RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
203


__ADS_3

Danu terus memikirkan Mira dan ia pun baru sadar bahwa dirinya kini harus segera membereskan semua masalah yang terjadi semalam. Ia bahkan tak tahu bahwa para polisi esok pagi akan menhgeledah rumahnya dan mencari sidik jari di tkp untuk menentukan siapa pelaku yang sudah membuat kekacauan di rumahnya.


Tak lama kemudian, salah seorang perawat datang dan mulai terkejut ketika melihat Danu yang sudah sadarkan diri.


"Tuan sudah sadar?" tanya perawat itu pada Danu.


Perawat itu pun lantas mengecek kondidi tubuh Danu dan mulai pergi mencari dokter untuk mengecek kondisi tubuh Danu. Mira, Bi Darsih dan Sarah yang melihat perawat itu sedikit berlari setelah masuk ke dalam ruang perawatan Danu, mulai panik dan mencoba masuk kedalam ruangan.


Untung saja Mira yang sadar dengan prosedur rumah sakit mencegah Sarah agar tak masuk kedalam sana dan mulai menenangkan Sarah.


"Kau tenanglah dulu. Kita tak boleh masui jika perawat atau dokter itu tak menyuruh kita untuk masuk"


"Kau tak tahu apapun! Kau bahkan tak perduli dengan kondisi ayahku yang sudah membawamu ke dalam rumahku! Jadi kau diam saja"


Bi Darsih yang sadar dengan keributan itu pun mulai mencoba menenangkan Sarah dan membenarkan ucapana Mira.


"Nak Mira benar non. Kita tak bisa masuk kedalam sana jika dokter dan perawat tak menyuruh kita untuk masuk. Non Sarah tunggulah sebentar. Nanti jika perawatnya sudah dayang kembali, kita tanyakan kondisi tuan"


Sarah berdecak kesal. Ia sangat khwatir dengan keadaan ayah dan ibunya namun ia pun bingung harus melakukan apa. Hingga tak lama kemudian datanglah perawat yang tadi sebelumnya masuk, kini datang bersama seorang dokter.


Sarah menghadang langkah dokter itu sehingga membuat sang dokter keheranan.


"Apa ada yang bisa saya bantu? Maaf saya buru buru nanti saja bicaranya. Permisi" dokter itu berkata pada Sarah dengan lembut dan sopan.


Namun gadis keras kepala itu tetap menghalangi jalan sang dokter dan mulai meluapkan semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.


"Apa yang terjadi pada ayah dan ibu saya dok? Katakan apa yang sehenarnya terjadi pada ayah dan ibu saya"


Dokter itu pun hanya bisa menghela nafas kala mendengarkan ucapan Sarah. Sang dokter hanya tahu kondisi Danu dan Ria pada saat mereka masuk kedalam rumah sakit dan saat ini ia pun baru akan mengecek kondisinya kembali namun malah dihadang oleh gadis remaja ini.


"Maaf nak, saya belum tahu apa yang terjadi pada ibu dan ayah anda. Saya baru akan mengecek kondisinya kembali dan kamu malah menghadang jalan saya. Kamu tak perlu khawatir nak, saya akan lakukan yang terbaik dan mohon kerjasamanya"


Sarah mulai mundur dan membiarkan dokter itu masuk kedalam ruangan ayahnya. Sarah pun hanya mampu melihat sang dokter dari kaca jendela dan ia baru melihat ayahnya kini membuka matanya.


Tampak dengan jelas raut wajah senang dan bahagia pada Sarah saat melihat kondisi ayahnya yang bisa membuka matanya saat ini. Ia yakin bahwa sang ayah baik baik saja dan tak ada yang perlu di khawatirkan.

__ADS_1


"Syukurlah" gumam Sarah pelan.


Bi Darsih yang mendengar anak majikannya mengucap syukur pun mulai penasaran dan ikut melihat kondisi Danu dari jendela.


"Alhamdulillah tuan baik baik saja"


Mira yang mendengar ucapan Bi Darsih pun segera tersenyum licik. Ia bahkan sudah menyusun rencana selanjutnya untuk membuat Danu dan Ria semakin frustasi dan menderita.


"Ayahku baik baik saja bi" ucap Sarah senang seraya memeluk tubuh Bi Darsih dengan erat.


"Tapi, ibuku bagaimana kondisinya bi?"


"Kemarin dokter mengatakan bahwa Nyonya Ria saat ini belum bisa di jenguk siapapun. Ia masih dalam kedaan lemas dan tak sadarkan diri akibat banyak kehilangan darah"


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi bi? Apa ibu mencoba bunuh diri karena frustasi mendapat teror terus terusan dari seta*n itu? Atau apakah ayah menyimpan wanita lain sehingga ibu marah dan terjadi pertengkaran hebat?"


