
Mira kini pergi berlalu seraya menutup kembali pintu rumah Danu dengan pelan. Bi Darsih yang tengah berdiri pun tersenyum ke arah Mira dan mengajaknya untuk makan.
"Non Mira makan dulu saja di dapur, Bibi akan panggilkan Non Sarah agar makan juga"
Mira menganggukan kepala dan mulai berjalan menuju arah dapur. Harum masakan Bi Darsih tak membuat Mira merasa lapar ataupun tergoda. Namun ia mata Mira berbinar ketika melihat seonggok daging sapi mentah yang berada di dalam wadah plastik dekat kulkas.
Mira kemudian menatap sekelilingnya yang begitu sepi dan mulai mendekati daging tersebut dengan hati yang gembira. Ia mencium harum darah yang menempel pada daging tersebut dengan suka cita. Aroma anyir yang keluar dari daging tersebut sungguh membuat Mira merasa tergoda dan melahapnya mentah mentah.
Ia begitu lahap mengunyah daging sapi mentah dengan darah yang masih menempel tersebut, tanpa memperdulikan bahwa kini ia sedang berada di rumah Danu.
Dari jauh, langkah kaki Bi Darsih bisa Mira dengar hingga membuatnya panik dan segera menelan daging tersebut bulat bulat. Tanpa tersedak dan tanpa rasa serat di tenggorokannya, Mira segera mengusap darah di sekitar mulutnya dan mencuci wadah bekas daging sapi yang baru saja ia makan.
"Loh? Kok Non mira malah cuci piring?" tanya Bi Darsih heran.
"Emh anu bi. Tadi ada tikus sedang memakan daging di dalam wadah ini. Jadi saya buang saja daging tersebut karena takut ada penyakitnya. Tak lupa saya pun mencuci wadah plastik ini agar kuman dari tikus tak menempel pada wadah ini" Jelas Mira dengan asal.
Bi Darsih pun segera mengecek bawah kompor serta meja makan untuk memastikan tikus yang dikatakan Mira sudah pergi menjauh dari makanan. Bi Darsih begitu terkejut sebab ia takit bahwa tikus itu memakan makanan yang baru saja ia masak barusan.
"Tikusnya sudah kabur kom bi. Tadi saya sudah lihat dan cari, namun tak ada. Saya pikir tikus itu pergi ke luar"
__ADS_1
"Ya sudah, Non Mira makan saja sekarang. Bibi juga akan siapkan makanan untuk Non Sarah"
Mira menatap datar Bi Darsih. Ternyata Sarah marah pada Mira sebab kejadian tadi pagi sampai sampai Sarah tak ingin makan bersama dengannya. Adik tirinya benar benar seperti anak kecil, pikir Mira.
Bi Darsih mulai mengambil piring dan kemudian menyendok nasi serta lauk pauk yang sudah terhidang diatas meja makan. Tak lupa Bi Darsih pun mengambil segelas air putih untuk Sarah.
"Bibi pergi dulu ya. Non makan yang banyak"
Bi Darsih pergi berlalu meninggalkan Mira yang masih dalam posisi berdiri. Mira melangkahkan kaki menuju tempat duduk dan mulai melahap makanan yang Bi Darsih buat karena masih lapar.
Mira perlahan lahan berjalan menuju kulkas dan menemukan beberapa potong daging ayam dan sapi yang masih mentah didalam sana. Dengan mata yang berbinar bak mendapatkan emas berlian, Mira mulai mengiris beberapa potong daging sapi disana dan mengambil sepotong ayam mentah untuk ia makan.
Tak lama Bi Darsih pun datang dengan pandangan yang heran sebab makanan di piring Mira sudah tandas tak tersisa.
"Non masih lapar tidak?" tanya Bi Darsih dengan pelan.
Mira menggelengkan kepala dan mulai berdiri menghampiri Bi Darsih.
"Aku sudah kenyang Bi. Bibi sekarang makanlah"
__ADS_1
"Tidak non. Nanti bibi makan mie saja. Ini bibi masak disuruh nyonya sama tuan untuk Non Mira sama Non Sarah"
"Kenapa begitu bi? Ini makanan banyak loh. Saya sama Sarah pasti takan sanggup menghabiskannya. Sekarang bibi duduk dan makanlah. Jangan khawatir, jika nanti Tuan Danu dan Nyonya Ria marah maka aku yang akan menjelaskannya" Mira mulai mendudukan tubuh wanita paruh baya itu dengan hati hati di atas kursi.
Bi Darsih yang memang belum makan pun mulai menyendokan nasi di piringnya dan mulai melahapnya.
Mira tersenyum menatap wajah Bi Darsih yang sedang menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Mira begitu senang melihat pengasuh sekaligus pelayannya saat kecil kini bisa merasakan makanan enak setelah kepergian ibu serta dirinya tujuh belas tahun lalu.
Mira yakin bahwa Bi Darsih hanya makan makanan seadanya sebab Danu dan Ria sangatlah pelit dan perhitungan pada pelayannya tersebut.
"Non mau makan lagi?" tanya Bi Darsih ketika sadar Mira sedang menatapnya.
"Ah, tidak tidak bi. Saya sudah kenyang" jawab Mira dengan senyum manisnya.
"kalau boleh bibi, kenapa non menatap bibi seperti itu? Apakah ada nasi menempel di pipi bibi?"
Mira tersenyum dan mulai menatap wajah Bi Darsih dengan sendu.
"Sebenarnya saya lihatin bibi karena saya memang melihat sosok ibu di dalam diriBi Darsih. Saya sangat rindu ibu saya. Dan Bi Darsih sangatlah baik serta perhatian pada saya seperti ibu saya sendiri"
__ADS_1