
Nirmala dan Bi Darsih cukup heran dengan apa yang dikatakan oleh sang dokter.
"Apa yang sudah terjadi pada Maria bik?
Nirmala kembali meratapi nasib putri semata wayangnya yang sudah kehilangan mahkotanya.
"Saya rasa anda harus secepatnya mendatangkan seorang ahli dalam hal spiritual sebab saya rasa nyawa anda dan pasien sudah benar benar dalam bahaya"
"Benar apa yang dikatakan oleh dokter nyonya. Kita harus secepatnya mendataangkan seorang ahli" Bi Darsih mulai menimpali perkataannya.
"Baiklah kalau ini adalah satu satinya cara untuk menyelamatkanku dan Maria"
Nirmala menghapus kasar air matanya dan tak lama kemudian saat ia akan bangkit dari kejauhan terlihat Danu dan Ria tengah berjalan kearah mereka.
"Ada apa ini? Maria kenapa?" Danu bertanya dengan sangat kencang sehingga seluruh mata memandang kearahnya.
__ADS_1
"Bapak bisa ikut saya ke ruangan saya. Tak enak jika kita berbicara diruangan ini. Mari" Dokter muda tersebut mengajak Danu dan Ria untuk menuju ruangannya.
Bi Darsih dan Nirmala pun ikut berjalan dibelakangnya.
Sesampainya mereka didalam ruangan sang dokter. Perdebatan serta perbincangan mulai terjadi diantara mereka. Hingga akhirnya ketika Dokter tersebut serta Nirmala ingin melakukan pengobatan secara spiritual, Danu dan Ria serempak menolak.
"Tidak! kalian tak perlu untuk berobat ke seorang kiyai ataupun semacamnya. Sudah ku katakan mungkin Maria sudah melakukan hal diluar batas dengan seorang pria baji**n yang tak bertanggung jawab!" Danu bersikeras dengan pikirannya.
"Lagi pula untuk apa juga kau berobat seperti itu? kau memang sudah tua dan penyakitan! seharusnya kau sadar diri dan lebih sering beristirahat bukannya malah keluyuran!"
Nirmala yang geram akhirnya buka suara dan mulai ikut menyalahkan Danu.
Ria hanya tersenyum licik dibalik wajah sedihnya. Ia begitu manja terus saja memegang lengan Danu dan tak mau melepaskannya.
"Lihat, ulat bulu itu! dia berani berani melakukan hal itu dihadapan semua orang! sungguh tak bermoral!" Nirmala muali berteriak dengan keras.
__ADS_1
"Jadi wanita tuh ngaca! kau sungguh tak menarik dan sudah seperti mayat. Ups" Ria yang tak kalah menyebalkan segera membuat cibiran untuk Nirmala.
"Sudah! sudah! jika kalian masih saja seperti itu, maka terpaksa kami akan membawa mada keluar rumah sakit! " dokter yang geram akhirnya membuat mereka terdiam membisu.
Danu memikirkan rencana untuk mempercepat kematian Nirmala agar ia dan Ria tak diseret dalam kasus Maria. Ia kemudian menatap Ria dan mengajaknya untuk segera pulang.
"Kau tunggulah anakmu disini. Aku akan pulang dan kembali esok" Danu memerintahkan Nirmala untuk patuh dan menuruti perkataannya
"Lalu apa yang akan kau lakukan? bersenang senang dengan wanita murahan ini? kau akan bercu**bu dengan wanita penggoda ini hah?!"
"Cukup Irma! aku sudah muak! kau diam disini dan jaga putriku"
Danu berjalan meninggalkan ruangan tersebut bersama Ria disampingnya. Dokter yang paham dengan situasi yang terjadi hanya menganggukan kepala dan tak mau banyak berkomentar.
"Baiklah kalau begitu. Ibu bisa istirahat terlebih dahulu seraya menunggu hasil lab"
__ADS_1
Nirmala menganggukan kepala dan mulai berjalan keluar ruangan diserta Bi Darsi yang setia menemaninya.
Kedua wanita itu kini terdiam merenungkan kondisi Maria yang saat ini semakin memburuk.