RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
47


__ADS_3

Kumala menatap nyalang pada Maria yang kini duduk makan berdua bersama raja. Apapun yang sudah ia lakukan selama ini tak boleh sia sia. Maria tak boleh mengambil kedudukuannya di hati sang raja.


"Maaf aku sudah kenyang, aku ingin perhi ke kamarku" Maria yang mulai canggung segera bangkit, namun tertahan akibat sang raja memegang tangannya.


"Tunggu sebentar" raja mulai bangkit dan berjalan mendekat kearah Maria.


Tak berselang lama raja pun menge**up pelan bibir Maria hingga membuat wanita itu tertegun dan terdiam dengan spontan.


Kumala mengepalkan tangan dan mulai berjalan kearah mereka.


"Sedang apa kalian?" Kumala tersenyum ramah namun Maria tahu senyumnya tak biasa.


"Emh. kami, kami sedang. Oh aku akam pergi, permisi"


Maria berlalu meninggalkan Kumala dan raja dengan perasaan yang canggung. Ia takut bahwa Kumala akan marah padanya sehingga membuat kesepakatan mereka sebelumnya gagal. Maria memberikan kembali kehormatan pada sang raja sebab ia ingin kembali kerumahnya dan hidup tenang bersama ibunya sendiri.


Kumala menatap punggung Maria yang kian menjauh dari pandangannya, hingga detik kemudian ia pun memandang sang raja dengan datar.


"Kau sangat mencintainya?" Kumala bertanya dengan amarah yang menggunung dihatinya.


"Dia istriku dan sudah sepatutnya aku mencintainya. Terlepas dari kau adalah istri pertamaku, aku harus tetao bersikap adil padanya, sebab dialah satu satunya harapanku untuk mendapatkan keturunan"


Sontak saja perkataan Raja membuat Kumala terdiam dengan amarah yang kian meledak. Ia tak mneyangka bahwa suaminya akan berkata hal yang sungguh menyinggung perasaannya.


"Ya benar, dia adalah istrimu dan satu satunya harapan untuk kau memiliki keturunan. Untuk apa kau mempertahankan aku, aku memang tak berguna" Mata Kumala mulai berkaca kaca dan sesegera mungkin ia memalingkan wajahnya agar raja tak melihat kesedihan dimatanya.


Raja yang paham sikap istrinya tersebut segera memeluknya dari belakang dan mulai meminta maaf.


"Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya ku katakan. Maria memang istriku dan sudah sepatutnya aku adil. Aku mencintaimu dan juga mencintainya. Kalian sama sama istriku dan aku akan tetap berlaku adil untukmu dan untuknya. Walaupun kau pasti tahu aku sangat bergantung padamu"


Kumala menarik nafas dan mulai meredam amarahnya. Ia kemudian kembali berbalik menatap raja dan mulai menarik tangan sang raja untuk membicarakan rencananya agar Maria bisa dikembalikan terlebih dahulu ke alamnya.


"Ayp kita pergi sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu padamu tentang Maria"

__ADS_1


Raja pun menganggukan kepala dan mulai berjalan beriringan bersama Kumala menuju kamar.


Kamar yang hanya diterangi oleh cahaya yang remang membuat keadaan didalam begitu nyaman dan sangat hangat. Kumala dan raja pun duduk berdampingan diatas ranjnag seraya mulai membicarakan sesuatu hal.


"Aku ingin mengatakan bahwa apa kau bisa mengembalikan Maria sebentar saja?"


Sontak saja raja melotot dan bangkit dari duduknya.


"Apa?! maksud aku harus mengembalikan istriku ke alamnya dan membiarkan dia hidup begitu saja tanpa memberikan keturunan untukku? Kau sudah gila"


"Tentu saja tidak sayang. Aku sudah menyiapkan rencana untuk istri keduamu itu di dunianya. Kita biarkan dia kembali sebentar saja agar dia merasa senang dan bisa melayanimu secara maksimal nantinya. Aku tahu mungkin saja Maria memiliki fikiran bahwa semua yang terjadi hanyalah mimpi dan mungkin juga dia akan berusaha untuk membentengi dirinya dengan iman yang kuat, tapi aku memiliki rencana untuk membuat Antareksa menjaga Maria agar tak bisa menghianati kita dan ingkar terhadap kesepakatan untuk melahirkan keturunan untukmu"


