RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 082


__ADS_3

Perhatian : Ada bagian di part ini yang mengandung adegan kekerasan. Harap Pembaca Bijak Menyikapi.


Terima kasih


*


*


KLEK!!


Bunyi senjata api yang sudah di kokang dan siap menembak terdengar dan membuat seseorang membulatkan mata.


"HAH?!"


Orang itu terkejut karena mendapati dirinya kalah.


"Kau kalah!"


Rakha membulatkan mata melihat tatapan kilat tajam dari wanita yang dicintainya kini terarah kepada wanita yang selama ini ia anggap adik kesayangannya. Rakha mulai kehilangan kesadaran karena obat biusnya mulai bereaksi. Ia hanya berharap jika wanita yang dicintainya tidak akan bertindak gegabah.


"Hahahahaha." Niya tertawa keras.


"Selamat Khania. Ternyata kau hebat juga. Tapi... Aku tidak yakin kau bisa menarik pemicu pistol itu. Kau adalah gadis lemah, Khania..."


Khay makin geram dengan sikap Niya dan makin mengarahkan pistolnya ke arah Niya tanpa ragu.


"Tutup mulutmu! Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu yang sudah membunuh Rich."


"Jadi, kau akan melenyapkanku? Apa kau bisa? Yang aku ingat adalah kau dulu memohon padaku agar aku tidak menghabisimu."


"Hah?!" Khay terkejut mendengar pengakuan Niya.


"Apa kau tidak ingat? Kau memohon padaku agar jangan melenyapkanmu karena kau sedang mengandung anak Jonas."


"Eh?" Khay tidak bisa percaya begitu saja dengan semua ucapan Niya.


Tidak mungkin jika kakakku hamil. Kenapa dokter tidak memberitahuku saat itu?


"Apa kau tahu kenapa aku sangat membencimu? Kau sudah merebut cinta Rakha, tapi kau juga bermain api bersama Jonas. Kau sungguh wanita yang menjijikkan, Khania."


Khay mulai berkeringat dingin. Semua kenyataan tentang kakaknya kembali terkuak.


"Asal kau tahu, wanita yang dicintai Jonas adalah aku. Hanya aku seorang. Kau tidak pernah dicintai olehnya. Dia hanya bermain-main saja bersamamu. Kau hanya teman diatas ranjang untuknya!" Niya berteriak.

__ADS_1


Khay merasa tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi mengenai cerita hidup kakaknya dari mulut Niya.


"Lakukanlah, Khania. Kulihat kau memang berbeda dengan Khania yang dulu kukenal. Kau hanya punya satu kesempatan untuk melenyapkanku. Lakukanlah!"


"Benar. Kita harus mengakhirinya sampai disini, Niya. Kau tidak bisa menyakiti keluarga Rakha lagi. Aku tidak akan membiarkannya!" ucap Khay penuh dendam.


"Dan satu hal yang harus kau tahu..." Khay menggantung kalimatnya.


"Aku bukanlah Khania!!!"


DOOORRRRR!!!


Satu pekikan lolos dari bibir Niya. Ia memegangi perutnya yang terkena tembakan. Ia masih belum tumbang. Satu tangannya berpegang pada meja dan satu tangannya memegangi perutnya yang mengeluarkan darah segar. Nafasnya memburu menahan sakit.


"Aku sengaja tidak mengenai jantungmu. Karena kau belum pantas untuk mati. Kau harus menebus kesalahanmu dengan meringkuk di penjara."


Khay mengatur nafasnya yang memburu. Rasanya satu beban di pundaknya mulai runtuh.


"KHAAAYYY!!!"


Ray berteriak dan menerobos masuk kedalam gudang.


Khay tersenyum melihat kedatangan Ray diikuti Rein dan Ken. Ray segera memeluk Khay.


"Aku baik-baik saja." jawab Khay lirih dan melirik Niya yang tubuhnya mulai tumbang.


Pihak kepolisian mulai berdatangan dan menemui Niya.


"Nona Ghaniya Wicaksana, anda kami tahan dengan tuduhan pembunuhan berencana atas nama saudara Richie Wicaksana. Dan juga penganiayaan atas saudara Rakha Wicaksana. Petugas! Tolong bawa Nona Ghaniya ke rumah sakit untuk mengobati luka tembaknya." tutur Danial.


"Baik, Pak!" jawab seorang petugas polisi.


Khay yang merasa tubuhnya terhuyung segera di tangkap oleh Ray. Namun tiba-tiba ia teringat akan Rakha. Ia segera menepis tangan Ray dari bahunya dan berlari kearah Rakha yang sedang dibebaskan oleh Ken.


"Rakha!!!" Khay segera memeluk tubuh Rakha. Ia menepuk pelan pipi Rakha. Namun Rakha masih tak sadarkan diri.


"Rakha, bangunlah! Hiks hiks hiks. Bangunlah, Rakha..."


"Sepertinya dia masih terpengaruh obat bius. Kau tenang saja. Kita akan membawanya ke rumah sakit." ucap Ken.


Beberapa petugas ambulans segera mengangkat tubuh Rakha dan membawanya ke rumah sakit. Khay tidak berhenti menangis dan menemani Rakha. Khay bahkan tidak peduli jika ada orang yang begitu mencemaskannya.


Ken menghampiri Ray lalu menepuk bahunya.

__ADS_1


"Sudahlah, Bung. Yang penting dia baik-baik saja. Kekhawatiranmu tadi berlebihan. Kau sendiri tahu jika Khayla adalah wanita yang kuat." ucap Ken kemudian berlalu meninggalkan Ray.


Rein pun iba melihat kesedihan putranya. Namun rasa cinta tidak bisa dipaksakan. Seperti apapun Ray mencoba, hati Khay sudah tertambat pada Rakha.


Semua orang telah pergi dari area gudang tersebut. Namun Ray masih bergeming dan memilih sendiri disana. Ia mengamati meja yang tadi digunakan Khay dan Niya untuk berduel merakit senjata api.


Ingatannya kembali ke beberapa tahun silam saat dirinya dan Khay juga beradu kecepatan merakit senjata api.


.


.


"Satu, dua, tiga..." seru Ray memulai perlombaan.


Khay nampak bersemangat merakit senjata api. Kecepatan tangannya memang tidak diragukan lagi.


"Done! Kau kalah, Ray..." seru Khay gembira.


Ray hanya tersenyum kecut mengetahui dirinya kalah cepat dari Khay.


"Jangan berkecil hati, Ray. Kau pasti akan menang suatu saat nanti. Percayalah!"


Khay merangkul bahu Ray dan memeluknya untuk membesarkan hati Ray.


.


.


.


"Kau selalu hebat, Khay. Aku bahkan tidak akan pernah bisa mengalahkanmu." lirih Ray menerawang jauh.


"Bahkan aku tidak akan pernah bisa menyentuh hatimu..."


.


.


#BERSAMBUNG lagi ya shay...


jangan lupa jejak dukungan kalian ya kesayangan πŸ’ŸπŸ’Ÿ /Like/Comments/Vote/Gift


Thank U 😘😘

__ADS_1


__ADS_2