tadi saat berangkat ke kantor, Khay mengendarai ojek online agar lebih cepat sampai ditujuan. Ia mampir ke sebuah mini market untuk membeli beberapa kebutuhan sehari-harinya.


Khay mengambil beberapa barang kebutuhannya agar orang yang menguntitnya tidak curiga. Ia diam-diam menghubungi ponsel Ray namun tak diangkat.


"Duh, Ray, disaat aku membutuhkanmu kenapa kau tidak bisa dihubungi?" gumam Khay sambil terus mengamati pria yang menguntitnya.


Khay segera menyudahi belanjanya dan menuju ke kasir. setelah membayar barang belanjaannya, ia kembali ke abang ojol yang masih setia menunggunya.


"Bang, ayo lanjut jalan." ucap Khay sambil menepuk bahu si abang ojol.


"Baik, nona."


Motorpun kembali melaju. Khay sampai di depan apartemen dan masuk ke dalam apartemen, namun ternyata ia masih ada dilobi untuk mengawasi pria yang sedari tadi menguntitnya. Pria itu berdiri agak jauh dari apartemen dan nampak sedang menghubungi seseorang.


Karena melihat kesempatan jika pria itu lengah, Khay mendekati pria itu dan langsung menyerangnya dari belakang. Sontak membuat pria itu kaget dan menghindar dari serangan Khay. Dan seperti biasa, adu kecepatan tangan kembali terjadi. Khay tidak kalah dengan pria itu, namun pria itu selalu berhasil menangkis serangan dari Khay.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Khay ditengah serangannya.


Pria itu tak menjawab dan berhasil membuat Khay terjatuh dengan serangannya.


"AAWWW!!!" pekik Khay.


Pria itu tersenyum sinis pada Khay. Pria itu memungut ponselnya yang terjatuh ke tanah lalu meninggalkan Khay.

__ADS_1


Khay makin terkejut karena ternyata pria itu tidak berniat membunuhnya. Namun ada satu yang aneh dari pria itu.


.


.


.


.


.


Ray mengobati luka kecil yang terjadi pada lengan Khay karena perkelahiannya dengan pria penguntit sore tadi. "Maaf, tadi aku tidak mengangkat panggilan darimu. Syukurlah kau selamat, Khay. Hanya luka ringan saja. Kau ini selalu terburu-buru mengambil keputusan. Aku tidak suka sikapmu itu." sungut Ray.


Ray terus bicara panjang lebar namun Khay seakan tak mendengarkannya. Pikirannya sedang melayang entah kemana.


"Khay!! Aku bicara padamu! Kenapa kau hanya diam saja? Aku minta kau jangan bertindak gegabah lagi. Aku akan bilang apa pada ibumu jika terjadi sesuatu denganmu."


"Ray... Pria itu..."


"Ada apa dengan pria itu? Bukankah mereka orang yang sama dengan yang waktu itu?"


"Tidak! Mereka bukan orang yang sama, Ray!" Khay menatap tajam ke arah Ray.


"Eh?! Kau yakin, Khay?"


"Aku yakin, Ray. Pria sore tadi, dia memiliki sebuah tato di tangan kanannya bergambar seperti naga."


"Eh?!" Ray nampak terkejut dengan cerita Khay.


"Aku pernah melihat tato itu, Ray. Sekarang aku ingat dimana aku pernah melihatnya."


Tidak, Khay! Jangan bilang kau...


"Kak Khania! Pria itu memiliki tato yang sama dengan kakakku. Awalnya aku tidak memperhatikan di tangan Kak Khania, karena tubuhnya di penuhi banyak luka. Tapi setelah kuingat-ingat, ternyata memang sama."


Khay kembali terdiam. Ray hanya menatapnya iba.


"Ray... Apa kakakku... terlibat sesuatu yang berbahaya? Hingga menyebabkan nyawanya melayang. Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka ingin membunuh kakakku?"


#bersambung....


"Setiap orang memiliki rahasia di dunia ini...


tutup mulut dan matamu jika itu akhirnya menyakitkan untukmu...."

__ADS_1


__ADS_2