RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
78


__ADS_3

Danu memegang keningnya yang terasa sakit dan berdenyut nyeri. Ia kembali menatap Ria dan membuang kembali mukanya ketika mata mereka saling berpapasan satu sama lain.


"Kau kenapa mas? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Ria bertanya dengan nada pelan.


"Aku tak papa. Kau kembali lah tidur dan maafkan aku karena sudah melakukan hal mengerikan padamu tadi. Besok kita akan ?erhi menemui dukun itu dan memintanya melenyapkan arwah set**n itu! Sudah mati pun masih saja merepotkan!" Danu berdecak kesal.


Ia kemudian kembali berbaring memunggungi Ria yang menatapnya dengan heran.


******


Angin bertiup dengan kencang malam ini. Sarah yang tak bisa kembali tertidur pun bangkit dan berjalan menuju kamar Mira. Ia penasaran dengan gadis itu yang tetap tertidur pulas walaupun ia berteriak tadi sangat keras.


Apakah jangan jangan Mira sudah pergi dari rumahnya sehingga ia tak datang saat Sarah membutuhkan bantuan. Sarah terus berjalan menuju kamar Mira dan saat ia membuka pintu dengan pelan, ia melihat tubuh Mira yang terbaring dengan mata tertutup.


Ternyata memang benar Mira tertidur dengan sangat pulas hingga tak bangun ketika ia berteriak tadi.


"Dasar kebo" gumam Sarah pelan.


Ia kemudian berbalik untuk kembali ke kamarnya, namun ia mendengar kembali rintihan di kamar sebelah. Kali ini rintihan itu terdengar biasa saja tak semenyeramkan dahulu saat Sarah pertama kali mendengarnya.


Perlahan lahan Sarah mulai berjalan kembali ke kamarnya yang bersampingan dengan kamar kosong tersebut. Ditempelkannya telinga dan mulai mendengarkan suara rintihan itu agar jelas.


Maria menangis di dalam kamar yang dulu ia tempati. Ia mencoba menarik perhatian Sarah agar mau membuka kamar tersebut dan kembali mencari tahu tentang kejahatan ayahnya.

__ADS_1


Sarah mendengarkan suara rintihan itu dengan detak jantung yang berdegub kencang. Ia takut bahwa sang ayah akan melihatnya berdiri disini dan memarahinya lagi. Hingga akhirnya Sarah pun melangkah pergi menuju kamarnya dan menghiraukan suara rintihan tersebut.


Ia memilih menelungkup seluruh tubuhnya dengan selimbut tebal dan memejamkan mata agar tertidur.


*****


Pagi telah tiba, Danu yang sudah bangun sejak pukul lima dini hari telah berpakaian rapih seraya mulai mengepak beberapa bunga didalam plastik yang ia masukan kedalam bagasi mobilnya.


Dari jendela, Sarah yang sudah terbangun pun menatap sang ayah yang sibuk berkutat dengan mobilnya seraya mulai mencari cara agar ayahnya itu mau mengatakan sebenarnya apa yang selalu ayahnya lakukan setiap kali pergi membawa banyak bunga.


Ditempat yang lain, Maria yang sudah kembali masuk ke dalam raga Mira menatap penuh kebencian pada Danu yang tengah menyiapkan sesajen untuk ia bawa ke sang dukun jahan**m.


"Sayang cepat turun ! Ibu akan pergi sama ayah untuk urusan penting. Kau makan bersama Mira saja. Bi Darsih sudah siapkan makanan untuk kalian!" Ria berteriak dengan kencang hingga membuat Sarah terburu buru menuruni anak tangga.


"Ibu mau pergi kemana? Kenapa ibu pergi? Ibukan masih lemah. Untuk apa ibu terus terusan pergi membawa banyak sekali bunga? Apakah ibu melakukan sesuatu hal yang salah ?" tanya Sarah tanpa henti.


Dari sisi lain Danu yang mendengar perkataan putrinya kembali naik pitam dan memarahi gadis tersebut.


"Sudah ayah katakan jangan banyak bicara dan bertanya! Kau diamlah disini dan jangan pergi ke sekolah dulu. Ayah dan ibu ingin kau terbebas dari bahaya maka ayah ingin menemui seseorang untuk menjaga keliarga kita dari arwah sialan itu! Kau diam dirumah saja bersama Mira. Dia akan menemanimu di rumah ketika kami pergi"


Sarah terdiam tak mampu melawan perkataan ayahnya. Ia sekarang paham bahwa ayahnya memang sudsh berubah dan itu karena arwah yang terus saja meneror keluarganya. Dari kejauhan nampak Mira yang baru saja turun dari lantai dua dan menghampiri Ria seraya menundukan kepala.


"Maafkan saya nyonya jika perkataan saya kemarin menyakiti anda. Saya akan pergi sekarang" Mira menyeret kopernya dengan langkah yang pelan.

__ADS_1


"Kamu jangan pergi. Saya masih membutuhkanmu di rumah ini. Saya sudah memaafkanmu karena itu juga memang kesalhan saya. Jadi saya mohon tinggalah disini dan temani Sarah saat kami pergi "


Sarah menatap ibunya dengan tatapan heran. Ia paham betul sifat ibunya yang arogan terhadap siapapun namun kali ini dengan mudahnya sang ibu memohon pada Mira yang merupakan orang asing.


"Sarah bisa sendiri kok bu dirumah. Lagian ada Bi Darsih juga disini. Biarkan Mira pergi jika memang ia ingin pergi" Sarah menimpali perkataan ibunya.


"Jangan katakan itu! Tak sopan! Ayah tak mengajarkanmu untuk berkata demikian, seolah olah kau memang mengharapkan Mira untuk pergi. Sekarang kau diam dan turuti saja perkataan ayah dan ibumu." Danu kembali membentak Sarah.


"Tapi saya memang pantas untuk pergia nyonya" Mira berpura pura lemah dan meneteskan air kata palsunya.


"Sudahlah Mir, Ria juga sudah memaafkanmu. Kau tinggalah disini dan temani Sarah" Danu memegang pundak Sarah.


Ria yang melihat hal tersebut pun hanya diam tak menegur ataupun marah pada sikap suaminya.


Sarah yang kesal akhirnya berlari menuju kamarnya dan segera menutup pintu dengan kencang. Danu yang melihat kelakuan putrinya semakin geram dan pergi berlalu menuju mobilnya yanga terparkir di halaman rumah.


"Ini semua karena kau yang selalu memanjakannya. Dia sungguh tak memiliki sopan santun"


Ria acuh dengan ucapan Danu dan membelai pucuk kepala Mira. Entah kenapa Ria merasa sangat menyayangi Mira walaupun ia baru saja mengenalnya.


"Kau temani saja Sarah disini. Kami akan pergi dulu untuk urusan yang penting. Jika ada apa apa suruh Bi Darsih menelpon kami."


Ria perhi berlalu meninggalkan Mira.

__ADS_1


Dengan senyumnya yang licik, Mira kemudian mengikuti langkah Ria sampai ke mobil dan melambaikan tangannya ketika mobil majikannya itu pergi berlalu meninggalkan halaman rumah.


__ADS_2