RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
72


__ADS_3

Mira berjalan menuju kamarnya dan mulai mendudukan Bi Darsih diatas ranjangnya. Ia kemudian segera mengambil air dingin di kamar mandi, serta handul kecil dan mengompres luka di tangan Bi Darsih dengan perlahan.


"Apa bibi masih merasakan kesakitan ? bibi baik baik saja ?" tanya Mira dengan panik.


Bi Darsih hanya menatap wajah gadis di depannya dengan pandangan sendu. Ia begitu rindu dengan Nirmala da Maria hingga membayangkan bahwa di depannya itu adalah Maria atau Nirmala.


Mira yang sadar bahwa Bi Darsih sedang menatapnya pun segera mengehntikan kegiatannya.


"Bibi kenapa?" tanya Mira dengan heran.


"Ah enggak non. Bibi hanya senang menatap wajahmu yang cantik seperti majikan Bibi sebelumnya.


Mira kembali terdiam membeku. Apakah benar wajah dari tubuh yang ia gunakan saat ini benar benar mirip dengan wajah aslinya ataupun wajah ibunya.


"Mungkin bibi hanya berhalusinasi atau hanya sedamg rindu dengan majikan pertama Bibi"


"Ah, iya mungkin saja. Sudah tujuh belas tahun setelah kepergian istri pertama Tuan Danu tapi bibi sampai saat ini masih sering membayangkan wajah teduh milik Nyonya..."


Ucapan Bi Darsih dipotong langsung oleh Mira.


"Nirmala?"


Bi Darsih yang terkejut mendengar ucapan Mira segera bangkit dari ranjang.


"Ba..bagaimana non tahu nama itu"

__ADS_1


Mira yang keceplosan pun segera mencari alasan agar Bi Darsih tak mencurigainya.


"Karena aku sempat mendengar Sarah berguman nama itu saat ia sedang membaca buku di kamarnya"


"Benarkah itu? tapi buku apa yang sedang dibaca oleh Non Sarah? apa mungkin ia membaca surat nikat Tuan Danu? ah tapi tidak mungkin karena Nyonya Ria sudahembakar semua barang yang berkaitan dengan Nyonya Nirmala dan Non Maria"


"Dibakar? kena dia membakarnya?" tanya Mira dengan emosi yang menggebu di hatinya.


"Ya mungkin karena ia ingin Tuan Danu melupakan istri pertama serta anaknya"


Mira terdiam dengan mata merah yang menyala dan urat urat yang terlihat. Bi Darsih yang melihat kemarahan di mata Mira segera bangkit karena merasakan ketakutan.


"Apakah non baik baik saja?" ucap Bi Darsih dengan suara bergetar karena takut.


Mira yang belum terbiasa mengatur emosi pun sadar dan mulai mencoba mengembalikan bola matanya seperti semula.


Bi Darsih yang sudah renta hanya bisa mengangguk dan mempercayai perkataan Mira. Ia kembali meniup luka di tangannya karena merasa terbakar.


"Apakah masih sakit bi?" tanya Mira dengan rasa iba.


"Emh tidak terlalu sakit non. Hanya saja rasa panas nya belum hilang"


"Dimana kotak obat Bi? aku akan obati luka bibi"


"Tidak usah non, nanti juga pasti akan sembuh sendiri. Non Maria jangan panik"

__ADS_1


"Maaf bi, jangan panggil saya non. Saya bukan siapa siapa disini. Saya hanya pelayan dan saat ini bahkan saya bukan bagian dari rumah ini lagi. Saya sudah memutuskan untuk keluar dari rumah ini"


Bi Darsih terdiam. Kelakuan Mira memang sudah terbilang lancang dan kasar. Ia bahkan menjadi sumber pertengkaran di rumah majikannya tersebut.


Tak lama pintu kamar Mira terbuka secara perlahan. Dari balik pintu terlihat Danu yang masuk seraya memegang kotak obat di tangan kanannya.


"boleh saya masuk?" tanya Danu pelan.


Bi Darsih yang terkejut segera bangkit dan menjaga jarak dari Mira.


"Bibi duduk saja, saya takan memarahi bibi" ucap Danu mencoba menenangkan pelayan di rumahnya tersebut.


"Saya datang kesini hanya untuk melihat luka di tangan bibi. Apakah lukanya masih sakit? Jika masih maka ayo kita pergi ke dokter saja"


Bi Darsih menatap Mira dan mulai menundukan kepala.


"Bibi gak papa tuan. Ini hanya luka biasa.Bibi sudah sering terkena air panas. Jadi bibi rasa sakitnya juga nanti hilang"


"Tak usah sungkan bi, jika bibi butuh ke dokter maka bilang saja sebab ini semua ulah istri saya. Jadi saya selaku suaminya meminta maaf"


Bi Darsih semakin heran dengan tingkah Danu yang terlihat bersalah, padahal sebelumnya jika Ria melakukan kekerasan terhadapnya, Danu akan diam bahkan ia juga sering membentaknya dengan sangat kasar.


"I...iya Tuan tak papa. Bibi sudah maafkan"


"Terimaksih ya bi.Oh iya ini Mira obat untuk Bi Darsih. Oleskan saja salep ini agar lukanya sedikit membaik" Danu menyerahkan kotak obat pada Mira.

__ADS_1


Mira yang memegang kotakobat tersebut sejetika terkejut ketika tiba tiba saja tangan Danu mengusap tangannya dengan lembut.


__ADS_2