RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 066


__ADS_3

Niya mengumpat kesal karena masih mendengar suara desahan dan lenguhan dari Khay meski mereka memang tidak melakukan apa yang dipikirkan Niya. Ia merasa tak bisa lagi ada di rumah itu lebih lama lagi.


Niya meraih tas slempang kecilnya kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Saat berjalan keluar, Niya bertemu dengan Rich yang akan masuk kedalam kamarnya.


"Hei, kau mau kemana?" tanya Rich mencekal lengan Niya.


"Bukan urusanmu!" jawab Niya ketus.


"Ini sudah malam. Kau mau kemana?" Rich mengulang pertanyaannya.


"Sudah kubilang bukan urusan kakak!" Niya menaikkan suaranya. Ia pun pergi meninggalkan Rich yang masih mematung.


Rich melangkah kembali menuju kamarnya. Ia mendengar tawa renyah dari dalam kamar Rakha. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Jadi itu alasanmu pergi dari rumah." gumam Rich.


Rich menuju kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Ia membuka laci nakas dan mengambil sebuah amplop yang masih tertutup rapat. Ia hanya menatap amplop itu dengan gusar.


Sudah setahun ini amplop itu tidak ia buka. Ketakutan akan kenyataan yang menyakitkan membuatnya urung untuk membuka.


Rich mengusap wajahnya.


"Jika memang firasatku benar, kemungkinan Khania akan kembali di sakiti sangatlah besar." batin Rich.


"Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan Khania terluka lagi. Tidak akan!"


Dengan ragu, Rich menatap kembali kertas di tangannya. "Apakah sudah saatnya aku mengetahui kebenarannya?"


.


.


.


Pagi harinya, Khay menata sarapan di meja makan. Satu persatu anggota keluarga turun dari lantai atas. Khay menyapa ramah Liana dan Rich yang turun bersama.


Khay tidak melihat keberadaan Niya. Ia ingin bertanya tapi ternyata Liana lebih dulu bertanya.


"Dimana Niya, Rich? Apa kau melihat adikmu?"


"Semalam dia pergi, Bu. Mungkin dia ada di butiknya. Bukankah itu kebiasaannya." jawab Rich santai dengan mengunyah makanannya.


Khay hanya memperhatikan percakapan antar anggota keluarga itu.


"Apa dia marah padamu Rakha?" tanya Liana. "Dia meminta apa kemarin?"


"Hmm, dia ingin pergi liburan. Ke Eropa. Aku bilang aku akan mengurusnya."


Khay memperhatikan Rakha dan yang lain yang tampak tidak curiga. Khay bisa menebak jika gadis itu tengah cemburu karena permainan Rakha dengannya semalam.


Khay memutuskan untuk bicara dengan Liana. Namun ia lebih dulu masuk ke kamar Liana. Ia ingin memindai kamar Liana apakah ada alat penyadap atau tidak.


Khay bernafas lega. Karena ternyata tidak ada alat sadap di kamar Liana.

__ADS_1


"Itu berarti hanya di kamar Rakha yang disadap." gumam Khay dengan seringai khasnya.


Khay berbincang sejenak dengan Liana tentang Niya. Khay mengungkapkan jika Niya terasa tidak menyukainya. Namun secara tak terduga, Liana justru membelanya.


"Dia memang anak yang sangat manja, tapi dia baik. Kau jangan merasa terbebani dengannya." Ujar Liana. Khay mengangguk paham. Ia pun keluar dari kamar Liana.


Khay memutuskan untuk menjelajah rumah yang memang besar itu. Ia menuju taman di teras belakang.


"Khania..."


Sebuah suara membuat Khay menoleh.


"Rich?"


"Kau suka tinggal disini?"


"Hmm, ya begitulah."


"Khania..."


"Ya?"


"Kau mau ikut denganku ke studio?"


"Eh? Studio?"


"Iya. Daripada kau bosan tinggal di rumah. Ikutlah!"


.


.


Khay dan Rich tiba di sebuh studio milik Rich. Tempat yang tidak terlalu luas itu ternyata menyimpan banyak karya Rich berupa lukisan.


Khay terpana melihat karya-karya Rich.


"Jadi, kau yang melukis semua ini?"


"Ya begitulah." jawab Rich canggung.


"Ini luar biasa, Rich. Apa Rakha tahu jika kau memiliki bakat yang amat luar biasa ini?"


"Tidak. Kak Rakha tidak tahu. Tidak ada yang tahu soal ini. Kau adalah orang pertama yang berkunjung kemari. Berada disini sangatlah menyenangkan untukku."


"Kenapa kau tidak menceritakannya pada Rakha? Aku yakin dia pasti akan mendukungmu."


Rich tersenyum getir. "Menurutmu begitu? Berapa lama kau mengenal kakakku, huh?"


"Eh?"


"Kakakku bukan orang seperti itu. Dia ingin aku masuk ke perusahaan. Tapi aku selalu menolak."


"Aku akan bicara pada Rakha."

__ADS_1


"Tidak, terima kasih, Khania. Kau memang sangat baik."


Khay tersenyum tulus. "Jika kau tidak mencoba bagaimana kau bisa tahu? Percayalah!"


Khay kembali mengulas senyumnya.


"Terima kasih, Khania. Mulai sekarang, aku akan menjagamu."


"Eh?"


Senyum itu ... Ada apa dengan senyuman di wajahnya?


"Iya, Rich. Terima kasih."


.


.


Malam harinya,


Niya berdecak kesal karena Rich memintanya untuk bertemu.


"Untuk apa kakak mengundangku kemari? Tempat apa ini?" sungut Niya.


"Ini adalah studioku. Kau baru tahu?"


"Aku tidak peduli. Cepat katakan ada urusan apa kakak mengundangku?"


"Niya... Kita sudah hidup bersama-sama selama ini. Aku hanya meminta kau tidak menganggu hidup Kak Rakha lagi."


"Apa maksud kakak bicara begitu?!" Niya mulai emosi.


"Kakak tahu, kau memiliki perasaan lebih pada Kak Rakha. Tapi sekarang, kak Rakha sudah menikah. Jadi, jangan menganggunya apa lagi sampai menyakiti Khania."


Niya mengepalkan tangannya. "Kakak!"


"Sudah berkali-kali aku memintamu untuk melupakan perasaanmu pada Kak Rakha. Jika kau masih tidak bisa melupakan perasaanmu, maka aku... "


"Apa?! Apa yang akan kau lakukan?!"


Rich memberikan secarik kertas pada Niya.


"Hah?!" Niya membulatkan matanya.


"Kau!!!" Niya menatap tajam ke arah Rich.


.


.


#bersambung...


*apa yg akan terjadi selanjutnya? Kebenaran akan mulai terkuak...

__ADS_1


__ADS_2