RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
26


__ADS_3

Danu pergi mengendarai mobil berwarna putih bersama Maria disampingnya. Tak ada obrolan antara ayah dan putrinya tersebut. Hingga akgirnya Danu mencoba mencairkan suasana dengan mengajak putrinya bercerita mengenai rumah tangganya.


"Maafkan ayah" ucap Danu pelan.


"Untuk?" tanya Maria dengan wajah menhadap kearah jendela.


"Untuk semua kesalahan yang sudah ayah perbuat kepadamu selama ini. Untuk semua perlakuan kasar ayah selama ini dan untuk perkataan ayah yang menyakiti hatimu"


Maria bergeming tak menjawab ataupun menoleh kearah ayahnya tersebut.


"Sebenarnya akhir akhir ini ayah pun tak sadar bahwa sudah melakukan hal tersebut padamu dan ibumu. Aku benar benar tak sadar bahwa menyakiti kalian. Mungkin karena ekonomiku tak setabil dan hubunganku dan ibumu yang selalu saja bermasalah"


Maria berdecak kesal dan tersenyum miring menyikapi perkataan ayahnya.


"Jika ayah sadar, ayah berubah karena Tante Ria. Dialah dalang yang sudah membuat kehidupan kita hancur"


Danu tiba tiba saja menghentikan mobilnya dan mulai menatap kearah putrinya.


"Kau tak perlu melibatkan dia dalam urusan ini. Ayah sudah tak cocok dengan ibumu karena sudah tak ada cinta diantara kita berdua. Kau tak tahu serumit apa hubungan rumah tangga yang sedang ayah alami" Danu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Justru ibu melakukan itu karena kesal ayah yang sudah berselingkuh dengan wanita itu!"


Plak!


"Cukup! sudah cukup ayah bilang! kau tak perlu ikut campur dan mengaitkan semuanya pada Ria!" Danu menampar pipi Maria dengan keras hingga meninggalkan noda merah di pipi mulusnya.


Sakit dan perih menjadi satu. Maria memegang pipinya yang mulai berdenyut akibat tamparan keras yang ia dapatkan dari ayahnya. Baru saja Danu meminta maaf pada Maria, kini ia kembali membuat kesalahan pada putrinya sendiri.


Tak lama kemudian, mata Maria mulai berkunang kunang dan kepalanya terasa sakit. Pandangannya kabur dan akhirnya Maria pingsan.


Danu yang melihat putrinya tiba tiba saja tak sadarkan diri , mulai panik dan menjalankan kembali mobilnya menuju rumah sakit untuk mengetahui keadaan putrinya tersebut.


"Maria sayang bangun!' ucap Danu disela sela kepanikannya.


"Maafkan ayah sayang! ayah tak bermaksud menyakitimu" Danu kembali menatap putrinya yang terlelap dan semakin kencang mengemudikan mobilnya.


Tak lama kemudian akhirnya ia pun samoai dihalaman rumah sakit dan segera memarkirkan mobilnya. Danu turun dari mobil dengan tergesa gesa dan mulai memangku tubuh putrinya untuk segera ditangani pihak rumah sakit.


"Dok! Dokter tolong putri saya!" teriak Danu.


"Dokter! dokter cepat!"


Terlihat beberapa suster membawa blankar dan membaringkan tubuh Maria diatas ranjang terbut kemudian membawanya menuju ruang pemeriksaan.


Danu memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Ia bahkan merasa sangat bersalah karena menampar pipi putrinya. Danu menganggap bahwa Maria pingsan akibat tamparannya yang keras tepat di pipi putrinya, namun ia tak tahu justru sebenarnya Maria pingsan akibat serbuk yang dimasukan Ria kedalam makanan Maria sekarang mulai bekerja.


"Apa yang terjadi pada pasien ssbelumnya?" tanya dokter pada Danu.


"Sa..saya tak tahu dokter. Tadi saya hanya memarahinya dan tak sengaja menampar pipinya karena emosi. Dia sempat terdiam beberapa saat dan tak lama akhirnya ia pun pingsan. Tolong segera cek keadaan putri saya dokter"

__ADS_1


Danu memohon oada sang dokter untuk membantu kesehatan putrinya.


"Tenang saja pak. Kami akan melakukan pemeriksaan mendalam padanya dan segera memberitahu penyebabnya pingsan. Dan anda tuan, jangan pernah melakukan kekerasan pada anak anda apalagi anak anda adalah seorang wanita" Dokter pun meninggalkan Danu yang kalut dengan pikirannya.


Niat Danu tak ingin masuk kedalam ruamh sakit tersebut, namun apa daya, putrinya justru kini harus dirawat akibat kejahatan yang ia lakukan.


Bi Darsih yang baru saja keluar dari kamar majikannya, dari kejauhan melihat Danunyang sedang terduduk dengan menutup wajahnya.


"Tuan Danu" gumam Bi Darsih pelan.


Wanita paruh baya tersebut berjalan menghampiri Danu dan segera menepuk pelan punggung majikannya tersebut.


"Tuan sedang apa disini?" tanya Bi Darsih penasaran.


Danu amyang terkejut pun segera bangkit dan terlihat gugup ketika bertemu dengan Bi Darsih.


"Apa tuan mau menjenguk nyonya disini? ruangan nyonya ada disebelah sana tuan" ucap Bi Darsih dengan jelas.


Danu yang kikuk pun menatap sekitar dan menjawab pertanyaan pembantunya dengan pelan.


