
Maria menangis sesegukan dan lemah tak berdaya. Tubuhnya begitu sakit apalagi area sensitiv nya yang terasa pedih dan sakit. Ia terkapar lemas didalam hutan belantara yang gelap dengan siluman yang tengah berdiri disamping tubuhnya.
"Kau pasti sangat puas dengan permainanku sayang" Siluman itu tertawa terbahak bahak melihat tubuh Maria yang polos tanpa sehelai kain apapun.
Maria hanya bisa menangis dan terkapar diatas tanah sebab luka luka ditubuhnya yang begitu banyak serta energinya yang begitu habis.
"Sekarang kau adalah milikku dan akan tetap menjadi milikku. Kau akan jadi budak nafsuku selamanya. Hahahahah!"
Maria terdiam mematung dan menatap kosong kearah rumput dihadapannya. Tak ada lagi impian serta cita cita yang dulu ingin ia gapai. Hidupnya sudah hancur tak tersisa. Sekian lama ia menjaga kesuciannya, sekarang sudah diambil oleh siluman yang dikirim oleh Ria.
"Set*n kau! kepara**!" Maria berteriak dengan kencang dan kemudian menangis tersedu sedu.
Siluman itu pun menghampiri Maria dan memegang wajahnya kasar.
"Apa yang kau katakan tadi hah?!"
Maria terdiam dengan tatapan nyalang terarah pada siluman itu.
"Kau benar benar ibl*s! kau ambil kehormatanku dan kau hancurkan hidupku!'
Siluman itu tersenyum sinis dan mulai menghempaskan kasar tangannya yang tadi berada diwajah Maria.
"Aku sudah memberi majikanku kecantikan dan sebagai gantinya kau akan menjadi pemuasku. Kau adalah alat pembayaran yang dilakukan majikanku dan kau akan menjadi budakku selamanya"
"Siapa majikanmu hah?! katakan!"
"Kau tak perlu tahu dia siapa. Yang terpenting kau selalu ada untukku setiap waktu dan kau hanya perlu mempersiapkan dirimu untuk menjadi pemuasku. Lagian ku tahu kau sangat menikmatinya iya kan?"
Korban pelecehan mana yang akan menikmati sentuhan baji**n yang sudah dengan tega merampas kesuciannya. Begitu pun dengan Maria yang ingin sekali melenyapkan siluman didepannya yang sudah dengan brutal mengambil paksa kehormatannya.
"Cuih!" Maria kembali meludah kearah siluman itu dengan tubuh yang masih saja terbaring ditanah.
"Aku bersumpah siapapun yang sudah mengorbankanku, aku akan membalas semuanya dengan lebih kejam lagi"
Benih benih dendam dihati Maria begitu menggebu. Ia begitu terpukul dengan kejadian yang menimpa dirinya sampai sampai ia merasakan sangat ketakutan.
"Akan ku antar kau pulang dan persiapkan dirimu untuk malam malam selanjutnya" Siluman itu kini membawa sebuah bola api menyala dan mulai membakar sekitaran tempat Maria terbaring, hingga membuat gadis itu sesak nafas akibat asap yang timbul.
Tak lama pandangannya mulai kabur dan seketika Maria kembali pingsan, namun kembali tersadar saat tubuhnya sudah berada di ruangan serba putih yang tak lain adalah rumah sakit.
__ADS_1
"Ibu!!" teriak Maria keras hingga membuat Danu dan Bi Darsih yang sedang berada diluar ruangan masuk kedalam.
"Ada apa sayang?" tanya Danu dengan panik .
Keringat dingin membasahi seluruh wajah Maria. Tak terkecuali badannya yang terlihat sangat mengigil.
"I..ibu di..dimana?" tanya Maria dengan terbata.
"Ibu mu ada disana sayang. Kamu istirahat dulu saja" ucap Danu seraya membelai rambut putrinya.
"Ak..aku takut ayah. Takut sekali"
"Takut apa nak? tak ada apa apa disini" Danu mencoba menenangkan Maria yang masih saja terlihat ketakutan.
"It..itu di..dia mencoba melecehkan aku ayah"
Danu seketika menatap dokter yang kini tengah memeriksa Maria.
"Siapa sayang? dokter ini?"
Dokter yang menangani Maria seketika teridam mematung tak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh pasiennya tersebut.
