RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
108


__ADS_3

"Aku harus segera mengawetkan kembali tubuh ini. Jika sampai kulit di tubuh ini ikut mengelupas maka semua rencanaku akan hancur" Mira bergumam dengan pelan.


Ia segera mengumpulkan helaian rambut yang cukup banyak di sisir dan mengumpulkannya di dalam kantong plastik. Mira segera mengambil tusuk konde kecil yang selalu ia selipkan di balik rambutnya dan mulia menusuk beberapa bagian di wajah, kepala serta bagian tubuhnya.


"Aku perlu sekali alat ini. Dan raja sangat tahu apa saja yang aku butuhkan untuk membalaskan dendamku disini. Aku akan memebrikan pelayanan yang baik untuknya nanti sebagai ucapan rasa terimakasih" Mira mulai mengenggam tusuk konde itu dan kembali menyelipakannya ke balik rambutnya yang cukup tebal.


Kulit di wajah serta tubuhnya mulai terasa mengencang akibat mantra serta tusukan dari tusuk konde yangbraja berikan. Ia bahkan merasa sangat segar dan bugar seolah olah telah mendapatkan tubuh baru lagi.


Mira mulai berjalan menuruni anak tangga dan tak melihat siapapun di sana. Ia kemudian berjalan ke arah dapur dan nampak Bi Darsih tengah berdiri disana seraya memotong banyak sekali sayuran.

__ADS_1


"Bi" panggil Mira dengan pelan.


Spontan saja Bi Darsih membalikan tubuhnya dan melihat Mira yang baru saja berada di ambang pintu dapur.


"Eh nak Mira. Nak Mira sudah merasa lapar ya" Tanya Bi Darsih dengan ramah.


Mira yang menatap tak ada daging sepotong pun di atas meja makan segera menggelangkan kepala.


"Astagfirullah nak, Bibi lupa. Ya sudah nanti bibi akan bicara pada Nyonya Ria bahwa pakaianmu sudah sangat kotor. Oh ya, tapi ketika kau tidur apa pakaiannya diganti dengan yang bibi kasih tempo lalu?" tanya Bi Darsih cepat.

__ADS_1


Mira menganggukan kepala. Ya memang selama ini jika ia pergi utuk tidur, ia tak lupa mengganti pakaiannya dengan pakaian ibunya yang di berikan oleh Bi Darsih sebelumnya. Bahkan pakain ibunya ingin sekali ia gunakan ketika sehari hari, namun ia sadar bahwa Ria tak menyukainya dan pastinya Bi Darsih akan terkena semprot oleh Ria.


"Tentu saja aku memakainnya bi. Aku selalu menganti pakainku dengan yang bibi berikan. Aku sungguh merasa tak nyaman jika harus menggunakan pakaian ini secara terus menerus"


Bi Darsih pun menganggukan kepala dan mulai kembali memotong sayuran dan menumisnya dengan sangat harum. Namun, sayangnya tak ada rasa tergoda di hati Mira saat melihat tumbuhan hijau itu sedang di masak oleh wanita paruh baya itu.


"Yakin nak Mira tak mau makan makanan bibi?" tanya Bi Darsih penuh harap.


Mira menatap manik wanita paruh baya itu lekat lekat dan nampak begitu jawaban iya darinya. Di sisi lain, Mira bahkan sangat jijik ketika melihat tumbuhan itu setelah menjadi seorang arwah penasaran. Entahlah, dulu masakan Bi Darsih sangat enak menurut Mira, apalagi sayur asem yang Bi Darsih buat dengan banyak jagung di dalamnya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan mencoba memakannya bi. Tapi, aku takan banyak memakannya ya bi, maaf. Aku sedang menjalankan program diet" Mira tersenyum manis ke arah Bi Darsih.


"Iya tak papa. Bibi juga paham dengan aturan wanita muda sepertimu. Karena bibi pun pernah berusaha untuk menurunkan berat badan, namun sayang, bibi gagal dan malah tambah melar"


__ADS_2