RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
28


__ADS_3

Dojter kemudian menggelengkan kepala dan berjalan menuju Danu.


"Saya harap anda melakukan hal bijak dalam hal ini. Anda bisa membawanya ke psikiater terlebih dahulu"


Danu kemudian terdiam dan berjalan mendekati putrinya. Sedangkan dokter keluar ruangan diringi dengan suster yang berjalan dibelakangnya.


"Sayanh katakan apa swbenarnyayang sudah terjadi padamu"


Dengan tubuh yang bergetar, Maria mengatakan semuanya yang telah ia lalui dihutan bersama siluman itu. Danu yang mendengar ucapan putrinya seolah tak percaya sebab sejak tadi jelas jelas putrinya berada didalam ruangan tersebut.


"Kamu mungkin bermimpi sayang. Tenanglah"


Danu mencoba menenangkan anaknya hingga saat Maria mengatakan hal sensitiv dan ingin bangkit, alangkah terkejutnya Danu dan Maria melihat banyak sekali darah yang merembes diatas tempat tidur Maria.


"Ahhhhkkkk!! ayah!!" Maria berteriak dengan kencang hingga membuat Dokter yang masih berada diluar ruangan tersebut kembali berlari masuk kedalam ruangan Maria.


"Ada apa ini!?" ucap sang dokter panik.


"An...anak..sa..saya kenapa dokter" Danu terkejut ketika melihat banyak darah di kasur putrinya.


Dokter dan suster yang baru saja datang ikut terkejut melihat pemandangan mengerikan tersebut.


"Saya rasa ada yang terjadi dengan putri anda? saya akan panggilkan dokter wanita untuk menanggani putri anda" Dokter kemudian berjalan meninggalkan Danu dan Maria yang saat ini tengah kebingungan.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Danu lirih.


Maria hanya menatap kosong dan merasa tak menyangka dengan keadaan yang sedang ia alami saat ini. Benar ucapan Maria, ini semua bukanlah mimpi melainkan sebuah kenyataan.


"Sudah kukatakan ini bukanlah mimpi ayah" Maria termenung dengan tatapan yang datar.


Selang beberapa lama akhirnya dokter wanita bername tag Susan masuk dan melihat keadaan Maria.


"Sebelumnya apakah ia melakukan hal aneh bersama orang lain?" ucapnya tiba tiba saja hingga membuat Maria berteriak histeris.


"Siluman itu telah mengahancurkanku! set**n itu melecehkanku! akan kubunuh majikanya. Ahkkk!" Maria berteriak teriak histeris seolah olah seperti orang gila.


"Tenangkan dirimu. Katakan dengan pelan apa yang sudah terjadi padamu. Saya akan mencoba membantu mu dan memecahkan masalahmu. Cobalah untuk lebih tenang" Dokter Susan mencoba menenangkan Maria dengan berbicara pelan dan selembut mungkin.


"Sekarang kamu ikut saya untuk membersihkan noda darah ini. Suster tolong ambilkan baju ganti! "

__ADS_1


Tak lama suster pun datang membawa sebuah pakaian putih khas pasien rumah sakit dan membawa Mira menuju ke kamar mandi.


"Kita bersihkan dulu darah ini dan kita periksa lebih lanjut nanti"


Mira pun bergegas masuk kedalam kamar mandi diiringi oleh Dokter Susan yang menemaninya. Hingga akhirnya Mira pun keluar dengan pakaian yang bersih.


"Baik sekarang kamu duduk dulu dan tenangkan dulu dirimu"


Maria duduk dengan mata yang menoleh kearah kanan dan kiri karena menahan takut. Ia kemudian berusaha untuk tennag dan menceritakan semuanya pada dokter Susan.


Disisi lain, Nirmala yang kini tengah menatap kearah jendela merasa kasihan dengan gaud yang dirawat dikamar dekat ruangannya karena terdengar teriakannya yang mirip sekali dengan Maria.


Tak lama kemudian Bi Darsih datang dengan wajah yang sayu.


"Darimana saja bi? kok lama?" Nirmala mulai bertanya.


"Em..emhh..tadi saya ke toilet bentar nyonya, perut saya sakit" ucap Bi Darsih berbohong.


