RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 109


__ADS_3

Satu tahun kemudian,


Seorang gadis cantik bertubuh mungil turun dari tangga rumahnya dan menuju ke ruang makan dimana semua anggota keluarga telah berkumpul. Dengan menyanyikan lagu kesukaannya, ia meliukkan tubuhnya sambil berjalan.


"Duh, sepertinya kau sangat gembira, sayang," ucap Disha yang sedang menata makanan diatas meja.


"Iya, Bi. Apa aku belum cerita pada Bibi?" tanya gadis yang adalah Khania.


"Cerita apa?" Disha mulai antusias.


"Aku berhasil memecahkan kuis misteri yang diadakan di kampus!" seru Khania dengan berbinar.


Disha sedikit tercengang dengan cerita Khania. Ia tak menyangka jika keponakannya menuruni bakat ibunya yang seorang detektif. Ditambah lagi, Khania memilih jurusan hukum di universitas tempat ia belajar sekarang.


Awalnya Disha agak keberatan dengan pilihan Khania ini. Tentu saja ia takut jika bayang-bayang masa kelam Khania kembali gadis itu ingat.


Tapi setelah berkonsultasi dengan Ray, nyatanya pria itu malah setuju dengan apa yang dipilih Khania. Metode yang dilakukan oleh Noel setahun lalu nyatanya masih aman-aman saja hingga sekarang. Dan Khania menjalani hari-harinya dengan penuh suka cita.


"Aku tidak menyangka jika sepupuku ini sangatlah pandai, Bu." ucap Alan yang ikut bergabung. Alan yang harus meneruskan bisnis ayahnya, lebih memilih jurusan bisnis manajemen dikampus yang sama dengan Khania.


"Yeah, jika kau ingin menyelidiki gadis yang kau sukai, maka aku bisa melakukannya!" goda Khania pada Alan.


"Apa katamu?!" Wajah Alan bersemu merah. Khania tahu jika Alan sedang berusaha mendekati salah satu gadis di kampusnya.


"Gadis-gadis jurusan hukum memang sangat menggiurkan, bukan?" lagi dan lagi Khania menggoda Alan.


"Kalian ini! Ingat ya! Bibi tidak mengijinkan kalian untuk mencari pacar di usia kalian yang masih terlalu muda. Kau juga, Alan. Ibu tidak setuju kau memiliki kekasih. Fokus saja pada studimu!" nasihat Disha.

__ADS_1


Alan menunduk pasrah. Ia tidak akan bisa membantah perintah ibunya.


"Sayang, biarkan anak-anak mengelola rasa dalam hati mereka. Lagipula masa muda mereka adalah masa keemasan dimana cinta sedang tumbuh bersemi." Dika ikut menyahuti obrolan mereka.


"Hmm, kau ini!" Disha mengalah dan tak ingin berdebat dengan suaminya itu.


Usai sarapan pagi, Khania kembali ke kamarnya karena harus mengambil tas dan buku-buku pelajaran yang akan ia bawa ke kampus. Khania termasuk mahasiswi yang rajin. Ia tak ingin ketinggalan pelajaran apalagi jika sudah menyangkut tentang memecahkan kuis misteri di kelasnya.


Khania meraih ponselnya dan melihat agendanya selama seminggu ke depan.


"Hah?! Minggu depan adalah hari ulang tahunku!"


Mata Khania berbinar senang. Ia akan meminta sebuah kado pada bibinya, Disha.


Tahun lalu, pria yang ia harapkan hadir nyatanya hanya bisa datang setelah hari ulang tahunnya berlalu 3 bulan lamanya. Tahun ini ia tidak ingin kejadian tahun lalu kembali terulang.


Entah sejak kapan, hati Khania merasa berdebar ketika membicarakan soal Rayshard. Tentu saja perbedaan usia mereka sangatlah jauh. Khania tahu itu. Namun hati tak pernah bisa memilih kepada siapa ia akan berlabuh.


Ray sering mengirimkan barang-barang untuk Khania meski pria itu jarang datang ke Indonesia. Tentu saja pekerjaannya sangat banyak hingga tak mungkin kembali ke tanah air secara mendadak.


Meski begitu, Ray menyempatkan diri untuk berkirim pesan dengan Khania. Janjinya pada Khayla untuk selalu menjaga putrinya nyatanya disalah artikan oleh Khania.


Gadis itu masih terlalu labil untuk bisa mengontrol emosinya. Ia hanya meletup-letup ketika merasakan perhatian Ray padanya.


Dan malam harinya, Khania mengungkap keinginan hatinya kepada Disha.


"Bibi, minggu depan adalah hari ulang tahunku. Aku tidak ingin kado istimewa dari kalian!"

__ADS_1


"Hmm? Lalu kau ingin apa, sayang?" Disha mengerutkan keningnya.


"Bibi, aku hanya mau Paman Ray kembali..." rengek Khania pada Disha.


Disha menatap Khania. "Sayang, kau tahu bukan jika pamanmu itu sangat sibuk..."


"Tapi aku hanya mau dia, Bi!"


"Bibi akan coba bicara pada kak Ray. Tapi Bibi tidak bisa janji. Kau sendiri kenapa tidak mengatakannya langsung padanya?"


Khania menggeleng. "Aku sudah sering mengiriminya pesan, tapi sepertinya dia sangat sibuk hingga tak membalas pesanku."


Disha mengusap puncak kepala Khania. "Itu artinya paman Ray memang sangat sibuk, sayang. Sudah ya, ini sudah malam. Sebaiknya kau beristirahat dulu. Kita bahas masalah ini esok lagi."


Khania menurut lalu masuk ke dalam kamarnya. Keceriaannya berangsur surut. Ia merasa jika Ray tidak akan datang tepat waktu di hari ulang tahunnya sama seperti tahun lalu. atau bahkan Ray tidak akan datang untuk menemuinya lagi.


#bersambung...


*Terima kasih utk para readers yg masih setia menanti kisah ini UP πŸ™πŸ™


sambil menunggu, mari mampir di karya yang lain πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡




__ADS_1


__ADS_2