RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
53


__ADS_3

Iblis yang melakukan perjanjian dengan Danu akhirnya kembali dengan perut yang buncit serta mulut yang penuh dengan darah.


"Kau sudah selesai?" tanya si mbah dengan senyumannya.


"Tentu saja aku puas dengan persembahanmu. Aku akan memberikan kemakmuran serta kekayaan untumu. Hahaha" Iblis itu tertawa dengan terbahak bahak.


"Syukurlah jika wanita itu sudah mati. Sekarang mas adalah milikku, hanya milikku" Ria memeluk tubuh Danu dengan erat.


Iblis itu kembali menghilang meninggalkan bau anyir darah diruangan tersebut .


"Apakah kalian sudah puas?" tanya si mbah dengan senyum menyeringai.


"Tentu saja mbah. Kami sangat puas. Pekerjaan mbah sangat cepat"


"Sekarang mana uang yang kalian janjikan untukku"


Si mbah mulai menagih uang pembayaran yang sudab Ria dan Danu janjikan sebelumnya.


"Ini mbah" Danu mengeluarkan segepok uang berwarna merah dihadapan si mbah.


"Bagus. Perjanjian kita belum selesai. Kalian masih memiliki perjanjian dengan iblis itu dan pelntaranya adalah saya. Mbah akan menghubungi kalian jika nanti si iblis itu menginginkan tumbalnya lagi".


Danu dan Ria saling pandang, mereka bingung dengan perkataan si mbah yang mengatakan bahwa iblis itu kemungkinan akan meminta tumbal kembali.


"Maksud mbah iblis itu akan meminta tumbalnya lagi pada kami?" tanya Danu memastikan.


"Tentu saja! apa kalian pikir iblis itu hanya meminta makanan satu kali sedangkan kalian ingin kekayaan yang abadi? yang benar saja"


Ria kembali ketakutan dan mulai ingin pulang kembali ke rumahnya. Ia sesekali melihat kearah si mbah yang tampak menyeramkan dengan senyuman misteriusnya.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya mbah"


"Salam" Danu dan Ria akhirnya pergi meninggalkan rumah si mbah dengan keadaan senang.


Setelah sekian lama ia menantikan kematian Nirmala akhirnya hari ini telah tiba juga. Nirmala akhirnya mati dijadikan tumbal pesugihannya.


*****


Tanpa mereka sadari, Maria telah menyaksikan kesadisan iblis yang telah merenggut ibunya sendiri. Ia begitu benci dengan kejahatan yang sudah diperbuat sahabat ibunya serta ayah kandungnya sendiri.


Maria yang kini sudah berada di kerajaan siluman ular, perlahan lahan mulai siuman dan melihat keduan pria tengah berada disampingnya.


"Aku ada dimana?" Maria mencoba menajamkan pandangannya yang terasa blur.


"Syukurlah kau sudah sadar" Antareksa kemudian memeluk tubuh Maria secara spontan.


Sang raja yang merasa cemburu akhirnya mendorong keras tubuh Antareksa dan mulai memeluk tubuh Maria dengan erat.


"Kau tak apa apa istriku? apa ada yang sakit?" tanya raja dengan panik.


"Ak..aku ...aku." Maria kembali mengingat kejadian dimana ibunya dihabisi oleh makhluk mengerikan suruhan ayahnya.


Ia menangis dengan kencang dan mulai memukul tubuhnya dengan sangat kuat.


"Ibu!! ibu kenapa pergi? kenapa ibu tinggalkan Maria sendiri! "


Maria meraung raung dan membuat Antareksa serta raja yang menyaksikannya ikut merasa sedih.


"Apa yang kau lihat sebenarnya?" Tanya Antareksa pada Maria.


"Ibuku sudah mati! kalian yang membaku kesini dan membiarkan ibuku mati begitu saja! sudah puaskah kalian melihatku menderita dan kehilangan ibuku hah!? aku beberapa kali memohon padamu untuk mengirimku kembali pulang dan merwat ibuku. Tapi kalian seolah buta dan tuli tak sedikitpun mendengar permintaanku. Sekarang kalian puas hah! puas!"


Maria memukul kedua pria dihadapannya dengan sangat keras. Rasa sakit dihatinya begitu dalam hingga ia pun tak perduli dengan konsekuensi yang akan diterimanya.


"Aku tak bermaksud memisahkanmu dari ibumu. Kau sudah jadi alat pembayaranku dengan orang bernama Ria. Kau meminum ramuan yang ia berikan yang artinya kau akan setuju menjadi budak nafsuku"


Mata Maria terbelalak mendengar perkataan raja yang begitu sangat membuatnya marah.


