RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
Akhirnya


__ADS_3

Danu yang saat ini tengah mengendarai mobil menuju rumahnya merasa sangat senang sebab ia tak perlu cape cape membuat Ria tiada agar ia bisa menikahi Mira. Walaupun sebenarnya Danu belum tahu Mira adalah seorang gadis korban pelecehan dan pembunuhan yang dijadikan tempat bernaung arwah Maria, anaknya sendiri.


"Sebentar lagi aku akan menikah denganmu sayang" Danu terus bersiul dengan senangnya.


Ia bahkan tak tahu rencana yang sudah Maria siapkan untuknya di dalam rumah. Danu membuka pintunya dengan pelan dan tampak ruangan mewah di dalam sana yang sangat gelap dan sunyi membuat bulu kuduk siapapun merinding.


Perlahan lahan, Danu mulai berjalan masuk kedalam kamarnya untuk membawa surat nikah dirinya dan Ria. Danu sudah bertekad untuk bercerai dengan Ria sebab ia tak ingin memiliki istri yang sudah tua apalagi saat ini Ria terkena gangguan jiwa.


Danu kini berjalan menuju tangga dan berniat untuk pergi ke pengadilan agama megurus surat perceraiannya dengan Ria. Namun, langkahnya terhenti kala dengan jelas, Danu mendengar suara tangisan di kamar kosong bekas kamar putri pertamanya dulu.


Dengan langkah yang pelan, serta rasa penasaran yang ada di dalam dirinya, Danu mulai naik kembali ke lantai dua rumahnya untuk mengecek sumber suara dari tangisan yang baru saja ia dengar.


Kamar dengan pintu yang terlihat di gembok, memulai di buka paksa oleh Danu yang semakin penasaran dengan suara tangis yang kian keras terdengar.


"Siapa di dalam?!" Danu berteriak mencoba mencari tahu siapakah yang berani masuk kedalam kamar tersebut.


"Bagaimana bisa kau masuk hah? Apa kau pencuri?" Danu berpikir bahwa gadis di dalam kamar tersebut masuk melalui jendela kamarnya.


Namun, Danu pun sadar bahwa hal itu takan mungkin terjadi sebab kamar di hadapannya berada di lantai dua, apalagi jendela kamar tersebut selalu terkunci dan mustahil dapat di panjat oleh seorang perempuan.


Danu mengambil palu yang ia simpan di pojok kamarnya dan mulai merusak gembok tersebut. Pintu terbuka dengan lebar dan menampakan seorang gadis bergaun putih tengah menangis di dalam kamar tersebut.


Danu mendekat ke arah gadis tersebut dan mulai memegang pundaknya. Hawa dingin seketika terasa oleh Danu hingga membuatnya merasakan aneh.


"Si..siapa kau?" tanya Danu pada wanita di depannya.


Wanita itu terus saja menangis dengan membelakangi Danu yang kini duduk tepat di belakangnya. Danu bahkan mulai merasa ciriga sebab lama kelamaan bau tak sedap mulai ia cium. Hingga tak lama kemudian, gadis itu menatap Danu dengan senyumannya yang mengerikan serta wajahnya yang sangat rusak.


"Ayah tak mengenaliku?" ucap Maria dengan pelan.


Danu yang terkejut pun seketika bangkit dan berjalan mundur menjauhi sosok tersebut. Namun, pintu kamar justru tertutup rapat hingga membuat Danu tak bisa keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ayah tak rindu pada Maria? Ayah tak sayang sama Maria?" belatung di pipi Maria mulai berjatuhan hingga membuat Danu semakin ngeri.


Pria itu beberapa kali memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit.


"Ayah tega menyakitiku dan ibu. Bahkan ayah tega menumbalkan beberapa gadis agar bisa mendapatkan uang dan terbebas dari lilitan hutang. Kenapa ayah tega?"


"Ka..kau sudah mati. Kau sudah mati Mala!" Lagi dan lagi Danu masih tak sadar bahwa arwah yang selama ini menganggunya bukanlah Nirmala melainkan putrinya yaitu Maria.


"Aku Maria ayah. Kenapa ayah lupa?"


Danu mulai menajamkan penglihatannya. Wajah arwah itu benar benar rusak sehingga membuat Danu tak bisa mengenalinya sebab ia sudah sejak lama mengira bahwa hantu yang menerornya adalah Nirmala.


"Ja..jadi kau Maria? Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa?" Danu beringsut mundur dan mulai memalingkan wajahnya agar tak melihat wajah Maria yang rusak.


"Kau bahkan tak mau menatapku ayah!" Maria tersenyum menyeringai hingga membuat kedua pipinya sobek akibat senyumannya yang begitu tinggi.


Danu berusaha untuk keluar dari kamar tersebut dan menjauh dari arwah Maria.


