
Danu dan Ria kini berada diluar rumah sanh dukun. Keduanya tampak kebingungan dan tak bisa melakukan apa apa. Danu yang marah dengan Ria akhirnya mulai meninggalkannya berjalan di depan.
Emtah kenapa istrinya sangatlah bersikap semena mena dan sangatlah kasar pada siapapun. Danu sebenarnya sudah muak dengan Ria dan ingin menyingkirnya istrinya tersebut, namun perjanjian pesugihan yang selama ini mereka lakoni tak bisa di hentikan.
Ria sudah menjadi partnernya dalam kesesatan.
"Mas tunggu aku!" teriak Ria dengan keras.
Danu menoleh dan langsung kembali berjalan meninggalkan istrinya yang terlihat sangat kesusahan berjalan karena sendal yang ia pakai.
"Mas tunggu aku!"
"Kamu tuh sudah bikin aku si*! Kini bikin aku pusing , tahu gak!"
"Ya terus, kamu mau ninggalin aku disini sendiri gitu?" Ria yang kesal mulai membentak Danu.
"Kalau punya mulut tuh dijaga! Jangan sampai orang kata katamu bisa membuatmu mati sia sia! Dukun itu sudah membantu kita menjadi orang kaya Ri! Kamu ingat itu! Harusnya jaga bicaramu tadi! Jadi sia sia kan kita datang kemari"
Danu terus saja berjalan meninggalkan Ria yang kesusahan mengejarnya. Dengan tangan yang memegang sandal, Ria mencoba berlari kecil agar jaraknya dengan Danu tak terlalu jauh.
__ADS_1
"Semua ini gara gara si seta** Mala! Jika bukan karena dia yang selalu meneror kita, mungkin kita nanti tak harus menyiapkan gadis untuk tumbal"
"Diam! Si mbah tadi sudah katakan bahwa arwah itu bukanlah Nirmala. Aku yakin bahwa ada yang tak beres telah terjadi di rumah kita" Danu mulai terdim memikirkan siapa sebenarnya arwah yang selalu menerornya.
"Lalu, jika bukan Nirmala, maka siapa mas? Toh gak ada yang meninggal dikampung kita"
"Aku sangka, yang meneror kita adah arwah dari orang yang sudah kita tumbalkan sebelumnya"
Ria terdiam. Ia kemudian mencoba mencern perkataan Danu.
"Apakah salah satu gadis yang sudah kita tumbalkan mencoba membalaskan dendam atas kematiannya? Kalau begitu, maka kita harus membakar arwah itu mas"
Ria hanya bisa menundukan kepala, ia memang merasa bersalah karena sudah mengatakan hal yang cukup kasar pada dukun yang selama ini selalu membantunya.
"Ya sudah kita masuk saja kedalam mobil dan pikirkan cara untuk mencari tahu sosok sebenarnya si set*n itu"
Danu dan Ria pun akhirnya masuk kedalam mobil dan mulai terdiam memikirkan rencananya. Tak lama kemudian, hujan pun turun tiba tiba dengan sangat deras.
"Hujan?" Ria bergumam dengan heran.
__ADS_1
"Iya hujan! Kau pikir ini apa" Danu menjawab dengan ketus perkataan Ria.
Seketika, seluruh hutan menjadi sangat gelap dan jarak pandang pun semakin pendek. Lampu mobil menyala dengan terang hingga membuat Ria dan Danu bisa dengan jelas melihat sekeliling hutan yang begitu gelap karena hujan.
Petir menyambar dengan keras. Ria yang mulai ketakautan pun memegang tangan Danu dengan sangat erat.
"Tak usah pegang pegang Ri! Kau bukan anak kecil!' Dengan ketus ia menyungkirkan tangan Ria yang baru saja memegang tangannya..
Ria mengambil ponsel didalam saku celananya. Dia begitu terkejut memihat jam di ponselnya yang menunjukan pukul enam malam.
"Pukul enam"
"Jangan mengada ngada! Jika matamu minus setidaknya pakailah kacamata!"
"Tidak mas, aku tak minus! Mataku baik baik saja. Lihat ini" Ria memberikan ponselnya pada Danu.
Jam di ponsel Ria memang menujukan pukul enam malam.
"ponselmu sudah rusak pasti" Danu kemudian merogoh saku celananya dan ia pun terkejut ketika melihat jam di ponselnya, sama menujukan pukul enam malam.
__ADS_1
"Ini tak mungkin! Ini pasti salah. Kita harus pulang cepat Ri" Danu menyalakan mesin mobilnya namun tak bisa. Mobilnya mogok dan tak bisa menyala.