"Apa kau yakin aku menyetujuinya hah?! Aku dijebak dan aku tak tahu harus menikahi siluman sepertimu! Sekarang hidupku sudah hancur, ibuku mati dan aku hanya sendiri disini. keinginanku hanya satu darimu. Bunuh saja aku dan semuanya akan selesai"


Maria mengambil tusuk penghias rambut miliknya yang terbuat dari emas dan segera memberikannya pada Antareksa.


"Kalian bisa membunuhku sekarang karena aku sudah tak ingin kembali kesana"


Antareksa bergeming. Berbeda dengan sang raja yang merasa bersalah dan kemudian ingin membantu Maria mengakhiri hidupnya.


"Tunggu!" ucapan Antareksa berhasil membuat sang raja berhenti ketika akan menikam leher Maria.


"Apakah kau ingin mati begitu saja? apakah kau tak ingin membalaskan semua rasa sakitmu pada mereka, Maria?" Antareksa bertanya dengan tatapan kosong.


Maria terdiam. Ia kemudian membuka matanya dan melihat raja yang saat ini akan menusuk lehernya.

__ADS_1


"Aku tak punya kekuatan apapun untuk melakukannya. Aku tak bisa membalaskannya sendirian" Maria menundukan kepala dan mulai meneteskan air mata.


"Aku akan membantumu sayang" Raja mulai melemparkan tusuk rambut tersebut keatas lantai.


Antareksa tersenyum dan mulai mendekatkan diri kearah Maria.


"Kami adakah siluman, dan akan membantumu membalaskan dendam pada ayahmu serta sahabat ibumu"


Maria mulai menatap penuh harap pada keduanya.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Namun, untuk melakukan itu kau harus mati dan menjadi


Maria menganggukan kepala dengan cepat.


"Aku setuju. Aku akan melahlirkan keturunan untukmu raja"


Antareksa terdiam. Ia terkejut mendengarkan perkataan Maria yang akan memberikan keturunan untuk kakaknya tersebut.


Raja mulai memerintahkan Antareksa pergi dari kamar Maria. Sang raja akan memulai aktivitasnya bersama Maria untuk melahirkan terlebih dahulu keturunan manusia setengah ular yang selama ini raja impikan.


"Kau pergilah dulu dari sini"


Antareksa kemudian berjalan meninggalkan kamar Maria dengan perasaan tak menentu. Ia begitu tak rela melihat Maria bersama kakaknya bahkan saat ini keduanya akan memadu kasih untuk menghasilkan keturunan.


Perlahan lahan Antareksa mulai meninggalkan kamar dan berjalan dengan sedih menuju kamarnya. Hatinya negitu sakit ketika mendengar suara kakanya yang saat ini mungkin tengah melakukan hal yang semestinya ia lakukan.


Entah apa yang merasuki pikiran Antareksa, ia begitu tak rela melihat Maria menjadi milik orang lain sedangkan ia hanyalah adik iparnya dan bukan siapa siapa Maria.


Antareksa duduk didalam kamarnya yang gelap dan menatap kosong ke arah halaman.


"Apa yang terjadi pada diriku sehingga saat ini hatiku sakit melihatnya bersama orang lain" Antareksa bergumam dengan dirinya sendiri.


 


Dirumah sakit dokter dan beberapa perawat yang saat ini telah kehilangan Nirmala dan akhirnya Nirmala pun dinyataka meninggal dengan kondisi badan yang baik baik saja tanpa luka sedikitpun.


Bi Darsih menangis meraung raung di ruangan tersebut seraya terus saja memohon pada sang pencipta agar majikannya dihidupkan kembali.


"Kumohon hidup kembali Nyonya Ya Allah"


Dokter yang merasa iba pun mendekati Bi Darsih dan mencoba menengkannya.


"Ada apa dengan nyonya dok? tadi nyonya baik baik saja dan esok kita akan perhi mencari kiyai untuk menyembuhkan penyakit misteriusnya. Tapi nyonya malah menyerah dan meninggalkan Non Maria sendirian"


Bi Darsih berteriak seraya memukul dirinya sendiri.


"Ini sudah takdir sang pencipta. Bibi tak bisa menyalahkan siapapun. Mungkin ini sudah jalan yang terbaik untuk Nyonya Nirmala" Dokter muda itu kemudian mencoba menengkan Bi Darsih.


Nirmala yang saat itu tengah berbincang dengan Bi Darsih tiba tiba saja jatuh tersungkur dan tak lama kemudian ia mengeluarkan banyak sekali darah dari mulut serta hidungnya.


Bi Darsih yang panik memanggil dokter dan Nirmala pun segera mendapatkan perawatan.