"Dokter ini baru saja datang sayang, mana mungkin ia akan melakukan hal itu. Ayah ada disini untukmu"
"Saya tak melakukan apapun padanya dok. Saya hanya menampar pipinya saja karena emosi. Bagaimana mungkin dia bisa ketakjtan seperti ini?"
Danu yang mulai panik akibat takut disalahkan akhirnya sedikit demi sedikit mendekati putrinya.
"Katakan sayang, siapa yang sebenarnya kau takuti?"
Tak berselang lama telpon Danu berdering. Ia kemudian berjalan menjauh untuk melihat siapa yang menelponnya kali ini.
Tertera dengan jelas nama Ria diponsel pria yang berstatuskan suami orang tersebut.
"Hallo sayang" ucap Danu berbisik.
"Kamu dimana sih mas? katanya mau main, kok kamu belum pulang sih, aku nungguin kamu tau" rengek Ria manja.
"Aku sekarang dalam masalah. Maria tiba tiba saja pingsan setelah ku tampar didalam mobil"
__ADS_1
"Hah! kok bisa? kenapa kamu menamparnya mas? apa dia membuatmu kesal?"
"Sudahlah Ria, aku tak bisa menjelaskan sekarang. Yang pasti sekarang dia sedang dirawat didalam sana. Ada yang aneh dengan mentalnya, tiba tiba saja dia menjadi sangat ketakutan setelah sadar dari pingsannya. Dan saat ini akulah menjadi orang yang dicurigai oleh dokter yang menangani Maria. Aku bisa bisa dilaporkan ke polisi kalau begini"
"Tenang mas! tenang. Sekarang kau dekati Maria dan bujuk untuk dia berbicara dengan jelas. Jika dia berbicara ngawur, maka kau jadikan sebagai sandiwara saja jika Mira mengalami depresi ataupun gila"
Danu termenung dan mencerna ucapan Ria dengan jelas. Ia yang saat ini takut disalahkan memilih untuk menuruti perkataan selingkuhannya tersebut.
Berbeda dengan Danu, Ria justru sangat senang ketika mendengar informasi mengenai Maria yang tengah mendapatkan efek samping dari serbuk yang ia masukan kedalam makanan nya sebelumnya. Ria tersenyum licik sebab rencananya sebentar lagi berhasil.
"Ya sudah besok saja kamu pulangnya mas. Sekarang kau jaga saja anakmu dan ingat, jangan dekat dekat dengan si Irma!"
"Makasih sayang atas sarannya, aku akan kembali masuk kedalam sana dan akan menuruti semua perkataanmu. Kamu memang cerdas!"
"Ya sudah mas. Dah"
"Dadah sayang"
Danu kemudian menaruh kembali ponselnya kedalam saku celana dan mulai masuk kedalam ruangan tempat Maria dirawat.
Bi Darsih yang curiga majikannya telah menelpon Ria akhirnya memutuskan untuk pergi saja dari sana.
"Saya permisi dulu tuan, saya takut Nyonya Nirmala curiga"
"Ya sudah sana. Ingat jangan katakan apapun kepada dia kalau sekarang Maria sedang dirawat disini!"
Bi Darsih mengangguk dan mulai keluar dari ruangan dengan perasaan kalut.
Dokter yang tengah menangani Maria mencoba membuat gadis itu tenang dan memberikan informasi yang jelas mengenai hal yang susah membuatnya trauma.
"Nak bisa kau jelaskan kenapa kamu menjadi seperti ini?' tanya dokter dengan pelan pelan.
"Sill.siluman itu melecehkanku dok. Dia sudah merusak hidupku"
Doktr kembali mengernyitkan kening mendengarkan ucapan Maria.
"Dia sepertinya merasa tertekan karena ibunya tiba tiba saja sakit dok. Mungkin dia terpukul dengan kesehatan ibunya yang sakit aneh"
"Ku rasa putri anda mengalami ganghuan mental yang cukup serius. Kami sarankan untuk mengobatinya ke psikiater dan merawatnya disana"
__ADS_1
Danu dengan semangat menganggukan kepala karena dengan saran dokter membuatnya sedikit lega.
"Saya tidak sakit mental dok! saya waras! saya sehat!" Maria berteriak dan berobtak diatas ranjang, ia bahkan melemparkan beberapa obat yang berada diatas laci tempatnya dirawat keatas lantai.