"Aku tiba tiba saja teringat Mira bi. Apakah dia baik baik saja"


"Mungkin Non Maria baik baik saja nyonga." Bi Darsih mengehela nafasnya.


"Kasihan sekali gadis diduang sebelah, ia tak memanggil ibunya seolah ia meresakan kesakitan. Aku saja yang mendengarkan begitu sakit ketika ia menjerit"


Mungkin ini adalah ikatan batin antara ibu dan anak. Nirmala merasakan kesakitan yang dialami oleh Maria saat ini.


"Sekarang nyonya tidur saja biar terus sehat dan besok nyonya kan akan pulang bertemu dengan Non Maria"


Nirmala kembali bersemangat dan menghapus air matanya yang tadi mengalir.


"Iya bi, bibi benar. Besok aku diperbolehkan pulang"


Nirmala dengan semangat berbaring dan membayangkan putrinya yang menyambutnya didalam rumah nanti.


"Bibi juga tidur, pasti bibi sangat lelah berhari hari menjagaku disini"


"Iya nyonya" Bi Darsih mulai berbaring diatas sofa dan berbalik memunggungi Nirmala yang saat ini tengah tersenyum senyum sendiri.


Bi Darsih saat ini merasa bingung dengan kebohongan yang harus ia sembunyikna dari Nirmala. Ia begitu kasihan dengan kondisi Maria yang tampak begitu trauma dan ketakutan.

__ADS_1


***********


Dokter Susan mengecek semua kondisi Maria, dari mulai mental dan fisik.


Hingga saat keluar hasil dari pemeriksaan yang mengakibatkan Maria pendarahan tadi.


"Maaf apakah putri bapak sudah melakukan hal dewasa? mungkin ia telah dilecehkan oleh seseorang ataupun melakukannya dengan pacarnya" tanya Dokter Susan pada Danu.


Danu yang mendengarkan penuturan itu mulai tersulit emosi, dadanya naik turun.


"Sialan! anak itu sudah melakukan hal gila dengan kekasihnya tanpa sepengetahuanku"


"Tenang pak! tenang! saya pun tak bisa memastikan bahwa luka robek di bagian sensitif putri bapak akibat melakukan hal itu. Namun kejanggalan dikasus ini adalah mengapa dokter tak bisa memastikan luka robek pada bagian sensitif Maria.


"Saya merasa aneh. Kenapa bapak baru membawa putri bapak disaat pendarahannya sudah banyak? bahkan bapak seolah angkat tangan dan tak tahu dengan pendarahan yang putri bapak. Saya kira anak bapak sudah mendapatkan pelecehan dari seseorang yang mengakibatkan kerusakan pada selaputda**nya"


Danu terdiam memikirkan apa yang sebenarnya pada Maria. Tadi saat ia mengantar Maria, Maria baik baik saja bahkan tak ada darah apapun dicelananya. Aneh sekali, bagaimana alat reproduksi Maria bisa tiba tiba saja rusak.


Tak berselang lama suster pun datang dan memberikan selembaran hasil pemeriksaan mendalam terhadap alat vital Maria.


Dokter Susan mengganga karena ia tak begitu menyangka dengan hasil yang baru saja keluar.


"Apa yang sebenarnya bapak lakukan pada putri sendiri!? ini benar benar sangat membuat saya tak habis pikir. Anda benar benar menjijikan!"


"Apa yang anda maksud dok?!"


"Anak bapak mengalami kerusakan parah pada rahimnya akibat kekerasan s**al yang ia alami. Jika benar ia baik baik saja pada saat anda antarkan, lalu bagaiman mungkin putri bapak bisa mengalami hal separah ini?"


Danu menggeleng cepat karena tak mau disalahkan.


"Saya tak tahu dok. Saya tadi hanya menamparnya karena emosi. Para suster yang berjaga diluar pun tahu tadi Maria dayang baik baik saja hanya pingsan. Tak ada darah apapun yang keluar dari dirinya" Danu membela diri.


"Dok! Dokter!" Suster datang dengan suara yang terengah engah.


Dokter Susan dan Danu yang terkejut pun bangkit.


"Ada apa sus?"


"Pasien atas nama Maria mengalami muntah darah hebat dan keluar gumpalan rambut beserta balatung!"

__ADS_1


Danu segera berlari menuju putrinya disusul oleh Dokter Susan.


__ADS_2