"Dimana wanita gila itu?"


Bi Darsih mengerutkan kening tak mengerti apa yang dimaksud oleh Danu.


"Siapa yang tuan maksud? nyonya Irma?" tanya Bi Darsih memastikan.


"Suuutttt! jangan keras keras. Iya, dimana dia sekarang?"


Bi Darsih yang akan bergegas pergi segera dicekal Danu.


"Tak usah Bi. Aku kesini bukan karena ingin menemui wanita gila itu"


"Lalu apa yang tuan lakukan disini? apakah Nyonya Ria sakit? atau jangan jangan Non Maria?"


"Suutttt! sudah kubilang jangan keras keras!"


Bi Darsih sadar bahwa ada yang tak beres dengan majikannya tersebut.


"Bibi jaga rahasia ini ya, jika tidak maka bibi akan saya pecat!"


Bi Darsih menganggukan kepala sebab ia pun takit bila harus kehilangan pekerjaannya selama ini.


"Jadi apa yang terjadi pada Non Maria tuan?" tanya Bi Darsih khawatir.


"Aku tak sengaja menampar pipinya Maria didakam mobil ketika ingin datang kesini. Tapi mungkin karena Maria belum makan jadi dia pingsan" jelas Danu seraya menundukan kepala.


Bi Darsih yang terkejut dengan pernyataan majikannya hanya bisa menutup mulut tak percaya san hanya mampu terdiam tanpa menjawab.


"Sekarang dia sedang diperiksa oleh dokter, dan bibi jangan katakan hal ini pada Irma jika ia mengetahui Maria sedang dirawat disini"

__ADS_1


Bi Darsih dengan terpaksa menganggukan kepala dan menuruti perkataan majikannya sebab takut dipecat.


Dari sisi yang lain, jiwa Maria yang kini sedang berada dialam lain, sedang menangis tersedu sedu karena bingung dengan tempat asing yang ia datangi.


"Aku dimana sekarang. hiks" rintih Maria dalam tangisnya.


Didunia yang gelap dan penuh dengan bebatuan, kini tubuhnya meringkuk tak tahu harus kemana. Dipeluknya erat lulut kakinya dan menenggelamkan wajahnya.


"Ibu tolong Maria" lirihnya dalam tangis.


Gelap dan pengap menjadi satu. Maria yang takit akan kegelapan tak tahu harus melakukan apa ditempat ini. Dari kejauhan terdengar sayup sayup suara desisan ular yang mendekat kearahnya.


Maria mulai menatap arah sekitar dan mencari cari sumber suara yang berasal dari dalam semak semak.


"Ada apa itu" gumamnya pelan.


"HAHAHAHAHAH" suara besar nan berat seketika membuat Maria ketakutan dan mulai berdiri dengan sedikit memundurkan badannya.


"Si...siapa dis..disana?" ucap Maria ketakutan.


"Cantik sekali calon istriku" suara berat yang berasal dari semak semak kini semakin dekat terdengar olehnya.


"Siapa kau sebenarnya hah! keluar dan tunjukan wujudmu!" teriak keras Maria.


Tak disangka sangka, dari dalam semak semak mulai terdengar suara desisan ular yang semakin keras dan semak semak pun berguncang dengan sangat kencang.


Sebuah kepala pria muncul dari dalam semak semak tersebut dengan tangan dan tubuh yang bersisik emas dengan badan setengah ular. Maria menjerit kencang dan mulai menutup matanya agar tak melihat makhluk menyeramkan tersebut.


"Pergi kau! pergi!" teriak Maria.


"Aku tak akan pergi meninggalkanmu sayanv! kau adalah permaisuri yang sudah disiapkan untuku" makhluk itu semakin mendekat kerah Maria dan mencengkram kuat tubuh Maria dengan tenaganya.


"Lepaskan aku! lepaskan!" Maria berontak berusaha melepaskan dirinya dari siluman ular tersebut.


"Kau akan jadi miliku hari ini" Lidah siluman itu kini menj**ati pipi mulus Maria dengan sangat lahap.


Maria menangis sesegukan dengan tubuh yang bergetar hebat karena takut dan tak bisa berbuat apapun.


"Kumohon lepaskan aku!" bulir bening tak henti hentinya menetes.


Perlahan lahan, siluman itu berubah menjadi sosok pria yang seusia dengannya dan memiliki paras yang tampan.


"Kau tak perlu takut, aku pun bisa merubah wujudku menjadi tampan agar kau mau ku sentuh"


"Aku tak sudi kau sentuh walaupun kau berubah menjadi pria tampan seperti apapun! kehormatanku lebih berharga dibandingkan wajahmu yang menjijikan itu! cuih!' Maria meludah tepat diwajah siluman itu.


Dengan amarahnya yang memuncak kini siluman itu mulai menjambak rambut indah Maria dengan sangat kencang. Tubuh Maria tak bisa bergerak sama sekali akibat ikatan gaib yang dilakukan siluman itu untuk membuat Maria diam dengan perlakuan bejadnya.


Dengan buas siluman itu menlu**t habis mulut Maria yang berusaha berontak dan mulai membuka paksa pakaian yang dikenakan Maria.

__ADS_1


Berkali kali Maria menangis dan teriak, serta memberontak namun sia sia saja karena tubuhnya sekan terkunci sehingga tak bisa melakukan gerakan apapun.


"Ibu" lirih Maria dalam hati.


__ADS_2