"Biarkan aku saja yang mengawasinya"


"Jika kau mengawasinya maka kerajaan siluman mungkin akan hancur sebab aku berasal dari manusia dan tak bisa menggunakan kekuasaanku disini untuk menghakimi penghianat perjanjian dengan bangsa kita. Kau yang memiliki kekuasaan tertinggi disini dan kau tak bisa berada diluar lingkungan kerajaan dalam jangka waktu yang lama"


Raja mulai bergeming. Mungkin saja dengan ia memberikan kesempatan Maria untuk pulang, nantinya Maria akan mulai mempercayainya dan mungkin akan lebih mencintainya. Maria harus merasa senang sebab ia akan melahirkan keturunan yang merupakan bangsa siluman ular.


"Ya, kau benar. Aku akan mengizinkannya untuk pulang beberapa saat dan memerintahkan Antareksa untuk mengawasi gerak gerik Maria"


Kumala memeluk tubuh suaminya dan perlahan mereka pun melakukan pertempuran hebat didalam kamar tersebut.


******


Hari hari dilalui dengan tangisan dan pengharapan dihati Nirmala. Sudah beberapa bulan sejak kondisi Maria seperti ini tubuh Nirmala semakin kurus dan hanya terlihat seperti sebuah tulang yang dilapisi kulit saja.


Bola matanya yang besar membuat dirinya terlihat menakutkan sebab cekungan dimatanya semakin kedalam.


Bi Darsih tak henti hentinya menangis ketika melihat majikannya yang semakin hari semakin memprihatinkan.


Posrsi makan yang semakin banyak, justru tak berpengaruh pada tubuh Nirmala yang justru semakin kecil dan kurus.


"Nyonya ini makanannya" Bi Darsih memberikan seoering penuh nasi dan lauk pauk yang sangat banyak pada Nirmala.

__ADS_1


Tanpa basa basi Nirmala segera merebutnya dari tangan Bi Darsih dan segera memakannya dengan lahap ssoerti kelaparan


"Maafkan jika bibi merasa jijik dengan saya" ungkap Nirmala disela makannya.


Bi Darsih pun menangis mendengarkan perkataan majikannya.


"Nyonya tak perlu minta maaf. Saya senang jika nyonya makannya banyak dan semoga saja berat badan nyonya semakin bertambah" Bi Darsih menyeka air matanya.


Nirmala dengan lahapnya memasukan makanan kedalam mulut seraya menteskan air mata dengan sendu.


"Mungkin tak lama lagi aku akan mati, tapi kuharap aku bisa memeluk tubuh Maria untuk yang terakhir kalinya"


Bi Darsih pun segera mendekat kearah Nirmala.


"Jangan mengatakan hal itu nyonya. Aku tak rela jika sampai nyonya meninggalkan saya dan Non Maria. Non Maria pun pasti akan sangat terpukul jika sampai nyonya meninggalkannya"


Nirmala tersenyum dan menghabiskan makanannya yang tinggal sesuap.


"Aku percayakan dia pada bibi. Aku yakin bibi bisa menjaga anak saya dengan baik.Bibi bisa mencintaiku seperti anak bibi sendiri dan sudah pasti bibi pun akan bisa mencintai Maria seperti cucu bibi sendiri"


Nirmala menatap tubuh Maria yang hanya terbaring diatas ranjang tempat tidurnya. Sampai sampai tak lama kemudian banyak sekali darah yang keluar dari kema**n Maria.


"Astagfirullah bi ada darah!" teriak Nirmala dengan panik.


"Astagfirullah Ya Allah, Nyonya, Non Maria kenapa?" Bi Darsih yang tak kalah panik segera mengambil kayu putih dan air mencoba menepuk pipi Maria agar bangun.


"Sayang, bangun sayang. Ini ibu. Maria bangun" ucap Nirmala dengan bergetar.


"Coba berikan ini ke hidungnya nyonya siapa tahu dia sadar"


"Sayang kamu kenapa? ibu mohon bangunlah" Nirmala mulai menangis dan terisak.


Darah yang sangat banyak terus saja mengalih membasahi seluruh sprei yang digunakan Maria.

__ADS_1


"Kita harus panggilkan Dokter untuk datang kerumah bi!"


Bi Darsih mulai berjalan menuju telpon rumah dan segera meminta dokter untuk datang ke kediaman Danu.


__ADS_2