RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
58


__ADS_3

Raja menatap ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang. Begitu juga dengan Kumala yang sangat menyayngi ketiga anak Maria bersama suaminya seperti anaknya sendiri.


Berbda hal dengan Antareksa yang sedang besama putrinya didalam kamarnya, ia senantiasa bercanda gurau dengan putrinya sendiri tanpa diketahui siapapun bahwa memang benar putri cantik itu adalah putrinya dengan Maria.


Mata biru yang indah serta hidung mancung dan kulit yang putih bersih membuat Antareksa begitu menyayangi putrinya sepenuh hati.


Maria yang tinggal bersama raja dan Antareksa dikerajaan siluman hanya diam tanoa mau biacara dengan siapapun bahkan ketiga anaknya. Terlebih lagi dengan putri siluman yang sudah ia lahirkan.


Maria tak menginginkan anak anak tersebut bahkan tak ingin membuat mereka tahu bahwa dialah ibunya.


Maria datang menemui sang raja dan Kumala yang sedang menyantap makanannya di ruang makan. Sampai ketika ketiga putranya menatap ke arah Maria, Maria acuh dan duduk dibagian paling ujung kursi dan langsung menyantap makanan yang ada.


"Wanita cantik itu selalu saja diam ayah. Apakah dia bisu?" tanya salah satu putra sang raja.


Raja hanya terdiam tak mampu mengatakan apapun mengenai Maria. Walaupun demikian terkadang Maria datang dengan sendirinya masuk kedalam kamar raja dan mulai menginginkan haknya sebagai istri.

__ADS_1


Entah kenapa banyak sekali hal yang telah berubah di dalam diri Maria hingga membuatnya sekarang menjadi sangat arogan dan bernafsu.


Lukanya yang begitu dalam akibat selingkuhan ayahnya serta ayah kandungnya sendiri mengakibatkan hatinya mati dan emosinya menghilang. Bahkan Maria memilih kematiannya sendiri untuk bisa membalaskan dendam sang ibu.


Tak ada siapapun yang tahu bahwa hantu yang selama ini bergentayangan di kampungnya adalah hantu Maria da bukanlah hantu Nirmala. Walaupun demikian, Maria sangat senang mengintai keliarga Danu dan Ria terlebih lagi ketika mengawasi gerak gerik adik tirinya yaitu Sarah.


Banyak rencana yang sudah di Maria siapkan untuk membalaskan dendamnya. Bahkan Maria pun sudah semakin dekat dengan Sarah kecil yang sering melihatnya.


Maria yang telah selesai makan akhirnya pergi berlalu tak menanggapi ucapan dari anak anaknya. Bahkan ia pun tak melihat kearah raja ataupun Kumala yang jelas jelas sangat memiliki kekuasaan di tempat yang ia tinggali saat ini.


"Sekarang kalian habiskan makanannya ya" Kumala mulai membelai kepala putra pertama Maria yang duduk disampingnya.


Raja dan Kumala sangat senang sebab mereka makan dengan lahap tanpa memikirkan dari mana asal makanan yang sedang mereka santap.


******

__ADS_1


Malam ini Maria tiba tiba saja datang mengetuk kamar Antareksa dan menatap pria itu dengan tatapan datar.


"Ada apa kau kesini?" tanya Antareksa dengan dingin.


Maria berjalan menuju putrinya yang sedang tertidur lelap di atas ranjang Antareksa.


"Anu sudah tidur?" tanya Maria.


"Lalu apa yang membuatmu datang kemari? Apakah kau ingin membangunkannya? Apakah kau ingin menemaninya tidur? Hah sungguh muak aku melihatmu" Antareksa yang kesal tanpa banyak basa basi langsung memberikan pernyataan yang menyakitkan.


"Untuk apa aku memperdulikan anak siluman itu? Aku adalah manusia dan kini aku sudah menjadi set**n! Aku tak perduli dengan anakmu bahkan ketiga anak pewaris itu. Aku datang kesini hanya untuk memastikan apakah dia masih hidup atau mati? Jika dia mati maka sungguh lucu sekali sebab siluman juga bisa mati"


Antareksa yang marah langsung berjalan kearah Maria dan mencengkram lehernya dengan sangat kuat. Perkataan Maria benar benar sudah kelewatan.


"Kau bisa mengatakan apapun dan menghina anakmu sendiri. Tapi ingat! aku takan pernah diam jika kau berkata kematian terhadap anak ini! Terlepas dari kau menginginkannya atau tidak. Dia adalah anakku"

__ADS_1


Maria tersenyum, ia begitu tak menginginkan anak anaknya hidup walaupun mereka adalah siluman.


"Aku kesini karena menginginkan dirimu" Ucap Maria dengan penuh penekanana.


__ADS_2