Belum sempat ia mendapatkan pemeriksaan, tiba tiba saja mata Nirmala terbelalak bahkan hampir keluar dengan lidah terjulur serta mulut yang terus saja mengeluarkan darah. Hingga tak lama kemudian terdengar suara dengkuran dari Nirmala dan kemudian ia berhenti bernafas dan denyut nadinya terhenti.


Dokter yang kaget serta kebingungan segera melakukan CPR dan tetap saja tak mendapatkan respon apapun dari Nirmala. Hingga kemudian tak lama mereka pun menyerah dan menyatakan bahwa Nirmala sudah tiada.


Nirmala bahkan belum sempat melihat Maria kembali siuman bahkan ia juga belum sempat melihat putri semata wayangnya menjadi seorang dokter seperti yang ia idamkan.


Tangis Bi Darsih pecah ketika mendengar kenyataan pahit ini dikala rumah tangga sang majikan pecah serta anak dari majikannya yang sama mengalami hal misterius.


********


Hari ini adalah hari pemakaman Nirmala. Bi Darsih yang masih saja menangisi kepergian majikannya tampak begitu pucat dengan mata yang sembab.


Berbeda halnya dengan Danu dan Ria yang begitu santai dengan wajah ceria seperti orang yang tak merasakan kehilangan.


Saat pemakaman telah selesai, mereka pun pergi menuju rumah kediaman Danu dan Ria pun pamit dengan alasan ingin pulang kampung.


Usaha Danu tampak jaya dan semakin sukses setelah kepergian Nirmala, namun Maria masih saja terbaring dirumah sakit tanpa membuka matanya sedikitpun.


Satu bulan telah berlalu dan hari ini, Ria kembali datang ke rumah Danu untuk melangsungkan pernikahan.


Pernikahan mewah nan megah telah dipersiapkan Danu untuk meminang kekasihnya walaupun putrinya terbaring dirumah sakit dan tak menghadiri pernikahannya tersebut.


Maria yang jiwanya masih berada di kerajaan siluman kini tengah mengandung anak dari sang raja bahkan ini adalah hari dimana ia akan melahirkan anak setengah siluman tersebut.


Derasnya keringat yang membanjiri kening Maria membuat sang raja dan Antareksa begitu khawatir. Bahkan Antareksa tak henti hentinya menemani Maria sejak pertama kali ia mendengar bahwa Maria tengah mengandung bayi sang kakak.


"Perutku sakit sekali" Maria terlihat kesakitan.

__ADS_1


"Tahanlah sebentar, Kau pasti sebentar lagi akan melahirkan putra kerajaan untuk kami" Kumala tersenyum dengan senang sebab sebentar lagi Maria akan mati setelah kelahiran anak raja.


"Semuanya cepat keluar!" Kumala segera memerintahkan sang raja dan Antareksa untuk keluar karena Maria akan melahirkan.


Tak berselang lama akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Perut Maria terlihat sangat besar seperti akan meledak.


Bau darah yang menyeruak membuat beberapa siluman dari arah luar menunggu diluar kamar Maria.


"Darah" uacap salah satu pengawal raja.


Sontak saja raja yang takut Maria serta anaknya celaka segera membuat portal untuk melindunginya.


"Jangan sampai kalian macam macam dengan anakku!" Raja yang murka merubah wujudnya menjadi ular emas yang sangat besar dan menutup seluruh pintu kamar Maria dengan tubuhnya.


Antareksa hanya bisa terdiam memikirkan nasib dari wanita yang telah membuatnya jatuh hati.


"Ahhhhhhhhh!" Maria menjerit dengan sangat kencang hingga membuat Antareksa dan raja terdiam dengan wajah yang cemas.


Tak berselang lama Kumala keluar dan mempersilahkan raja untuk masuk dan melihat bayi dari Maria.


"Bayi kita sudah lahir."


Raja yang tampak senang segera masuk kedalam kamar Maria dan melihat keadaan putranya.


"Anakku berapa Kinanti?" Raja bertanya pada Kumala yang sedang tersenyum manis.


"Anak kita ada lima raja. Empat berjenis kelamin laki laki dan satu berjenis kelamin perempuan"


"Apa? perempuan? aku tak ingin memiliki anak itu" raja dengan kesal mencoba membantingkan tubuh bayi mungil tak berdosa keatas lantai.


Hingga Antareksa pun dengan sigap menggendong tubuh bayi tak berdosa itu dan memeluknya.


"Kenapa kau membiarkan dia melakukan ini hah? Antareksa bertanya pada Maria yang hanya terdiam tanpa sepatah katapun.


"Apa kau sama sepertinya tak menginginkan bayi ini?" Antareksa bertanya kembali namun jawaban Maria sungguh mengejutkan.


