RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
87


__ADS_3

Bi Darsih menatap wajah Mira dengan tatapan yang sangat misterius. Ia bahkan menelisik setiap gerak gerik yang Mira lakukan di depannya.


"Apakah Nak Mira reinkarnasi Maria?"


Pertanyaa Bi Darsih sontak saja membuat Mira terkejut. Matanya membulat sempurna menambah kecantikan yang ia miliki saat ini.


"Ke..kenapa bibi berkata seperti itu? Bibi terlalu banyak menonton film sepertinya" Mira menjawab dengan gugup.


Ia memainkan rambut indahnya seraya membenarkan posisi duduknya.


"Bibi melihat kamu menyembunyikan sesuatu dari bibi. Firasat bibi mengatakan bahwa Nak Mira adalah Maria yang dulu selalu ingin dekat dengan bibi. Siang malam selalu saja Non Maria ingin tidur dengan bibi"


Mira mulai terkesima, ia bahkan ingin sekali mengatakan bahwa memang dirinyalah yang kini tepat berada didepan Bi Darsih.

__ADS_1


"Ah. Ak..aku bukan Maria bi, aku Mira. Ak bahkan memiliki ibu dan dan ayah yang lama sudah tiada. Dan aku berasal dari desa di kabupaten Jawa. Bahkan baru kali ini aku berqda di Jakarta" Dengab terpaksa Mira berbohong kepada Bi Darsih agar Bi Darsih tak terus saja mengungkit masa lalunya.


Mira mulai mengalihkan pembicaraan agar Bi Darsih bisa memberikan informasi mengenai apa saja yang ibunya alami selama ia tak sadarkan diri di rumah sakit.


"Ah, bi coba ceritakan lagi tentang arwah itu. Aku sangat ingin tahu tentang Nyony Nirmala. Aku pikir Nyonya Nirmala sangat baik bahkan melebihi Nyonya Ria"


"Kau benar. Nyonya Nirmala memanglah yang terbaik. Dia sangatlah bijaksana dan tak mudah marah seperti Nyonya Ria" Bi Darsih berbisik dengan pelan di telinga Mira seraya tertawa.


"Kau belum lihat kemarahan Nyonya Ria. Nyonya Ria sangatlah garang seperti singa betina. Bahkan ia akan menelanmu bulat bulat jika kau sampai menentang perkataannya" sambung Bi Darsih pelan.


"Ya sudah , sekarang lebih baik non mandi dulu dan ganti pakaian" ucap Bi Darsih dengan lembut.


"Tapi bi, aku belum punya pakaian selain ini"

__ADS_1


"Astaga bibi lupa. Tuan Danu dan Nyonya Ria mungkin juga lupa akan membelikan Nak Mira pakaian. Kalau begitu begini saja, Nak Mira pakai dulu baju punya Almarhumah Nyonya Nirmala."


Mira terkejut, jadi selama ini Bi Darsih masih menyimpan baju ibunya.


"Ba....bagaimana mungkin bibi masih menyimpan baju ibu, maksudunya baju Nyonya Nirmala"


"Emh itu sebenarnya bibi menyimpan pakaian Nyonya Nirmala karena dulu Nyonya Ria menyuruh bibi membuangnya. Namun saat bibi lihat pakaiannya masih bagus jadi bibi simpan saja buat bibi pakai tidur. Sebenarnya pakaiannya masih sangat bagus dan sayang untuk di buang. Apalagi mengingat bibi tak memiliki saudara jadi bibi simpan saja buat kenang kenangan. Oh ya, Nak Mira bisa pakai itu, tapi untuk tidur saja. Jangan sampai Tuan Danu ataupun Nyonya Ria melihatnya, bisa bisa bibi kena semprot mereka berdua"


Mira tersenyum bahagia dan mulai memeluk tubuh Bi Darsih. Bi Darsih terdiam membisu kala mendapat pelukan yang dingin dari Mira. Ya, pelukan itu bukanlah memberikan kesan hangat, namun dingin. Tubuh Mira sangatlah dingin sehingga Bi Darsih pun tak mampu berkata apa apa.


"Apa non sakit?" tanya Bi Darsih dengan sedikit takut.


Mira segera melepaskan pelukannya dan mulai menjaga kembali jarak dengan Bi Darsih.

__ADS_1


"Ah, maafkan aku bi. Aku tak bermaksud lancang"


"Tidak! Tidak Nak. Bibi hanya terkejut saja ketika merasakan sentuhan tubuh nak Mira yang negitu dingin bak es batu. Maaf tapi


__ADS_2