RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
205


__ADS_3

"Ini tak bisa di biarkan. Aku harus segera membereskan semuanya sebelum para polisi datang dan menemukan semua benda benda keramatku" gumam Danu dalam hati.


Ia kemudian banhkit dan berusaha jalan untuk pulang.


"Ayah mau kemana?" tanya Sarah dengan panik.


"Tuan Danu mau kemana? Tuankan masih sakit?"


Sarah dan Bi Darsih mencoba memegang tangan Danu yang mulai melangkah secara terburu buru. Mereka sangat khwatir dengan kondisi Danu yang masih lemah namun tetap memaksakan untuk segera pulang.


"Aku harus pergi dulu. Kalian minggirlah aku bisa sendiri" Danu menepis tangan Bi Darsih serta Sarah yang berusaha membantunya.


"Cepat panggilkan Mang Kardi sekarang!"


"Tapi tuan, tuan mau apa?"


Danu menghela nafas menahan rasa kesal serta amarahnya. Ia berbalik menghadap wanita paruh baya di belakangnya dan memelototi Bi Darsih sebagai tanda unyuk patuh dan tunduk pada perintahnya.


"Ba..baik tuan. Saya akan panggilkan Kardi untuk menyiapkan mobilnya. Tuan hati hati"


Bi Darsih segera berlari meninggalkan Sarah dan Mira di dalam ruang perawatan Danu.


"Ayah mau kemana? Kenapa ayah ingin pulang? Ayah belum pulih sepenuhnya. Kumohon tetaplah disini untuk mendapatkan perawatan"


Danu memegang pundak putrinya dengan erat. Ia tak sangat tak suka di tentang apalagi saat ini keadaannya sangat genting.


"Dengarkan ayah baik baik! Jaga ibumu disini dan beritahu ayah jika terjadi apa apa padanya. Ayah hanya ingin pulang untuk mengambil uang untuk membayar semua biaya perwatan. Emangnya kamu bawa uang hah?!" Danu kembali membentak Sarah.


Namun kali ini bentakannya tak terlalu keras sebab ada Mira di sampingnya.


"Jadi kau diam disini dan pantau kesehatan ibumu itu. Ayah akan kembali membawa uang untuk biaya perwatan"


Sarah hanya diam. Ia memandangi punggung Danu yang semakin lama semakin menghilang dibalik pintu kamar rumah sakit.


Mira yang tahu Sarah merasa sedih hanya mampu menatap gadis itu dengan perasaan iba.


Sejujurnya Mira pun tak ingin Sarah mendapat perlakuan kasar dari ayahnya seperi dirinya dulu. Namun, apalah daya. Danu memiliki sifat tempramental setelah melakukan pesugihan dengan para ibl** dan itu harus Mira maklumi sebab energi di dalam tubuh ibl* itu sudah menyatu dengan Danu dan kemungkinan besar energi negatif dari makhluk makhluk itu memang sudah terserap oleh Danu.


*******


Dari kejauhan Bi Darsih saat ini tengah berlari menuju seorang pria paruh baya yang tengah menyeruput secangkir kopi hitam di warung depan rumah sakit. Bi Darsih dengan langkahnya yang mulai sulit, berusaha mencapai Mang Kardi dengan sangat cepat.


"Mang! Mang Kardi sini!" Bi Darsih berteriak dengan sangat kencang, sehingga pria itu meninggalkan kopinya dan larinterbirit birit menuju Bi Darsih.


"Ada apa bi?"

__ADS_1


Bi Darsih terdiam dan mulai menarik nafasnya dalam dalam sebab merasa sangat kelelahan.


"It...itu Tuan Danu ingin pulang. Kau segera siapkan mobil dan antarkan dia pulang"


"Memangnya tuan sudah sembuh?"


"Itu maslahnya Kardi. Tiba tiba saja Tuan Danu sadar dan ingin segera pulang. Katanya mau ambil uang untuk pembayaran biaya rumah sakit dirinya dan nyonya. Tapi anehnya ia bahkan tak menanyakan kondisi Nyonya Ria"


Mang Kardi segera diam dan menyuruh Bi Darsih juga untuk diam. Mang Kardi menatap Danu yang saat ini berjalan ke arah mereka sehingga Mang Kardi pun takut dimarahi.


"Mana mobilnya Kardi?" teriak Danu dengan suara parau.


"ah belum saya ambil tuan. Tunggu sebentar" Mang Kardi pun segera berlari menuju parkiran untuk mengambil mobil. Lain hal nya dengan Bi Darsih yang menundukan kepala takut ucapannya tadi terdengar Danu.


"Bi tolong jaga Sarah dan Ria. Saya akan pulang dulu. Oh ya, jangan biarkan mereka pulang dulu sebelum urusan saya selesai. Ingat jangan beritahu apapun pada Sarah! Jika tidak maka kamu akan saya pecat"


"Ba...baik tuan"


"Sudah sana masuk kembali"


Bi Darsih menganggukan kepala dan mulai berjalan masuk kembali kedalam rumah sakit. Ia bahkan hanya termenung memikirkan sebenarnya apa yang akan Danu lakukan di rumahnya sehingga siapapun tak boleh kedalam rumahnya dulu.


"Pak silahkan masuk!" teriak Mang Kardi seraya membukakan pintu mobil"


Mobil berjalan dengan cepat menembus jalanan ibu kota. Hingga tak lama kemudian, mobilnya pun kini sudah berada di depan halaman rumah dengan cepat.


Danu membuka pintu mobil dan turun dengan perlahan akibat tubuhnya masih masih sangat sakit untuk di gerakan.