"Aku sungguh tak ingin memiliki anak dari bangsa kalian. Aku sudah hancur karena mu dan bangsamu. Alasanku kembali dan menyetujui memiliki anak ini adalah untuk kembali ke dunia nyata dan hidup bersama ibuku. Namun ibu sudah mati dan aku pun tak memiliki alasan lagi untuk hidup. Kita sudah memiliki perjanjian dan kalian harus menepatinya. Bunuhlah aku dan hidupkan kembali menjadi seorang siluman. Aku akan membalskan dendam pada ayah serta wanita jal**ng itu!


"Apa kau tak punya hati hah?!"


"Hati kau bilang? hati?! hatiku sudah mati sebab kalian hancurkan. Kau ikut andil dalam kematian hatiku sendiri. Lalu kenapa kau membicarakan soal hati dan menujukan rasa iba pada bayi itu? raja tak menginginkannya dan ingin membunuhnya. Aku pun tak ingin memilikinya, lalu untuk apa dibiarkan. Bunuh saja dia"


Antareksa sungguh tak menyangka bahwa Maria akan mengatakan hak sekejam ini.


"Baiklah kalau kalian tak menginginkan bayi perempuan ini. Aku yang akan memilikinya. akan ku besarkan dia seperti anakku"


Sejatinya Antareksa memilih sang bayi perempuan itu karena hatinya mersa ada sesuatu yang berbeda dari bayi perempuan yang ada dipangkuannya tersebut. Entah kenapa hatinya begitu merasa dekat dengan bayi mungil itu sehingga ia memilih untuk mempertahankannya.


"Sekarang kalian cepat bunuh aku dan bantu aku membalaskan dendam pada mereka" Madia mulai bangkit tanpa memperdulikan rasa sakit dibagian sensitivnya.


Darah yang sangat banyak diatas ranjang membuat raja dan Antareksa merasa tertarik pada noda tersebut.


"Ambilkan bunga serta pedangku" Raja memerintah Kumala untuk mengambilkan pedang pusakanya.


Tak lama kemudian raja pun mulai menyiramkan cairan bunga keatas pedangnya dan perlahan lahan mulai menusukan pedamg tersebut tepat kejantung Maria.


Darah mulai mengucur deras dari mulut Maria, dan Maria hanya tersenyum dengan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


"Ibu, aku akan membalaskan semua penderitaanmu" Maria kemudian jatuh tersungkur diatas lantai dengan darah yang mengucur deras dari bagian dadanya.


Seiringan dengan kematian Maria, bayi perempuan serta ketiga bayi lelaki yang ada diatas ranjang kemudian menangis dengan kencang hingga membuat raja, Kumala dan Antareksa mencoba menenangkannya.


Tak lama kemudian, luka di dada Maria kian pudar dan mengilang seiringan dengan darahnya yang mengering diatas lantai.


Perlahan lahan raja mulai membaca beberapa kalimat dan menyiramkan secawan air bunga keatas tubuh Maria yang terbaring hingga membuat tubuh Maria mengeluarkan asap hitam dan tak lama kemudian Maria pun terbangun dengan senyum menyeringai dan seluruh tubuhnya pucat pasi.


"Aku kembali Danu" gumam Maria dengan pelan


Antareksa yang menyadari bahwa Maria sudah berubah kini perlahab lahan mundur dan berjalan meninggalkannya menuju kamar.


Dari luar seluruh penghuni kerjaaan siluman saling bersorak dan mencoba mendekati bayi yang berada dipangkuan Antareksa.


Beberapa siluman kera bahkan mencoba meraih bayi tersebut karena bau darah manusia yang khas membuat mereka sangat berselera.


Tak dapat dipungkiri, Antareksa pun merasa sangat ingin memangsa bayi dipangkuannya namun dirinya yang merupakan siluman setengah manusia masih sedikit sadar dan masih bisa mengontrol gertakan didalam hatinya.


Setelah sampai didalam kamar. Antareksa kemudian menatap bayi yang berada didalam pangkuannya dan tak lama kemudian ia pun mencoba melebur dengan jiwa sang bayi agar tak bisa dipisahkan. Hingga akhirnya fakta mengejutkan harus ia tahu, bahwa bayi perempuan dipangkuannya adalah anaknya sendiri.


"Mengapa bisa seperti ini?"


Antareksa menatap manik indah milik sang bayi yang berwarna biru sepertinya, kulitnya yang putih serta hidungnya yang lancip sungguh membuat Antareksa begitu takjub dengan bayi tersebut.

__ADS_1


Pantas saja ia begitu memiliki daya tarik pada bayi perempuan dipangkuannya ternyata oh ternyata, bayi ini adalah anaknya sendiri.


"Aku akan merahasiakan ini dari semua orang" Gumam Antareksa dengan pelan.


__ADS_2