RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
61


__ADS_3

Setelah melakukan adegan panas bersama sang raja. Maria dengan dinginnya berjalan keliar kamar raja dan melengos pergi ketika melihat Kumala yang menatap penuh kebencian padanya.


Maria bahkan seolah olah tak melihat kehadiran Kumala didepannya dan berjalan lurus menuju ruang makan.


Antareksa yang tengah berjalan menuju ruang makan pun terkihat acuh ketika berpapasan dengan Maria yang saat ini memakai pakaian serba putih dan hiasan rambut yang membuatnya begitu anggun dan cantik.


Antareksa berjalan seraya menggendong putri semata wayangnya dan duduk dikursi seraya mulai menyiapkan makanan untuk putrinya.


"Makanlah yang banyak suapa kau cepat besar" ucap Antareksa ketika mengambil secuil daging sapi mentah dengan darah yang masih metes dibagian lehernya.


"Ayah tak makan?" tanya gadis kecil disampingnya.


"Ayah sudah kenyang. Kau makanlah yang banyak agar cepat tumbuh panjang rambutmu" Antareksa tetsenyum kecil kepada anaknya.


Maria yang baru kali ini melihat Antareksa tersenyum seketika menghentikan makannya dan mulai berbicara pada pria dihadapannya.


"Begitu senangnya kau pada gadis kecil itu. Sampai sampai kau yang tak pernah tersenyum, sekarang mulai luluh pada siluman cilik itu"

__ADS_1


"Apa urusannya kau dengan diriku!? Aku tersenyum ataupun menangis, memangnya apa pedulimu!? Makanlah dan jangan ikut masuk dalam obrolanku."


Maria seketika terdiam, Ia sangat sadar bahwa perubahan pada dirinya membuat Antareksa pun semakin dingin dan ketus padanya. Namun Maria sungguh tak perduli sebab ia tak ingin hatinya terikat dengan siluman dihadapannya.


"Pintar juga gadis itu membuatmu berubah" Maria seketika bangkit dan pergi meninggalkan Antareksa serta putrinya.


Putri kecil itu menatap heran pada sang ayah yang kini mulai menggenggam gelas dengan begitu kuat.


"Ayah marah pada dia? Ayah bilang padaku jangan pernah merasa marah pada siapapun walaupun dia menyakitiku. Lalu kenapa ayah begitu marah padanya?"


Antareksa menghela nafas dan mulai menyenduk kembali darah segar yang ada didalam wadah.


"Baiklah. Aku akan menjadi anak baik sama seperti ayah" Tiba tiba saja gadis itu memeluk tubuh Antareksa hingga membuat pria itu terkejut.


Ia kemudian mengusap lembut pucuk kepala sang anak dan mulai mencium pelan keningnya.


*******

__ADS_1


Tahun demi tahun telah berlalu dan kini Sarah, anak kandung dari Ria dan Danu sudah memasuki usia tujuh belas tahun. Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik walaupun ia terkenal sangat manja pada ibu serta ayahnya.


Maria yang tak luput memantau pergerakan Sarah sebab sejak sarah mulai menginjak usia lima tahun, Maria tak dapat terlihat oleh Sarah bahkan Maria pun tak bisa mengajak bermain adik tirinya tersebut.


Sarah adalah idola disekolah,sebab kecantikan serta prestasinya disekolah hampir sama dengan kakakknya sendiri yaitu Maria.


Hari hari Maria begitu indah sebab ditemani oleh ayah dan ibunya yang senantiasa selalu memberikan apapun yang ia mau serta mereka pun memberikan kasih sayang yang tulus pada Sarah.


Arwah Maria semakin hari semakin kerap bergentayang di kampungnya sebab sebentar lagi pembalasan dendamnya akan segera dimulai.


Sering sekali Sarah yang sedang tertidur mendengar sebuah kotak musik menyala diruangan sebelah kamarnya.


Malam ini angin begitu kencang bertiup. Sarah yang tiba tiba saja terbangun mendengar sebuah suara yang berasal dari ruangan di sebalah kamarnya. Ia bamgkit dari ranjang dan menempelkan telinganya di dinding pembatas ruangan.


Semakin ia menajamkan pendengar, semakin jelas terdengar suara rintihan dari kamar tersebut.


"Tolong. Tolong saya"

__ADS_1


Sarah mulai merasa penasaran dengan suara itu. Sebab sudah lama ia tinggal dirumah besar ini namun tak sekali pun ia bertanya mengenai sebenarnya apa ruangan disampingnya.


__ADS_2