
Liana amat bersemangat untuk mempersiapkan pernikahan Rakha
dan Khayla. Meski bukan sebuah pernikahan mewah dan besar, namun tetap saja Liana terlihat sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Khay yang akan menjadi mempelai wanita pun ikut membantu persiapan pernikahan yang akan diadakan dua
hari lagi itu. Terkesan mendadak, namun itulah adanya.
“Apa kau yakin tidak ingin mengadakan pesta untuk
pernikahanmu dan Rakha, nak?” Tanya Liana pada Khay.
“Iya, bu. Lagipula, pernikahan ini…” Khay enggan melanjutkan kalimatnya. Akan terlalu menyakitkan jika mengingat ia akan menikah karena
sebuah kesepakatan pekerjaan.
“Tanyakan pada hatimu, nak. Ibu justru ingin pernikahanmu menjadi satu satunya dalam hidupmu dan juga Rakha.” Liana mengusap punggung Khay.
“Terima kasih, bu.” Balas Khay dengan mengulas senyum.
“Apa kau ingin mengundang Rein dan Ray juga?”
“Eh? Kurasa… itu tidak perlu, bu. Cukup keluarga inti saja.” ucap Khay dengan menundukkan wajahnya.
Hari pernikahan pun akhirnya tiba, Khay berdandan cantik memakai gaun panjang berwarna putih. Rambut panjang di buat sanggul dan
menyisakan beberapa helai rambut menjuntai. Rakha memakai setelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu.
Mereka mengikat janji pernikahan di depan orang-orang terdekat. Ada perasaan sedih yang dirasakan Khay karena ia tidak mengundang ibu
dan juga sahabatnya, Ray. Liana mengabadikan momen indah itu kemudian mengirimnya keponsel Rein agar diberitahukan pada ibu Khay.
Meski tidak bisa menghadiri pernikahan putrinya secara
langsung, namun Amara ikut meneteskan air mata haru melihat putrinya menikah.
“Khayla sudah banyak berkorban untuk Khania, jadi tolong,
ibu jangan membenci Khayla dan pekerjaannya lagi. Dia bahkan rela menikahi Rakha agar bisa mengungkap kematian Khania.” Jelas Rein.
Amara makin terisak mendengar penjelasan Rein. Putri yang
selalu dimarahinya dan tak pernah ia turuti keinginannya, ternyata malah
berkorban banyak untuk saudara kembarnya, bahkan berani mempertaruhkan nyawanya agar
kematian Khania bisa terungkap.
Sementara itu, Ray hanya bermalasan di kamar Andre. Ia sudah tahu jika sesuatu pasti terjadi pada sahabatnya, Khay. Namun ia enggan bertanya pada Andre atau ayahnya. Andre pun tidak mengatakan apapun pada Ray dan terus bekerja melacak keberadaan Disha yang sudah hampir seminggu menghilang.
Malam itu, Rein datang ke tempat Andre dan menanyakan perkembangan nomor ponsel yang diberikan Dika untuk dilacak.
“Bagaimana, Ndre? Apa sudah dapat petunjuk?”
“Belum, paman. Nomor itu tidak terdaftar atas nama siapapun. Ada kemungkinan seseorang dibalik semua ini.”
Rein nampak mengusap dagunya. “Apa ini ada hubungannya
dengan organisasi? Dari cara mereka bergerak, kurasa ini memang ada hubungannya dengan Jonas.”
“Jadi, menurut paman gadis bernama Disha adalah komplotan organisasi?”
“Belum kusimpulkan hingga kesana. Coba kau hubungi Ken, dia paling hapal dengan gerak gerik organisasi. Jika ternyata gadis itu tidak
berhubungan dengan organisasi, itu berarti nyawanya dalam bahaya.”
“Nyawa siapa yang dalam bahaya, ayah?” Tanya Ray yang
__ADS_1
tiba-tiba masuk dalam kamar Andre.
Rein dan Andre saling pandang. “Nak, kau datang? Ayah pikir kau sudah pulang.”
“Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?” Tanya Ray dengan
memandang bergantian pada Rein dan Andre.
“Nak, ayah akan jelaskan semuanya padamu, setelah kami
menemukan titik terang.”
“Tentang siapakah ini? Ayo jawab!”
“Sebaiknya paman jelaskan saja padanya.” Ucap Andre.
“Disha Thariq. Kau mengenalnya bukan?” Tanya Rein.
“Ada apa dengan Disha?”
“Dia menghilang.”
“Apa?! Sejak kapan? Apa Khay tahu tentang ini? Khay berteman
dengan Disha.”
