RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
104


__ADS_3

Hari ini Ria dengan sigap membawa beberapa bunga melati serta bunga mawar yang indah dari arah luar rumahnya. Beberapa tetangga bahkan sempat menggoda Ria yang tengah menenteng bunga mawar yang banyak dan mengatakan bahwa Ria akan membuat kejutan romantis untuk Danu.


Ria bahkan tersipu malu walaupun ia hanya berpura pura saja mengiyakan semua perkataan tetangganya agar mereka tak curiga. Dengan bantuan Bi Darsih, Ria membawa beberapa ikat bunga melati serta mawar yang ia pesan secara online dan menaruhnya di ruangan yang tak lain adalah gudang belakang.


"Nyonya beli banyak bunga untuk apa? Apa nyonya akan mengadakan malam pengantin lagi sama Tuan Danu" ucap Bi Darsih seraya tersenyum menggoda.


Ria hanya menatap sekilas wanita paruh baya itu dan terdiam. Ria hanya ingin fokus dengan rencananya menumbalkan seorang gadis agar arwah yang ia kira Nirmala segera pergi dari rumahnya dan tak meneror keluarganya.


"Ya, ini untukku dan Danu. Bibi ingat baik baik, jangan ada yang membuka pintu ini baik malam ataupun siang. Kuncin kamar ini akan aku pegang. Dan ingatkan Mira jangan sampai masuk kesini. Aku sengaja takan memberitahu Sarah sebab aku tak ingin dia yang sekarang mulai banyak inigin tahu mengagalkan semua rencanaku"


"Tapi Mira kenapa bolej di ingatkan sedangkan Non Sarah tidak?"


Ria menghela nafas.


"Bagaimanapun Mira hanya orang asing dan pasti ia akan mengelilingi rumah ini karena bosan. Sedangkan Sarah adalah putri saya yang memang tak boleh tahu tentang kamar ini apalagi sampai membukanya. Hanya aku dan Danu yang boleh masuk kedalam ruangan ini"

__ADS_1


Bi Darsih hanya menganggukan kepala, ia harus patuh dengan perkataan Ria walaupun terkesan sedikit aneh.


"Ya sudah nyonya, apalagi yang harus saya akut ke dalam sini?" tanya Bi Darsih dengan pelan.


"Kau suruh saja Mang Kardi mengambil kasur busa yang ada di kamar tamu. Ambilah satu kasur dan letakan disini. Setelah itu bibi tolong sapu dan pel lantai ini dengan bersih. Aku akan jadikan tempat ini sebagai kamar khusu untukku dan Danu" Ucap Ria berbohong .


Bi Darsih bergegas perhi meninggalkan Ria sendirian di kamar tersebut. Ia bahkan tak sengaja berpapasan dengan Mira yang baru saja turun dari atas tangga dan berjalan menuju dapur.


"Eh bi, mau kemana?"


"Bibi mau ke Mang Kardi dulu. Bibi disuruh nyonya agar Mang Kardi akut kasur dari kamar atas"


"Kamar atas? Kamar tamu ?" tanya Mora meyakinkan.


"Iya nak. Nyonya Ria ingin membuat kamar khusus untuk menghabiskan waktunya bersama Tuan Danu. Dan ingat, kamu jangan masuk kesana ya"

__ADS_1


Mira yang sudah tahu rencana Ria hanya tersenyum seraya menganggukan kepala. Baginya sebuah larang adalah sebuah perintah. Maka dari itu ia akan mengintip kamar yang sedang Ria hias untuk ibli* tersebut.


"Ya sudah , bibi pergi dulu keburu nyonya marah"


"Iya bi, hati hati jangan sampai bibi terjatuh" jawab Mira seraya tersenyum.


Mira berjalan menuju dapur dan mendapati ruangan tersebut yang sepi tanpa siapapun. Ini kesempatan baginya untuk memakan daging mentah didalam kulkas. Perlahan lahan Mira membuka lemari pendingin itu dengan perasaan senang. Matanya berbinar kala melihat genangan darah dari wadah yang menampung daging sapi yang menjadi stok makanan untuk Bi Darsih masak.


Tak menunggu waktu lama, Mira pun mengambil wadah itu dan meletakan daging sapi mentah tersebut di atas piring. Lalu ia pun meneguk genangan d**rah segar yang sudah dingin dengan sangat lahap.


Bak meneguk sirup yang segar, Mira bahkan menjilati wadah tersebut hingga tak ada setetespun air menempel diwadah tersebut.


"Ah, segar" gumam Mira pelan.


Prang!!!!

__ADS_1


Sebuah wajan jatuh tepat dibelakang Mira hingga sontak saja ia berbalik dan menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut.


__ADS_2