
Khania berlari untuk kembali pulang ke mansion milik Ray. Ia menaiki taksi dan mengatakan pada supir taksi alamat rumah Ray.
Khania tahu Ray pasti akan marah padanya. Tapi tak ada jalan lagi untuk terus menghindar dari Ray. Dari nada suaranya di telepon tadi, Ray terdengar sangat marah.
Tiba di mansion milik Ray, Khania berjalan pelan karena takut untuk bertemu dengan Ray. Tak disangka ternyata Ray sudah menunggu Khania di ruang tamu. Ray duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.
"Dari mana saja kau?" Suara Ray yang menggelegar membuat Khania terkejut.
Khania tak menyangka jika Ray akan menunggunya. "Paman..."
"Apa kau tahu bahaya apa yang mengintaimu di kota ini? Kau tidak tahu seperti apa kota ini, hah?!" Ray bangkit dari duduknya dan menghampiri Khania.
"Maafkan aku, Paman..." lirih Khania yang kini sudah meneteskan air mata. Tidak pernah ia melihat Ray semarah ini kepada dirinya.
"Jangan pernah bertindak gegabah lagi atau akan kupulangkan kau ke Indonesia!" Geram Ray.
"Maafkan aku, Paman. Aku tidak bermaksud untuk..."
"Berhenti mengucap kata maaf! Kau memang seperti ibumu yang selalu bertindak tanpa berpikir ulang! Apa kau tahu semua orang mencemaskanmu, huh!"
Tangis Khania semakin kencang.
"Paman jahat!" ucap Khania dengan berlalu meninggalkan Ray dan menuju kamarnya lalu membanting pintu.
Ray mengusap wajahnya kasar. Ia menyesali kemarahannya. Namun tak dapat dipungkiri kekhawatirannya melebihi apapun di dunia ini. Khania seakan menjadi magnet yang kuat baginya. Ia hanya takut terjadi sesuatu dengan gadis itu. Namun Khania masih belum mengerti arti dari kemarahan Ray kali ini.
Di tempat berbeda, seorang pria usia 40 tahunan masuk ke dalam rumahnya usai bekerja. Ia melihat keponakannya sedang berusaha mengobati luka yang ada di perut kirinya.
"Astaga, Josh! Kau terluka!"
Pria itu segera menghampiri keponakannya dan membantu mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya.
"Biar Paman bantu."
"Terima kasih, Paman Zidane."
Sang paman segera mengambil handuk kecil dan menyumpalkannya di mulut Josh.
"Tahan ya! Paman akan mengeluarkan pelurunya!"
__ADS_1
Josh mengangguk dan seketika menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Ia hanya bisa menggeram dengan keringat yang mulai bercucuran.
Setelah peluru berhasil di keluarkan, Zidane memeriksa dengan teliti benda kecil yang menembus tubuh Josh.
"Ini adalah peluru polisi. Apa yang terjadi?" selidik Zidane.
"Paman, sepertinya polisi disini sudah mulai mengendus perbuatanku. Kota ini sudah tidak aman lagi bagiku." Josh berucap dengan napas yang memburu.
"Sudah Paman bilang kau harusnya tidak membunuh orang-orang itu! Kau jangan seperti ayahmu! Paman membawamu kemari agar kau bisa melupakan masa lalumu dan kembali ke jalan yang benar. Tapi tampaknya bayang-bayang kejahatan ayah dan ibumu terus membekas dalam ingatanmu. Mereka bukanlah orang baik, Nak! Mereka penjahat!" seru Zidane untuk membuat keponakannya tersadar.
"Tapi mereka tetaplah orang tuaku. Ayahku mati sia-sia di tangan para anggota ISS itu!" teriak Josh meski dirinya merasakan nyeri di perutnya.
"Maka dari itu apa kau juga mau mati sia-sia seperti ayahmu?!" teriak Zidane tak kalah keras.
