
Sarah menatap heran pada Mira yang kini mulai tampak semakin pucat. Entah kenapa Mira berbicara dengan aneh seperti orang yang akan pergi meninggalkannya.
"Apakah kau baik baik saja Mira? Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Apa karena aku yang selalu berbuat buruk padamu jadi kau akan pergi meninggalkan rumahku? Maafkan aku dan tetaplah tinggal dirumahku"
Mira tersenyum dan mulai menggelengkan kepala. Ia bahkan tahu bahwa Sarah mulai membuka hati untuknya dan akan berteman dengannya. Namun, misi Mira sebentar lagi akan selesai. Akan harus pergi dan tinggal bersama bangasa siluman seperti kesepakatannya dengan raja ular yang membantu dirinya untuk hidup kembali sebagai arwah.
"Tidak Sarah. Aku harus pergi. Aku akan bertemu dengan keluargaku dan mereka yang sudah membantuku. Aku takan mungkin mengingkari janji sebab itulah yang selama ini menjadi kebanggaanku. Janji itu harus ditepati"
"Baiklah kalau memang begitu keinginanmu. Tapi kau juga harus berjanji padaku untuk selalu menjengukku dikala aku membutuhkanmu. Aku akan memberikan handphone bekas yang ku simpan tahun lalu. Tenang saja ponselku masih bagus walaupun modelnya sudah ketinggalan"
Mira memeluk tubuh Sarah dan mulai menatapnya dalam. Berbeda dengan Sarah yang semakin terkejut dengan suhu tubuh Mira yang benar benar sangat dingin bahkan membuatnya sedikit ketakutan.
"Terimakasih banyak Sarah karena mau membuka hatimu untukmu. Kau baik dan ku harap kau selalu miliki hati yang baik apapun yang terjadi"
Mata Sarah membulat sempurna, ia benar benar yakin bahwa ada yang tak beres dengan Mira. Gadis di sampingnya itu benar benar aneh dan menyeramkan. Tubuhnya yang dingin serta wajahnya yang tampak begitu pucat, membuat Sarah mulai sadar bahwa Mira tampak begitu mirip dengan mayat hidup.
Selama ini Sarah hanya mengira warna tubuh Mira yang pucat karena memang Mira memiliki kelainan ataupun penyakit langka. Tapi setelah Sarah bersentuhan dengan bagian tubuh Mira ia mulai curiga bahwa Mira menyembunyikan rahasia besar tentang dirinya.
"Kau begitu pucat Mira, aku yakin kau pasti sedang tidak baik baik saja. ini kita sedang ada di rumah sakit dan aku akan membawamu untuk menemui dokter agar kesehatanmu bisa di periksa olehnya"
Sarah bangkit dan memegang tangan Mira dengan sangat erat. Ia bahkan sedikit menyeret tubuh Mira yang kaku namun Mira hanya menatapnya dengan tatapan mengerikan serta senyumannya yang aneh.
"Aku baik baik saja. Kau pergilah temui ibumu dan aku akan menunggu sampai pagi disini. Aku membutuhkan udara yang jernih agar pikiranku sedikit lega"
Sarah menghela nafas dan mulai melangkahkan kaki meninggalkan Mira sendirian di kursi halaman rumah sakit.
"Baiklah jika kau masih ingin disini. Ku rasa kau memang membutuhkan waktu sendiri dan sekali lagi mohon maafkan semua tingkah laku burukku padamu"
__ADS_1
"Tentu saja, aku tak pernah menganggap kau melakukan kesalahan padaku. Kau anak yang baik dan kau tak melakukan kesalahan apapun" Mira tersenyum kembali pada Sarah hingga gadis itu mulai melangkahkan kaki meninggalkannya.
*****
Awan hitam kini mulai berubah warna menjadi putih bersemu jingga. Sang fajar telah datang dengan sinarnya yang menyilaukan mata seorang gadis yang kini duduk lemas diatas kursi halaman rumah sakit.
Wajahnya kian pucat serta tubuhnya kian menjadi dingin. Beberapa hari lagi waktu yang dimiliki Maria di alam manusia untuk menuntaskan balas dendamnya pada Ria dan Danu. Tinggal selangkah lagi dirinya bisa membuat Danu menderita serta Ria yang terluka.
"Nak Mira kenapa?" tanya Bi Darsih yang baru saja datang menghampirinya.