"Entahlah non, Bibi pun tak tahu. Saat ini kita harus terus doakan kesembuhan tuan dan nyonya. Karena itulah yang saat ini mereka butuhkan"


"Lalu polisi akan mengusut tuntas tentang kasus ini bi? Apakah bisa mereka mengusut sebuah kasus percobaan pembunuhan yang dilakukan seorang hantu? Itu adalah hal yang mustahil"


Dokter bersama perawat, keluar dari kamar Damu dan mulai menjelaskan semua kondisi Damu yang kian membaik.


"Syukur alhamdulillah kondisi pasien semakin membaik, hanya saja tulang dan tubuhnya masih sangat lemah untuk di gerakan karena benturan yang sangat keras. Untung saja tulang pasien tak ada satu pun yang patah ataupun rusak. Walaupun ini cukup aneh, tapi alhamdulillah pasien bisa bertahan dengan tubuh yang banyak sekali terdapat memar.


"Alhamdulillah tuan baik baik saja non" Bi Darsih memeluk tubuh Sarah dan mencium keningnya.


Sarah pun mulai izin masuk kedalam ruangan ayahnya untuk mencari tahu apa yang sebanrnya sudah terjadi.


"Kalian semua sekarang boleh masuk menemui pasien. Namun ingat, jangan sampai pasien stres ataupun kelelahan. Saya permisi"


"Baik dok. Terimakasih"


Sarah, Bi Darsih dan Mira mulai masuk kedalam ruang perawatan Danu. Terlihat pria itu tengah menatap lamgit langit kamar dengan tatapan yang kosong.


"Ayah" ucap Sarah pelan.

__ADS_1


"Ayah baik baik saja?" tanya Sarah seraya mulai mendekati ayahnya itu.


Danu hanya diam dan mulai menatap putrinya yang kian mendekat ke arahnya. Entah kenapa hati Danu sangat dingin kepada Sarah saat ini. Bahkan ia pun tak menunjukan ekspresi bahagia melihat putrinya tersebut.


Lain halnya kala ia mulai melihat ke arah gadis di samping Bi Darsih. Senyum Danu seketika sumringah ketika melihat Mira yang sangat cantik mendekat ke aarahnya.


"Ayah baik baik saja kan?" tanya Satah sekali lagi.


Danu yang ingin dinilai sebagai pria yang baik pun mulai berusaha memeluk tubuh Sarah dan mencium keningnya di hadapan Bi Darsih dan Mira. Mata Danu tak lepas dari Mira yang saat ini tengah tersenyum manis kepadanya.


"Syukurlah jika ayah baik baik saja. Aku cemas memikirkan kondisi ayah. Begitu pun Bi Darsih dan Mang Kardi"


"Lalu apakah Mira tak khawatir?" tanya Danu.


Sontak saja semua orang terkejut mendengar perkataan Danu. Tak terkecuali Mira sendiri.


"Maksud ayah apa?" tanya Sarah heran.


"Ah, mak..maksud ayah apakah Mira tak khawatir dengan kondisi Ria dan aku? Kan kita semua sekarang berkeluarga. Jadi dia juga sudah ku anggap anak sendiri"


Sarah masih bingung dengan perkataan ayahnya. Namun saat ayahnya mengucapkan nama ibunya, Sarah pun teringat bahwa kondisi ibunya saat ini masih belum jelas.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada ayah dan semalam? Apakah ada sesuatu yang membuat kalian ribut dan bertengkar?"


Danu segera menggelengkan kepala. Ia takut di tuduh sebagai orang yang melakukan tindak kekerasan terhadap istrinya.


"Tentu saja tidak nak! Ini semua perbuatan set*n sialan itu! Dengan mudahnya seta* itu masuk ke kamar ayah dan ibu lalu membuat kami seperti ini!"


"Iya yah, aku pun berfikir bahwa ayah takan mungkin melakukan hal jahat pada ibu dan itu pun sebaliknya. Ibu tak mungkin menyakiti ayah. Namun, sayangnya para polisi tak percaya dengan teror arwah itu dan tetap akan melakukan olah TKP dirumah kita"


"Olah TKP? Dirumah kita? Tidak! Tidak! Ini tak bisa di biarkan!"


"Memangnya kenapa ayah? Polisi hanya ingin memastikan bahwa ayah atau pun ibu bukan pelakunya. Dan polisi pun hanya ingin memastikan bahwa tak ada orang jahat di ruamh kita. Mereka semua tak percaya dengan tindak kejahatan yang dilakukan makhluk tak kasat mata jadi ingin mencati sidik jari ataupun temuan yang aneh di ruamh kita"


Danu seegera bangkit walaupun badannya masih sangat terasa sakit. Ia takut bahwa jika polisi itu sampai mengeledah rumahnya, maka pesugihan yang ia lakukan akan terungkap dan semua orang akan tahu bahwa dirinya menjadi kaya karena bersekutu dengan ibl* .

__ADS_1


__ADS_2