RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
48


__ADS_3

Tak berselang lama akhirnya Dokter pun datang dengan peralatan lengkap yang sudah ia bawa didalam tas kerjanya. Bi Darsih yang mendengar bel rumah dibunyi segera turun dan membukakan pintu.


Ria dan Danu saat ini sedang tak ada di dalam rumah hingga membiat Bi Darsih harus terburu buru membuka pintu dengan langkah yang mulai pelan.


"Tunggu sebentar!" teriak Bi Darsih saat berada di tangga mewah dirumah majikannya.


Ceklek!


Pintu dibuka dengan lebar, terlihat sekrag dokter muda tengah berdiri dengan senyum yang manis mengarah ke arah Bi Darsih.


"Silahkan masuk dok" ucap Bi Darsih dengan tubuh yang bergetar.


"Assalamualaikum" ucap dokter muda tersebut.


"Waalaikumsalam" Bi Darsih menyauti dan segera berjalan menunjukan kamar Maria pada sang dokter.


Dokter muda tersebut berjalan menaiki tangga bersama Bi Darsih di sampingnya. Ia bukanlah dokter biasa sebab ia pun memiliki indra ke enam dan ia sadar bahwa ada yang tak beres didalam rumah tersebut.


"Dimana pasiennya Bi?" tanya dokter tersebut dengan ramah.


"Itu dok. Itu pasiennya. Non Maria mengalami pendarahan padahal ia saat ini sedang ada dalam keadaan tidur"


Dokter tersebut mengernyitkan kening dan mulai penasaran dengan penyakit yang diderita pasiennya.


"Apa pasien sedang mengandung sehingga mengalami pendarahan diarea sensitivnya?"


Nirmala yang menyadari bahwa dokter telah ada segera bangkit dan memberikan jalan untuk dokter agar memeriksa putri semata wayangnya.


"Dokter sudah sampai. Tolong dok selamatkan anak saya" Ucap Nirmala dengan tangis yang membasahi pipinya.


Dokter tersebut begitu terkejut ketika melihat keadaan Nirmala yang begitu kurus dan ringkih dengan wajah yang sudah menyerupai wanita tua.

__ADS_1


"Iy..iya baik nyonya. saya akan memeriksa anak anda" .


Tanpa basa basi doker itu kemudian mengecek kondisi Maria hingga saat ia melihat begitu banyak darah yang menempel disprei yang digunakan Maria ia sedikit canggung dan ragu.


"Periksa saja anak saya dok. Saya tak akan menuduh anda macam macam. Saya tahu anda hanya menjalankan tugas"


"Emh sebaiknya anak anda dibawa kerumah sakit saja untuk melakukan ronsen ataupun tes lab. Saya bukannya tidak profesional hanya saja penanganan dirumah anda cukup sulit karena kurangnya alat untuk melakukan prosedur yang ada. Saya hanya akan membersihkan area sensitifnya juga mengecek secara manual"


Dokter tersebut kemudian perlahan lahan membuka celana yang digunakan Maria dengan diawasi Bi Darsih dan Nirmala yang megawasinya.


"Astagfirullah!" pekik sang dokter dengan terkejut.


"Ada apa dol?!" tanya Nirmala dengan panik.


Dengan keringat yang mengucur deras, serta tangan yang gemetar.


"Ad..ada sesuatu diarea sensitif pasien. Segera anda pakaikan kain yang bersih dan kita akan bawa dia ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganann yang tepat"


Dengan pakaian yang sudah bersih, akhirnya Nirmala dan Bi Darsih menunggu kedatngan ambulan yang ditelpon oleh doktr muda itu dengan perasaan gusar.


Nirmala dan Bi Darsih begitu penasaran dengan apa yang dilihat oleh sang dokter diarea sensitif Maria.


Tak berselang lama bunyi sirine ambulan sudah semkin dekat dikediaman Danu. Hingga saat mobil itu sampai didepan halaman beberapa perawat mulai turun dan menggotong tubuh Maria masuk kedalam ambulan.


