
Sarah terdiam. Ia heran dengan sikap yang ditunjukan Mira tentang pria yang ia temui dalam mimpinya tersebut.
"Kenapa kau begitu ingin tahu pria itu? Apa kau pernah memimpikannya juga?" tanya Sarah dengan tatapan mata yang tak berkedip kearah Mira.
Mira segera mencari alasan agar Sarah tak merasa ada hal yang ia tutupi. Sampai akhirnya ia pun terpaksa menganggukan kepala.
"Jadi benar kau juga bermimpi mengenai pria asing berpakaian kerajaan itu?" tanya Sarah menyakinkan.
"Ya be..benar. Kemarin malam aku juga bermimpi bertemu dengan pria berpakaian kerajaan. Namun, aku bahkan tak tahu siapa namanya bahkan wajahnya pun aku lupa" jawab Mira.
"Aku hanya ingat ciri ciri pria itu adalah matanya berwarna biru, hidungnya mancung, dan warna kulitnya yang begitu putih. Dia memang tampan dan ia juga bersikap sangat dingin. Bahkan ia tak menolongku untuk keluar dalam hutan itu"
"Antareksa" gumam Mira pelan.
"Siapa kau bilang?" tanya Sarah dengan cepat.
__ADS_1
"Ah..tidak tidak. Aku hanya bergumam saja. Mungkin saja pria itu adalah sebuah pertanda buruk bagi keluargamu Sarah. Terlebih lagi kau belum tahu mengenai rahasia keluarhamu sendiri"
Sarah mulai menatap Bi Darsih yang sejak tadi berdiri mematung.
"Pria itu berkata bahwa aku memiliki seorang kakak perempuan dari istri pertama ayah. Dan aku harus bertanya pada orang yang sudah mengabdikan dirinya begitu lama di rumah ini. Dan yang tahu siapa dia adalah Bi Darsih dan Mang Kardi. Iya kan bi?" tanya Sarah dengan sorot mata tajam.
Bi Darsih yang kelimpungan segera menggelengkan kepala. Ia bahkan terlihat ketakutan ketika mendengarkan pertanyaan Sarah. Mira tahu bahwa Bi Darsih begitu takut pada Danu dan Ria, terlebih lagi mereka telah bersekutu dengan iblis.
Hal itu diketahui Bi Darsih saat mencari pelan baru di gudang belakang. Ia mendengar sebuah suara dari arah gudang dan melihat sebuah sajen tersusun rapih disana dengan Danu dan Ria yang tengah menggenggam segepok uang.
"Katakan siapa kakak perempuanku bi" desak Sarah pada wanita paruh baya yang hanya bisa menundukan kepala.
"Katakan cepat bi, siapa kakakku?".
Bi Darsih masih saja diam.
__ADS_1
"Baiklah kalau bibi tak mau memberitahuku. Aku akan mencari tahu kebenarannya sendiri. Mira! Bantu aku menjalankan misi ini" Sarah menatap Mira yang tengah menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
"Ba...baik non"
Sarah mulai melanjutkan sarapannya. Dan setelah makan di atas piringnya habis ia kemudian berjalan menuju halaman rumah dan duduk diatas ayunan.
Mira yang masih sibuk dengan makanannya hanya bisa mengunyah makana dengan pikiran yang entah kemana. Ia sekarang harus membantu adik tirinya itu mencari identitas kakaknya yang tak lain adalah Maria sendiri.
Untung saja ia memakai tubuh mayat wanita ini dan tak memakai tubuh yang lain, sehingga dirinya dengan mudah masuk kedalam rumah besar ini dan bisa mendekati adik tirinya tanpa harus banyak membuang waktu.
Ia kini menyusun strategi untuk menghalau adiknya agar tak lebih dalam mengulik dirinya. Dan sekarang Maria pun harus menanyakan maksud dari Antareksa yang membocorkan keberadaannya di masa lalu pada Sarah. Apa maksud Antareksa memberitahu Sarah bahwa Sarah memiliki saudara perempuan.
Terlebih saat ini Sarah sedang benar benar ingin mencari tahu kebenaran tentang ayah serta ibunya karena arwah Maria yang terus bergentayangan meneror keluarga Danu.
Dan untungnya arwah Maria yang sering bergentayang sebelum mendapatkan tubuh Mira, telah di cap oleh seluruh warga serta Danu dan Ria, bahwa arwah dirinya adalah Nirmala.
__ADS_1
Namun sampai kini Mira juga belum tahu kenaoa ayahnya dan Ria memanggil arwah dirinya sebagai Mala bukan Nirmala yang jelas jelas nama ibunya.