RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 056


__ADS_3

Khay menatap layar ponselnya dan berpikir sejenak. Ia mencoba mencerna apa yang ingin dikatakan oleh Ken padanya. Memang ini pasti tidak jauh-jauh soal kakaknya, organisasi hitam ataupun rencana ISS.


Tanpa membalas pesan dari Ken, Khay menyambar jaketnya lalu keluar dari kamar dan menuju atap apartemennya. Ia menaiki lift menuju lantai paling atas. Kemudian keluar dari lift lalu berjalan keluar menuju halaman rooftop.


Khay menghampiri Ken yang berdiri membelakanginya. Karena mengetahui kedatangan seseorang, Ken membalikkan badannya.


"Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu, Khayla." ucap Ken.


"Tidak apa. Lagipula aku belum tidur." jawab Khay. "Ada urusan apa kau memanggilku kemari?"


Ken mengeluarkan beberapa lembar kertas dan menyerahkannya pada Khay. Khay menerima kertas-kertas itu dan membacanya.


"Apa ini?" tanya Khay yang masih tidak paham.


"Aku tersentak kaget saat mendapati ternyata kemarin kau tidak diculik sendirian. Tapi ada orang lain yang diculik bersamamu. Gadis yang bernama Disha Thariq. Benar begitu?"


"Iya, lalu?"


"Entah kenapa aku tergerak untuk menyelidiki gadis itu lebih dalam. Selama ini aku yakin jika ada anggota organisasi yang menyusup kedalam keluarga Rakha. Dan aku mencurigai dia."


Khay mendengarkan dengan seksama penjelasan Ken.


"Aku meminta orang kepercayaanku untuk mencari informasi. Tapi ternyata dia memang bukan orangnya."


"Maksudmu?"


"Gadis bernama Disha tidak terhubung dengan organisasi."


"Jadi, firasatmu salah?"


"Tidak, Khay. Firasatku tidak mungkin salah. Ada orang lain yang memang menyusup kedalam keluarga itu."


"Siapa? Apa ibu Liana tahu soal ini?"


"Aku bicara denganmu karena aku percaya padamu."

__ADS_1


"Eh?" Khay makin bingung dengan apa yang dibicarakan Ken.


"Aku tidak bicara dengan ibu Liana karena aku tidak mau dia merasa khawatir. Jadi, aku percaya padamu, Khayla."


"Jadi, siapa orangnya?" tanya Khay tidak sabar.


Ken menyerahkan satu lembar foto. Khay menerima foto itu dan melihat siapa yang ada disana.


"Hah?! Apa?! Tidak mungkin!!!" Khay menutup mulutnya tidak percaya.


"Iya, memang sangat tidak mungkin bukan? Pastinya ibu Liana juga tidak akan percaya padaku."


"Dan aku juga tidak bisa percaya padamu. Bagaimana mungkin Niya..." Khay terasa berat melanjutkan kalimatnya.


"Gadis itu amat manja pada Rakha. Dan dia... terlalu polos untuk menjadi salah satu bagian dari organisasi." ucap Khay lagi.


"Jika kau ingin membuktikan teori dariku ini, hanya ada satu cara yang bisa kau lakukan."


"Apa itu?"


Khay nampak berpikir. Ia ragu menerima informasi ini dari Ken. Namun ia tidak meragukan kemampuan Ken sebagai agen ISS. Ken tidak mungkin salah mengumpulkan bukti dan informasi.


"Apa kau yakin Ken?"


"Informanku adalah yang terbaik. Dan aku sudah lama bekerja dalam bidang ini. Kau tidak bisa meremehkanku, Khayla." tegas Ken.


"Baiklah, akan kupikirkan. Kira-kira sudah berapa lama Niya terlibat dengan ini? Apa mungkin dia setega itu pada keluarganya sendiri?"


"Aku akan tetap mengumpulkan informasi. Dan kau juga harus mencari tahu soal itu. Jika dugaanku tidak meleset, semua ini ada hubungannya dengan dendam keluarga."


"Apa? Dendam keluarga? Siapa yang dendam pada keluarga Rakha?" Khay bersemangat ingin mengetahui semuanya.


"Kau baca saja semua berkas yang sudah kuberikan padamu. Dan juga, carilah petunjuk dari buku harian milik Khania."


"Apa? Buku harian kakakku?" Khay menundukkan kepala.

__ADS_1


"Sudah kubilang jangan membencinya. Kau akan tahu semuanya jika kau membaca buku hariannya. Bukankah kau bilang Khania menuliskan semuanya?"


Khay tidak menjawab. Namun hatinya tetap bergemuruh antara ia harus menurunkan egonya atau tetap kukuh tidak mau membaca kisah kakaknya.


"Jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Termasuk sahabatmu dan Paman Rein. Terlalu beresiko jika banyak orang yang tahu soal ini. Kau mengerti 'kan?"


Khay mengangguk. Pertemuan mereka pun berakhir. Khay kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya. Kini rasanya tubuhnya benar-benar merasa amat lelah.


.


.


Keesokan paginya, Dika yang tidak mendapati sosok Disha di apartemennya sejak ia pulang dari kantor, merasa khawatir terjadi sesuatu dengannya. Ia mencoba menghubungi ponsel Disha namun tidak aktif.


"Kemana dia? Apa dia sudah kembali ke rumahnya? Tapi kenapa perasaanku tidak tenang begini?" gumam Dika.


Dika memeriksa ponselnya dan teringat dengan pesan asing yang dikirim padanya beberapa hari lalu. Sebuah nomor tak dikenal mengiriminya pesan dan memintanya untuk datang kesebuah kamar apartemen. Kemudian disana Dika menemukan Disha yang sedang tertidur di tempat tidur.


Dika kembali mengecek kamar apartemen yang kemarin dijadikan tempat penyekapan Disha. Sesampainya disana Dika tak menemukan apapun. Kamar itu kosong dan tak berpenghuni.


Dika bertanya pada pihak pengelola apartemen siapa yang menyewa kamar itu, tapi ia tidak mendapat informasi apapun. Pihak apartemen menolak untuk memberitahu pada Dika. Dika berjalan gontai dan akhirnya memutuskan pergi ke kantor.


.


.


#bersambung dulu ya shay...


*penyusup2 mulai ketahuan yah genks.


Kira2 berhasilkah Khay mengungkap kebenaran?


Lalu kemana Disha?


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangannya mamak 👣👣❤❤

__ADS_1


__ADS_2