
Maria perlahan lahan berjalan mendekati Antareksa yang masih duduk diatas ranjang bersama putri kecilnya. Ia menatap putrinya dengan penuh kasih sayang dan segera menatap nyalang kearah Maria.
"Aku memanglah seorang siluman, namun aku tak sejahat kau yang semula adalah manusia kini menjadi sekutu ibli*!"
Maria tertawa mendengarkan ucapan Antareksa yang cukup kasar padanya. Maria menggelengkan kepala seraya terus mendekati tubuh Antareksa.
Maria membelai wajah Antareksa dan mulai mendekatkan wajahnya kearah Antareksa.
"Kau dan kakakmu lah yang sudah mengubahku menjadi seorang ibl**! Kau bahkan tak membantuku ketika aku ingin pulang menemui ibuku yang tengah sakit. Apa kau ingat saat kau merebut segalanya dariku? Apa kau ingat saat aku tak sadarkan diri kau malah menikm**ti tubuhku? Apa kau ingat saat aku memintamu untuk membantuku? Kau rupanya sudah tua" Maria tersenyum dengan mengerikan.
"Aku memang bersalah padamu dan aku pun menyesali semuanya. Kau adalah manusia yang baik dan tak sekali pun kau menyakiti orang lain. Lalu mengapa sekarang kau malah seperti ini dan berlagak seperti seorang ibl*? Kau bahkan tak memperdulikan anakmu yang sedang membutuhkan kasih sayangmu"
"Cuih! kasih sayang kau bilang? hatiku sudah mati bersamaan dengan kematian ibuku! Kau telah ikut serta membuatku begini! Kau dan kakakmu tak layak untuk berbicara so bijak dihadapanku. Lagi pula sekarang aku bukan lah manusia, jadi sekarang aku bebas melakukan apapun sesuka hatiku"
"Aku bahkan sekarang tak mengenalimu Maria. Aku tak kenal dengan dirimu yang lugu" Antareksa menundukan kepala dan mulai menteskan air mata kala melihat putrinya.
Maria hanya tersenyum dan mulai menatap cermin dihadapannya.
__ADS_1
"Apa dulu kau mengenalku Antareksa? Apa kau pernah mengenali karakterku hah?! Apa kau pernah menjadi sahabat baikku dan mendengarkan setiap keluh kesahku hah? Tidak! Sekalipun kau tidak pernah membantuku! Kau sama busuknya seperti kakakmu itu. Sekarang ikuti saja permainanku dan kau bisa diam seperti dulu kau yang selalu menyuruhku untuk diam"
"Aku tak sudi jika harus melakukan apa yang kau mau Maria. Aku sungguh tak menginginkanmu"
"Dulu kau menatapku penuh dengan nafsu dan membuatku menderita sejak dulu. Lalu sekarang ketika aku membutuhkan tubuhmu kau malah tak mau. Kau bilang kau tak sudi bersamaku, tapi kau tak pernah sadar diri ketika dulu kau melakukannya padaku aku pun tak sudi dan sangat jijik padamu"
Maria mulai berjalan meninggalkan Antareksa yang berusaha memalingkan wajahnya dari Maria.
"Baiklah jika kau tak mau, aku akan menghabiskan malam ini bersama kakakmu sang raja"
Dengan langkahnya yang cepat, Maria sehera meninggalkan kamar antareksa dengan amarah yang menggebu. Sejak dulu Maria memang tak ingin jika tubuhnya ternodai dengan yang bukan mukhrimya. Namun saat setelah dirinya mati, hati serta keimanannya ikut mati sebab dendamnya yang membara. Maria bahkan lupa nilai nilai agama yang selaman ini selalu ia terapkan dalam kehidupannya.
"Ada apa kau kemari sayang? Apa kau merindukanku?" Raja mulai mengelus tubuh Maria yang terbalut dengan pakaian yang minim khas kerajaan.
Raja mulai menghirup dalam dalam aroma tubuh Maria. Maria yang terbuai pun mulai melakukan hal yang sangat menjijikan.
"Kau sungguh menginginkannya sayang? Sekarang kau sama sepertiku. Kau adalah canduku Maria"
__ADS_1
Raja mulai melancarkan aksinya yang disambut hangat oleh Maria. Maria bahkan sangat senang dengan permainan sang raja. Namun sang raja tak tahu bahwa saat ini Maria tengah membayangkan melakukannya dengan Antareksa. Ia benar benar terus memikirkan adik dari penguasa kerajaan siluman itu.
*****
Disisi lain Antareksa menatap lekat pada putriinya yang tidur dengan lelap. Ia membelai rambjt putrinya dan kemudian mencium kening putrinya tersebut.
"Ada apa dengan ibumu? Apa yang sudah terjadinya padanya? Aku sungguh menyesal karena membuat hidupnya hancur bahkan dia pun tak jubantu untuk menemui ibunya untuk terakhir kalinya. Aku sungguh menyesal. Kau adalah darah dagingku dan kau sangat cantik sama seperti ibumu. Kau memiliki darah siluman dan manusia, namun aku ingin kau tumbuh menjadi baik dan tak menyakiti siapapun. Cukup aku dan ibumu yang memiliki hidup yang kacau"
Putri Antareksa menggeliat kecil dan mulai membuka matanya pelan.
"Ayah" ucap pelan putri kecilnya.
Balita itu sungguh cantik dengan wajahnya yang putih serta bola matanya yang menarik.
"Tidur kembali. Ku tahu kau masih mengantuk"
Dia menganggukan kepala dan mulai mencoba meraih wajah ayahnya. Tangab mungil itu sungguh membuat hati Antareksa terenyuh. Walaupun dirinya sangat keras dan apa adanya. Namun sebisa mungkin antareksa memberikan yang terbaik untuk putrinya.
__ADS_1
Bahkan pernah sekali ketiga putra raja mencoba memberikan potongan daging manusia pada putrinya, Antareksa yang tiba tepat waktu melihat kejadiannya langsung melemparkan piri berisi jari jani" yang dibawa raja dari pelaku pesugihan. Antareksa benar benar tak ingin jika anaknya memakan makanan yang buruk. Sehingga ia memberikan makanan berupa hewan mentah kepada putrinya. Sebab itu lebih baik daripada daging manusia pikirnya.