"Hati hati tuan" Mang Kardi berusaha membantu Danu untuk turun.


Hingga tak lama kemudian datang dua orang peronda yang sejak tadi menunggu kabar dari keluarga Danu sebab mendengar suara sirine ambulan serta mobil polisi sebelumnya.


"Eh Pak Danu darimana? Apa semuanya baik baik saja?" tanya salah satu bapak yang menghampiri Danu.


Danu tersenyum dengan terpaksa dan mulai menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh para tetangganya yang penasaran dengan apa yang terjadi di keluarganya.


"Ah, tadi arwah Mala kembali meneror keluarga kami sehingga membuat Ria yang terkejut jatuh dan mengalami pendarahan di kepalanya. Saya pun terkena terornya juga dan saat ini saya sedang buru buru untuk mengambil uang untuk membayar biaya perawatan"


"Oh jadi hantu Mala kembali meneror keliarga bapak ya. Mungkin istri pertama bapak tak suka melihat bapak hidup bahagia dengan Ibu Ria makanya dia mencelakakan Ibu Ria. Saran dari saya mending bapak pindah rumah saja, kan bapak banyak uang daripada harus kena teror yang membahayakan seperti ini"


Danu hanya membalas dengan senyuman dan segera pergi untuk menghindari semua pertanyaan yang meraka lontarkan sebab takut dirinya pun terjebak dengan jawabannya sendiri.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya pak. Saya buru buru. Istri saya harus mendapatkan perwatan yang terbaik dan saya harus membawa uang saya di dalam. Permisi" dengan senyuman di wajahnya, Danu akhirnya bisa masuk kedalam rumah dan terbebas dari kedua orang yang sedang meronda tersebut.


Danu berusaha berlari menuju kamar didalam gudang dan membawa sebuah batu akik berwarna hijau untuk dia kantongi. Untung saja didalam kamar ini hanya terdapat bunga bunga saja dan tak ada satu pun sajen yang ia pasang sebab memang sajen selalu ia simpan ketika ritual akan dimulai. Dan itu pun tidak setiap hari.

__ADS_1


Danu kembali berlari membawa kunci cadangan di lemari Bi Darsih. Namun ia tak menemukan kunci tersebut sehingga tampak jelas saat ini Danu tengah panik.


"Sial! Dimana wanita itu membawa semua kunci"


Danu mulai memutar otaknya hingga ia pun sadar saat ia di bawa ke rumah sakit, Tak ada bekas dobrakan di pintu kamarnya, hingga bisa jadi mungkin Bi Darsih yang membuka pintu kamarnya tersebut dengan kunci cadangan.


Danu pun kembali berlari menaiki tangga dan segera berjalan menuju kamarnya. Benar saja, kunci cadangan yang selama ini Bi Darsih simpan kini tengah menggantung diknop kunci kamar Danu.


"Ini dia kuncinya"


Danu segera melepaskan satu kunci dari sana dan mulai berlari menuju kamar kosong yang menjadi tempat kematian Nirmala dulu.


Pintu terbuka dengan pelan nampak ruangan yang sangat gelap itu kini mulai terasa sangat sunyi dan hening, hingga membuat bulu kuduk Danu merinding seketika.


"Entah sejak kapan aku meninggalkan Kamar ini" gumam Danu pelan.


Ia berjalan menuju saklar lampu dan mulai menyalakan stop kontak.


"Sekarang lebih baik" Danu mulai berjalan menuju lemari pakaian dan segera mengambil sebuah keris di balik foto Nirmala yang ia simpan rapih di ruang rahasia dalam lemari.


"Kau memang sangat menyusahkanku Nirmala!" Danu yang sangat geram dengan Nirmala pun segera mengembalikan foto Nirmala begitu saja kedalam lemari.


Dingin dan pengap sudah pasti Danu rasakan saat ini. Kamar putrinya yang menjadi saksi bisu kematian Nirmala kini terbengkalai dan tak ada siapapun yang memasuki kamar ini belasan tahun lamanya.


Hanya Bi Darsih yang membereskan kamar ini, yang mampu tahan dengan hawa mencekam di kamar ini.


Danu segera pergi meninggalkan kamar Maria dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil dompet.


Setelah ia selesai dengan urusannya dan mengambil domper serta dua pusaka pemberian dukun yang selama ini membantunya, Danu pun pergi menemui Mang Kardi dan menyuruhnya untuk segera kembali ke rumah sakit.


Danu sengaja tak mengotak ngatik TKP yang nanti pagi akan di selidiki kepolisian sebab ia pun yakin seratus persen bahwa ia takan di jadikan tersangka sebab ini murni teror seorang arwah. Dan Danu pun kembali ke rumahnya hanya membawa uang saja. Itu adalah alibi yang kuat.


"Ayo kita pergi mang" Danu segera masuk kedalam mobilnya.


Hingga saat berada di depan pagar rumahnya, ia pun melihat kedua bapak bapak yang tadi meronda kini tengah duduk seraya menyesap sebatang roko di tangannya..


"Bapak bapak ini ada uang. Saya titip dulu rumah saya ya" Danu memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada kedua bapak tersebut.


Dan keduanya tampak senang serta tersenyum ke arah Danu.


"Terimakasih banyak Pak Danu. Semoga bapak dan keluarga bapak sehat dan terhindar dari segala marah bahaya. Amiin"


"Iya pak. Permisi"


Mobilpun melaju melewati pagar rumahnya. Danu kini sudah merasa lega sebab kedua pusakanya kini berada di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2