RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
86


__ADS_3

Semakin lama, semakin sakit hati Mira mendengarkan cerita Bi Darsih mengenai ibunya yaitu Nirmala. Jiwa Maria yang ebrada di tubuh Mkra bahkan tak bisa mengendalikan diri sehingga tanpa sadar ia mematahkan satu jari tangannya yang membuat bunyi sangat keras.


Krak!


"Nak! Nak Mira tak papa?" Bi Darsih yang panik segera melihat dan memegang tangan Mira yang begitu dingin.


Terlihat jelas gurat merah di salah stau jari Mira. Namun, Mira segera menarik tangannya agar tak terlalu lama di pegang oleh Bi Darsih.


"Ah, tak papa bi. Aku tak papa. Tadi aku tak sengaja menekan jariku terlalu kuat. Aku baik baik saja bi" Mira segera menyembunyikan tangannya di balik pakaian yang ia gunakan.


Bi Darsih mulai merasa aneh dengan suhu tubuh Mira yang negitu dingin bagaikan es, bahkan Bi Darsih pun baru sadar bahwa warna kulit mira begitu pucat tak seperti manusia pada umumnya.


"Apa Nak Mira baik baik saja? Apa kamu sakit nak?" Bi Darsih yang akan memegang dahi Mira sedikit sedih ketika Mira langsung menjauhkan kepalanya agar tak di sentuh oleh dirinya.


"Maaf jika bibi lancang ingin menyentuh dahi Nak Mira" Bi Darsih segera menundukan kepala.

__ADS_1


"Ah, maafkan aku bi. Maaf. Aku tak bermaksud menghindari bibi. Aku tak bermaksud menghindari sentuhan tangan bibi. Hanya saja keningku sedikit sensitif karena kulitku memiliki infeksi. Jadi jika ada yang menyentuh dahiku dengan tangannya, maka tangan yang memegang dahiku akan ikut tertular infeksi kulit diwajahku"


Mira sadar bahwa alasannya sangat tak masuk akal, namun Bi Darsih yang sudah renta pun hanya menganggukan kepala tanda mengerti dan seolah percaya dengan perkataan Mira yang menjelaskan tentang infeksi kukit di wajahnya yang menular.


"Lanjutkan bi ceritanya. Maaf jika saya menyakiti hati bibi" Mira memegang tangan Bi Darsih, berharap wanita paruh baya itu melanjutkan ceritanya.


Bi Darsih tersenyum dan mulai kembali menceritakan kisah tentang Nirmala, Danu dan Ria. Hingga saat kematian ibunya yang tragis karena di tumbalkan, Bi Darsih hanya menyebutkan bahwa ibunya meninggal karena penyakit jantung dan depresi yang selama itu ibunya derita.


"Sakit Non Maria yang tak kunjung sembuh, serta kelakuan Tuan Danu dan Nyonya Ria yang semakin menjadi, membuat Nyonya Nirmala mungkin stres dan depresi. Nyonya Nirmala adalah wanita yang kuat dan tegar. Bahkan bibi saja tak menyangka bahwa Nyonya Nirmala akan pergi secepat itu. Bahkan" ucapan Bi Darsih menggantung saat itu.


"Bahkan tak lama dari kematian Nyonya Nirmala, Non Maria pun pergi meninggalkan bibi dan lebih memilih untuk menyusul ibunya. Bibi sangat kehilangan, benar benar sangat kehilangan. Bukan karena bibi takut di pecat dan tak mendapat pekerjaan, tapi bibi sangat sedih ketika tahu majikan bibi yang baik, yang sudah bibi anggap sebagai anak sendiri pergi meninggalkan bibi seorang diri di dunia yang kejam ini. Bahkan Non Maria pun tega malah menyusul ibunya dan meninggalkan bibi sendirian"


Mira terdiam, ia tak tahu bahwa Bi Darsih merasa sangat kehilangan atas kematiannya.


"Bibi yang sabar ya, sekarang bibi jangan sedih. Mira ada disini sama bibi. Bibi bisa anggap Mira sebagai cucu atau anak bibi"

__ADS_1


Bi Darsih tersenyum dan memegang tangan Mira dengan erat.


"Sekarang bibi bahkan tak merasa takit dengan arwah Nyonya Nirmala sebab bibi yakin dia takan mungkin menyakiti bibi"


"Aku benar benar tak menyangka bahwa bibi menganggap bahwa arwah itu adalah arwah Nyonya Nirmala"


"Bibi dan seluruh orang dikampung ini bahkan pernah melihat wajah hancur Nyonya Nirnala saat malam hari bergentayangan. Jadi kami yakin bahwa hantu itu adalah Nyonya Nirmala"


Mira terdiam, ia memang selama ini menutupi wajahnya ketika menakuti orang orang dikampungnya, namun ia tak pernah tahu bahwa orang orang melihat wajahnya adalah wajah sang ibu.


"Apakah wajah Almarhumah Non Maria sangat mirip dengan ibunya?" tanya Mira.


"Ya, wajah Non Maria sangat mirip dengan Nyonya Nirmala"


Jadi inilah alasan kenapa seluruh warga bahkan Bi Darsih, Danu dan Ria memanggil arwah Maria sebagai Arwah Nirmala. Karena memang wajah Maria begitu mirip dengan ibunya walaupun Maria sering menampilkan wajah yang rusak serta tertutup rambut.

__ADS_1


__ADS_2