“Tidak, nak. Khay tidak mengetahui soal ini. Dia baru saja menikah, tidak mungkin kita menganggunya dengan masalah ini.” Rein kelepasan
bicara.
“Apa? Menikah?! Ayah!! Tega sekali kalian tidak memberitahuku!” Ray terlihat marah kemudian berlalu dari kamar Andre.
Rein mengusap wajahnya kasar. Andre hanya diam tidak ingin
berkomentar apapun. Saat ini Rein merasa bersalah pada putranya itu.
.
.
.
Di kamar, Khay berjalan mondar mandir tidak jelas. Malam ini
adalah malam pertamanya bersama Rakha. Ia bingung harus bagaimana menghadapi malam ini. mungkin dirinya pernah melakukan yang hampir saja menuju kesana. Namun
tetap saja malam ini terasa berbeda. Mereka kini sudah disatukan dalam ikatan pernikahan. Tentu saja semua hal sudah boleh dilakukan oleh pasangan menikah.
Khay masih memikirkan cara agar malam ini ia dan Rakha tidak melakukan hal yang seperti dilakukan pasangan pengantin baru pada umumnya. Khay masih menganggap jika pernikahan ini semacam pernikahan kontrak yang banyak
perjanjian didalamnya.
Khay terus melirik kearah pintu kamar mandi dimana Rakha ada didalamnya. Ia berharap jika Rakha masih lama berada didalam.
Karena terlalu lelah memikirkan cara menghindari Rakha, akhirnya Khay naik keatas tempat tidur dan tertidur. Tubuhnya amat lelah karena acara pernikahan sejak pagi tadi.
Rakha keluar dari kamar mandi dan tersenyum karena melihat istrinya sudah tertidur. Iapun ikut naik keatas tempat tidur dan memeluk tubuh
istrinya. Membawanya kedalam pelukannya.
“Tidak apa malam ini gagal untuk malam pertama. Masih ada
banyak waktu. Aku akan sabar menunggu.” Gumam Rakha lalu mengecup puncak kepala
Khay.
__ADS_1
Keesokan paginya, Khay sudah bangun dan menyiapkan sarapan
bersama Liana. Mulai hari ini Khay tidak lagi bekerja sebagai sekretaris Rakha. Rakha yang memintanya agar mengurus dirinya saja.
Hari ini rencananya Rakha tidak akan berangkat ke kantor karena ingin menghabiskan waktu bersama Khay. Namun ternyata Dika datang dan
mengabarkan ada meeting penting yang tidak bisa ditunda.
Sambil menunggu Rakha bersiap, Khay membuatkan secangkir kopi untuk Dika.
“Silahkan diminum, Pak Dika.”
“Terima kasih. Kau tidak perlu memanggilku ‘pak’ lagi. Aku adalah
bawahan suamimu. Aku yang harus memanggilmu nyonya mulai sekarang.” Ada nada
tak biasa dalam kalimat Dika.
Khay tahu jika Dika tidak bersikap seperti biasanya.
“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Khay menatap tajam Dika.
“Apa kau bahagia, Khania?”
“Apa?” Khay mulai emosi mendengar pertanyaan Dika yang seakan mengejeknya.
“Kau bahkan tidak peduli dengan apapun sekarang. Kau memang
sudah berubah, Khania.”
Dika beranjak dari duduknya dan tidak meminum sedikitpun kopi buatan Khay. Khay segera menyusul Dika yang berjalan keluar rumah. Khay mencekal lengan Dika.
“Katakan ada apa? Ada sesuatu yang kau sembunyikan bukan?” Tanya
Khay dengan penuh penekanan.
Dika bisa merasakan jika cekalan tangan Khay bukanlah tenaga
dari tangan seorang wanita biasa.
“Kau yakin ingin mendengarnya?” Tanya Dika dengan senyum seringai.
“Iya. Katakan padaku!”
“Disha menghilang.”
“Apa katamu? Menghilang? Sejak kapan?”
“Sudahlah. Apa pedulimu?”
“Tentu saja aku peduli. Dia adalah temanku.”
“Teman? Kau bahkan merebut kebahagiaannya.” Dika menatap
sinis pada Khay.
“Bukan salah Rakha jika dia tidak mencintai Disha. Kau bahkan
sahabat Rakha, apa kau tidak tahu bagaimana perasaannya?” Khay juga ikut tersulut emosi.
“Ada apa ini?” suara Rakha membuat kedua orang yang sedang berdebat seketika menoleh kearahnya.
.
.
__ADS_1
#bersambung dulu ya shay…
Dont forget to leave Like and Comments 😉😉 thank you