RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
100


__ADS_3

"Jika kalian ingin memanggil jin ini maka bakarlah satu kemenyan di kamarnya dan panggilah dia dengan siulan" si mbah menjelaskan panjang lebar pada Danu dan Ria.


Keduanya hanya menganggukan kepala dan mulai tersenyum sebab sebentar lagi hidup mereka akan kembali normal.


"Apakah sudah selesai mbah?" tanya Ria dengan wajahnya yang mulai terlihat cerah.


"Sudah" jawab si mbah seraya tersenyum menjijikan pada Ria.


"Kalau begitu ayo kita pulang mas"


Ria mulai menarik tangan Danu agar segera pergi dari tengah hutan.


"Sebentar, jangan pergi dulu. Kalian bisa pulang ketika fajar sudah terlihat"


Danu dan Ria pun kembali duduk seraya mulai menatap langit yang masih gelap. Bahkan sesekali Ria yang tak tahan menahan kantuknya, mulai terlelap dibahu Danu.

__ADS_1


Ada perasan aneh di dalam hati Danu ketika melihat wajah Ria. Entah kenapa sepertinya ia mulai mati rasa dan tak mencintai Ria lagi. Apalagi melihat wajah Ria yang sudah mulai keriput dan tak menarik lagi di matanya.


Danu pun menepuk pelan pipi Ria agar terbangun dan menjauh dari pundaknya. Ria hanya menggeliat dan matanya mulai sesekali mengerjap agar terbangun.


"Aku ngantuk mas" ucap Ria pelan.


"Tahanlah Ri. Sebentar lagi juga pagi. Kau bisa tidur di rumah nanti"


Danu pun bangkit dan melihat lihat hutan sekitar. Hawa dingin menusuk pori pori kulitnya. Sesekali dirinya bahkan menggigil karena kedinginan.


Hingga tak terasa disaat Ria dan Danu duduk, terlihat fajar mulai terlihat dan awan perlahan mulai terlihat cerah dengan warna jingganya.


"Sudah pagi mas!" ucap Ria sangat senang.


"Ya aku tahu"

__ADS_1


Si mbah bangkit dan mulai berjalan ke arah Ria dan Danu.


"Sekarang kalian bisa pulang. Ingat siapkan kamar layaknya pengantin yang akan melakukan ritual malam. Kau bisa siapkan wewangian alami seperti bunga melati dan kembang kamboja. Jangan lupa juga carilah tumbal pertama, gadis yang masih per**n untuk menambah energi si ibl** itu"


Danu dan Ria mengangguk. Mereka akhirnya pulang dan segera pergi menuju mobilnya yang terparkir di dekat gubuk si mbah. Keduanya duduk didalam mobil dan akhirnya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Mobil berwarna putih itu tampak sangat kokoh ketika menembus jalanan hutan. Ria pun menutup matanya dan mulai tertidur didalam mobil, berbeda dengan Danu yang mulai menerawang kehidupannya dimasa mendatang.


Sesekali terbayang wajah Mira yang selalu saja menarik perhatiannya, apalagi ketika ia datang ke kamar Mira. Tampak dengan jelas kakinya yang mulus dan wajahnya yang manis ketika tertidur. Sejak saat itu setiap kali Danu menyentuh Ria, wajah Mira lah yang selalu ada di hadapannya.


Danu memandang Ria yang terlelap di sampingnya. Danu mengehela nafas karena mulai tak tertarik dengan wajah Ria yang sudah tua.


"Aku akan menyingkirkan dirinya dengan cara menumbalkannya pada ibl**s itu" gumam Danu dalam hati.


Tumbal yang harus Danu dan Ria sediakan adalah gadis yang masih per**n dan itu haruslah tiap minggu ada. Namun, jika ada wanita yang masuk kedalam kamar itu, tak perduli jika wanita itu sudah tak per**n, wanita itu akan menjadi pemuas nafsu sang ibl** setiap dibutuhkan.

__ADS_1


Danu tersenyum menyeringai. Ia yakin bahwa jika sampai Ria terus melayani ibli** itu maka perlahan lahan Ria akan kurus penyakitan serta tak lama lagi akan mati. Dan itulah saatnya, Danu akan menikahi Mira.


__ADS_2