Bi Darsih dan Nirmala senantiasa duduk disamping Maria yang saat ini masih tetap diam dengan mata tertutup. Mereka sangat panik dengan keadaan Maria yang semakin memburuk apalagi darah yang keluar dari kema**annya tadi begitu banyak.


"Ada apa lagi dengan putriku bi?" tanya Nirmala disela isak tangisnya.


"saya juga tak tahu nyonya. kita doakan saja supaya Non Maria cepat pulih dan tak ada hal buruk apapun yang akan terjadi"


Bi Darsih mencoba menengkan Nirmala dengan cara memeluk tubuhnya. Tangisnya begitu pilu didengar sampai sampai dojter yang berada disampingnya ikut terdiam dan bersedih.

__ADS_1


"Maaf saya tak tahu apa yang keluarga anda lakukan. Tapi jujur saja semua itu sangatlah tak baik dan bisa bisa mengancam nyawa seisi rumah" ucap Dokter tiba tiba saja.


Nirmala terdiam dan mulai menatap sang dokter.


"Maksud dokter apa?"


"Ah. Bukan apa apa. Saya hanya takut terjadi sesuatu pada pasien dan anda nyonya. Saya adalah manusia biasa yang hanya memiliki sedikit kelebihan yang Allah berikan pada saya. Tadi ketika saya berada di rumah nyonya,tanpa sengaja saya melihat sosok yang membantu pesugihan yang anda lakukan" dokter itu menundukan kepala dan menjelaskan dengan pelan.


"Saya tak melakukan semua itu dok! anda jangan fitnah! Bi Darsih pun tahu saya dan keluarga saya tak mungkin melakukan perbuatan tercela itu" Nirmala yang kesal ssgera meluapkan amarahnya pada sang dokter.


"Sekali lagi maaf saya bukan menuduh anda. Tapi saya menyampaikan apa yang saya lihat. Anak anda sedang berada dialam lain dan saat ini ia sudah menikah dengan raja siluman karena seseorang telah memberikannya sebagai perjanjian. Dan maaf, anda sendiri sudah ditumbalkan dan sudah menjadi mangsa salah satu jin yang menyuruhnya"


Nirmala terdiam dan mulai menyadari apa yang dimaksud oleh sang dokter. Kepala nya berputar dan mencerna setiap ucapan dokter tentang dirinya. Walaupun ia tak merasa melakukan musyrik tapi ia tak tahu mungkin saja sahabatnya yaitu Ria sudah melakukan perjanjian dengan ibl*


"Jadi selama ini saya sakit karena sudah menjadi tumbal dari pesugihan seseorangm Begitu dok?" tanya Nirmala memastikan.


"Ya, mungkin saja. Saya juga tak yakin. Hanya saja saya merasa bahwa sakit anda begitu misterius dan saya lihat darah di tubuh anda begitu sedikit. Saya mungkin bisa mengjra ngira dengan kelebihan yang saya miliki namun nanti kita cek lagi di lab tentang kondisi anda"


Nirmala mulai menetapkan bahwa ini semua berkaitan dengan suaminya dan Ria. Mereka pasti melakukan ini karena untuk menyingkirkan Nirmala dari kehidupan mereka.


"Baik. Saya mohon agar anda membantu anda untuk kesembuhan saya dan anak saya" Nirmala memohon.


"Saya bukanlah ahli dalam hal itu nyonya, saya hanya menyampaikan apa yang bisa saya lihat"


"Saya yakin anda bisa emmbantu saya dan putri saya. Saya mohon"


Dokter tersebut tertegun dan mulai memikirkaj kembali ucapan Nirmala.


"Baiklah saya akan membantu semampu saya. Tapi anda jangan terlalu berharap pada saya sebab semua takdir dan hasilnya hanya Allah saja yang tahu dan dialah yang menentukan"


"Saya paham dok. Terimakasih sebelumnya karena sudah memberitahu saya mengenai apapun yang dokter lihat di rumah saya. Saya sekali berterimaksih"

__ADS_1


Tak lama kemudian ambulan pun telah sampai dihalaman rumah sakit. Dan akhirnya mereka pun turun dengan Maria yang berada diatas brankar dan dibawa keruang UGD.


__ADS_2