Mira yang sangat lemas mulai menatap wajah Bi Darsih dan hanya tersenyum manis ke arahnya.
"Astagfirullah Nak Mira sakit?"
"Tidak bi, a..aku baik baik saja"
"Bagaimana mungkin kamu baik baik saja. Lihat wajahmu semakin pucat, tubuhmu juga berkeringat sangat banyak" Bi Darsih yang panik menyentuh kening Mira dan ia terhenyak ketika mendapati kening Mira begitu dingin dari biasanya.
"Minum? Baiklah kamu tunggu disini dan bibi akan ambilkan air minum untukmu. Ingat, kamu jangan kemana mana dulu!" Bi Darsih pun berlari dengan langkah yang tergopoh gopoh menuju lorong rumah sakit yang terdapat air minum di sana.
Wanita itu sangat cemas melihat Mira yang begitu lemah tak berdaya tak seoerti biasanya yang tampak bugar dan ceria.
"Aku harus pergi sekarang" Mira mulai berjalan menuju kamar mayat yang ada di rumah sakit tersebut.
Ia bahkan saat ini sedang mencari cari kamar mayat yang ada dirumah sakit sebab ruangan di rumah sakit tersebut sangat banyak. Tampak dari kejauhan seorang perawat tengah memasukan brangkar kosong kedalam ruangan sepi di pojok ruangan.
Hingga saat Mira membaca papan tulisan yang tertera diatas kamar tersebut, ia tampak senang dan mulai menghampiri perawat. Mira duduk di kursi depan kamar mayat seraya mulai menatap ke arah sekeliling tempat ia berada.
__ADS_1
Tak ada siapapun disana kecuali dia dan perawat tersebut. Mira mulai melancarkan aksinya, menepuk punggung sang perawat dan menghipnotisnya sehingga menuruti apapun kemauannya.
"Pergi dan tutup pintu ini dengan rapat" Mira mulai mengitruksikan perintah pada perawat yang sudah terkena hipnotosnya.
Perawat itu pun mulai meninghalkan Mira didalam sana dan menutup pintu dengan rapat namun tak menguncinya.
"Aku harus keluar dari tubuh ini terlebih dahulu" Mira mulai membaringkan tubuhnya diatas belankar dan tak lama kemudian arwah Maria pun keliar dari tubuh Mira.
Maria kini sudaj menjadi arwah dan mulai membacakan mantra agar sang raja siluman membuka portal ke dunianya. Samar samar mulai terlihat lubang hitam didinding kamar rumah sakit yang menjadi penghubung antara dunia manusia dan siluman. Tanpa menunggu waktu yang lama, Maria pun mulai masuk kedalamnya.
"Selamat datang di rumahmu sayang" sambut raja dengan senyuman di wajahnya.
Maria hanya diam dan segera berjalan menuju tempat jamuan di istana.
"Apakah kau sangat lapar ?" tanyanya lagi ketika melihat Maria mulai mengambil seekor ayam utuh yang masih banyak sekali terdapat darah.
Maria segera melahap ayam tersebut sampai tak tersisa sedikipun dan segera meminum cairan berwarna merah yang sudah disediakan pelayan diistananya
"Apa misimu berhasil ?" tanya sang raja seraya mulai menci**m tengkuk leher Maria.
"Belum. Malam ini akan ku buat dia menderita"
Sorot mata kemarahan yang Maria tunjukan begitu menyeramkan. Ia tak mengurungkan niat balas dendam pada Danu dan Ria bahkan setelah Sarah bersikap baik padanya. Maria bukanlah tak merasa iba pada Sarah, hanya saja ia pun ingin menuntaskan misi yang selama ini ia nantikan.
"Lalu bagaimana gadis itu? Apakau mengingkannya untuk mati?" tanya sang raja berbisik ditelinga Maria.
"Tentu tidak! Aku membenci ibunya namun aku takan pernah menbenci dia. Walau bagaimanapun ibu serta ayahnya sangajt beja* tapi aku tak sanggup meluapkan semua kemarahan padanya"
__ADS_1
Raja pun tersenyum ia kemudian membelai pipi Maria yang masih bersimbah darah.
"Kalau begitu akan ku bantu untuk dia tiada dengan cepat. Namun kau harus menuntaskan terlebih dahulu hasratku Maria"