Josh terdiam. Kemudian menjawab. "Setidaknya aku sudah membalas perbuatan mereka." sinis Josh.
"Lalu kenapa kau juga membunuh para korupptor itu? Apa salah mereka padamu?" Zidane masih tak habis pikir dengan pemikiran putra kakaknya ini.
"Karena mereka adalah sampah yang pantas dilenyapkan. Jika tidak ada lagi yang ingin paman sampaikan, aku ingin istirahat. Tolong jangan menggangguku."
Zidane memilih mengalah. Bicara dengan orang yang dikuasi emosi akan terkesan tak berguna baginya.
"Baiklah. Kau istirahat saja. Paman akan buatkan makanan untukmu."
Malam harinya, Khania masih mengurung diri di kamarnya. Ia bahkan melewatkan makan malam. Hatinya sungguh sakit mendapati kemarahan Ray padanya.
Air mata yang telah kering, membuatnya memikirkan sesuatu. Pertama kali datang di mansion milik Ray, Khania pernah memergoki jika Ray menyimpan banyak foto mendiang ibunya.
Khania memang tidak yakin dengan perasaannya, namun ia tahu jika ada sesuatu yang Ray sembunyikan darinya. Kali ini Khania tidak bisa memendamnya lagi.
Khania keluar dari kamar dan menemui pelayan di mansion itu.
"Tuan Ray ada di ruang kerjanya, Nona."
"Hmm, baiklah. Aku akan kesana."
Khania berjalan menuju ke ruang kerja Ray. Dengan hati-hati Khania mengetuk pintu. Tak lama setelahnya terdengar suara sahutan dari dalam.
"Khania?" Ray cukup terkejut dengan kedatangan Khania.
__ADS_1
"Maaf atas apa yang terjadi hari ini. Jika paman merasa ingin mengembalikanku ke Indonesia, maka aku bersedia. Aku menerima semua keputusan paman."
Ray membulatkan mata mendengar penuturan Khania. Ia pun beranjak dari kursi dan mendekati Khania.
"Kau serius ingin kembali?" tanya Ray dengan menatap Khania.
Gadis itu hanya mengangguk. Ray menghela napasnya.
"Maaf karena tadi aku terlalu keras padamu."
"Tidak. Tidak apa. Aku mengerti. Tapi sebelum pergi, ada yang ingin kukatakan pada paman."
"Baiklah, katakan saja!"
"Aku tahu jika Paman menyukai ibuku. Bahkan sangat mencintainya. Tapi ternyata ibuku lebih memilih ayahku."
Ray terpaku mendengar kalimat Khania.
"Entah sejak kapan, aku juga ... mulai merasakan sesuatu terhadap paman. Aku tahu ini tidak masuk akal. Karena aku masih seorang bocah dimata Paman. Tapi itu tidak masalah. Yang terpenting adalah ... perasaanku."
Kini mereka saling tatap dengan jarak yang begitu dekat.
"Jika Paman tidak bisa mendapatkan cinta ibuku, Paman bisa mendapatkan cintaku."
Gadis itu berani mengungkapkan perasaannya di depan Ray.
Ray mematung seketika kala gadis 18 tahun itu mengelus rahang kokohnya yang dipenuhi bulu-bulu halus tipis.
"Aku mencintai Paman. Aku mohon jadikan aku milikmu, Paman."
Khania mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak dengan wajah Ray. Dengan lembut gadis itu mencium bibir milik pria 45 tahun itu.
Ray terhenyak dengan apa yang dilakukan Khania. Sejenak ia membiarkan bibir mereka saling menempel tanpa ada pergerakan
Khania memejamkan matanya berharap jika Ray akan membalas ciumannya atau semacamnya. Namun ternyata mereka hanya diam dengan bibir yang saling bersentuhan.
Khania sadar siapa dirinya. Ia segera menarik diri.
"Selamat malam, Paman."
__ADS_1
Khania segera berlalu dari ruang kerja Ray meninggalkan pria itu yang masih mematung.