Tak lama kemudian harum melati mulai menyeruak di seluruh ruangan tersebut. Lama kelamaan suasana sekitar menjadi sangat gelap dan tampaklah sesosok arwah yang sangat hitam dengan kulit yang mengelupas.


"Kau ingat padaku?" tanya sosok tersebut pada Danu.


Danu terperangah ketika sadar dengan suara wanita tersebut . Suara yang sama dengan wanita yang memohon padanya dulu saat Danu membakar tubuh gadis tak berdosa yang menjadi pembantunya.


"Ka...kau"


"Ya Danu aku datang untuk membalaskan dendamku padamu. Kau tega membakar tubuhku hidup hidup, memberikan kesucianku pada seorang iblis dan kau tanpa rasa bersalah membuat keluargaku siang dan malam menangisi kepergianku yang tak kunjung pulang kerumah. Kau telah membuat ibuku menangis dan menderita" Arwah korban tumbal yang dilakukan Danu kini berada di dalam ruangan trsebut.


Dengan bantuan raja siluman, Maria berhasil mendatangkan arwah korban ayahnya yabg setiap hari datang dan menatap ibu wanita trsebut menangis di rumahnya.


"Kau tega membuatku tak bisa pulang dan memeluk tubuh orang tuaku yang semakin sepuh. Kau tega membohongiku dan mengambil nyawaku secara sadis. Kau bahkan membakar tubuhku sehingga tubuhku merasakan sakit seperti ini. Tolong ini sangat sakit" Arwah itu terus saja menangis hingga ia pun mulai mengeluarkan kekuatannya dan mengangkat tubuh Danu sampai ke atap kamar tersebut.

__ADS_1


"Kau pantas mati Danu!"


Tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga, Maria membiarkan arwah tersebut melakukan apa yang ia mau pada Danu. Tubuh Danu menjadi kaku dan tak bisa digerakan. Dengan rasa takut serta tangisnya Danu terus memohon pada arwah tersebut agar dilepaskan.


"Kumohon lepaskan aku. Aku minta maaf padamu" nafas Danu mulai tersenggal kala sebuah kain gorden mulai melilit di lehernya.


"Ma...mar..ria selama..t kan ayah nak. Ayah mohon"


Maria tertawa keras dan melihat Danu dengan rasa puas.


"Kau bahkan tak mendengarkan tangisanku. Tangisan serta rasa sakit ibuku. Dan kau bahkan tak pernah mau tahu tentang luka di hatiku dan ibu. Kau berhak mendapatkan karma yang setimpal atas perbuatanmu. Hahahahahah"


Arwah hitam itu adalah wanita yang dulu Danu tumbalkan pada iblis pesugihan yang dulu ia lakukan. Wanita itu Danu bujuk untuk bekerja sebagai pembantu di rumahnya, namun ia justru membawanya ke dalam hutan dan memberikan tubuhnya pada iblis tersebut. Danu bahkan membiarkan kesucian gadis itu di renggut oleh iblis peliharaannya dan membakar tubuh gadis tersebut dalam keadaan hidup.


Rintihan serta tangisan dari gadis itu tak di dengar baik oleh Ria maupun Danu. Hingga inilah saatnya arwah itu mendapatkan kesempatan untuk membuat Danu merasakan apa yang ia rasakan.


Tubuh Danu yang sudah terlilit oleh kain gorden di ikatkan pada baling baling kipas angin. Hingga membuat pria itu terus saja merintih kesakitan dengan suara yang parau.


Perlahan lahan Maria membawa sebuah silet yang ada di atas laci kamar tersebut dan memberikannya pada arwah gosong di sampingnya.


Sampai pada saatnya pembalasan yang dilakukan arwah tersebut cukup membuat Maria senang. Perlahan lahan arwah tersebut menggoreskan si*let di tangannya pada kaki serta pergelangan tangan Danu hingga membuat pria itu berteriak kesakitan dan menangis.


Tangisan serta jeritan dari mulutnya cukup menyenangkan terdengar oleh Maria dan sosok arwah di sampingnya. Maria terus saja melakukan hal yang menyakitkan pada ayahnya tersebut hingga pria itu kehilangan banyak darah dan terlihat lemas.


"Sekarang tinggal saat yang paling ku tunggu" Arwah gosong di samping Maria mulai membawa sebuah lilin menyala di tangannya.


Lilin tersebut di sulutkan pada seluruh gorden di kamar itu dan sampai pada akhirnya, disulitkan juga pada kain gorden yang terdapat di kaki Danu. Tubuh Danu ter**r dan menggeliat kepanasan.


"Itu yang kurasakan dulu Danu!"


Arwah itu tertawa lebar kala melihat tubuh Danu yang terg**ntung di atas kipas mulai terbakar dan menggeliat seperti seekor cacing. Kobaran api di rumah tersebut semakin besar hingga tersulut merambat ke seluruh ruangan.

__ADS_1


__ADS_2