RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
41


__ADS_3

Bi Darsih pun menatap majikannya yang begitu sedih. Tak yerasa ia pun kembali mengenanng masa masa indahnya bersama putrinya yang sejak bayi sudah hilang entah kemana.


Dulu ia memiliki bayi perempuan yang sangat cantik kemudian diculik oleh orang gila yang berada dikampungnya. Tak lama kemudian saat orang gila tersebut diketemukan, orang tersebut sudah tewas karena jatuh ke sungai diatas jembatan antara penghubung kampungnya dan kampung sebrang.


Bi Darsih yang mengetahui hal tersebut tak kuasa menahan tangis dan mulai pulang kerumahnya dengan diantar beberapa warga. Tak sampai disitu, saat ia pulang ke rumahnya, ia mendapatkan kenyataan yang pahit bahwa suaminya sudah lama menikahi seorang janda yang berasal dari kamlun sebelah hingga Bi Darsih pun memilih menceraikan suaminya dan ia pun pergi merantau ke sebuah daerah di pulau jawa.


"Maafkan saya nyonya. Saya rasa nyonya benar benar harus dibawa ke orang yang ahli dalam hal gaib. Sebab saya sudah yakin bahwa nyonya mengalami sebuah penyakit yang dikirim seseorang dan kemungkinan Maria pun sama dengan nyonya"


Nirmala menatap Bi Darsih dan kembali menatap anaknya yang sedang lelap tertidur.


"Iya benar bi, besok saya akan mencari seorang kiyai yang akan mengecek Maria dan juga mengecek penyakit yang saya derita. Saya tak mau dipisahkan dengan putri saya karena dialah satu satunya alasan untuk saya hidup" Nirmala membelai rambut Maria dengan lembut.


"Baik nyonya. Besok pagi saya akan coba cari tahu di sekitaran daerah sini bersama Mang Kardi untuk mencari kiyai yang bisa membantu nyonya dan Non Maria"


Dari arah luar, Bi Darsih dan Nirmala tak tahu bahwa Ria dan Danu kini sedang memadu kasih didalam kamarnya dengan sangat panas. Keduanya tampak begitu acuh melakukan hal tercela tersebut dan tak memperdulikan kehadiran Nirmala yang notabene adalah istri sah Danu sebab ia sudah berada didalam kendali Ria.


Seperti malam malam biasanya, Nirmala dan Bi Darsih teryidur dikamar Maria sebab mereka menjaga Maria karena takutnya ia tiba tiba saja sadar dan mencari sosok ibunya. Nirmala tidur diatas lantai dengan kasur lipat yang sudah ia siapkan dan Bi Darisih pun juga sudah menyiapkan kasur lipat disamping majikannya sebab ia takit jika Nirmala mengalami hal mengerikan lagi dan membutuhkan dirinya.

__ADS_1


Angin malam yang begitu dingin serta suasana sepi membuat Nirmala begitu sulit terlelap dan hanya menatap langit langit kamar putrinya yang begitu gelap karena lampunya selalu dimatikan ketika malam menjelang.


"Bibi sudah tidur?" tanya Nirmala mencoba memecah keheningan diantaranya.


"Belum nyonya, kenapa? nyonya butuh sesuatu?"


Nirmala hanya terdiam dan kemudian menarik nafas mencoba memulai pembicaraan dengan asisten pribadinya.


"Maaf jika saya bertanya tak sopan pada bibi. Tapi kenapa selama tujuh belas tahun bibi kerja disini tapi bibi tak sekali pun ingin pulang kampung bahkan ketika ada acara hari besar sekalipun?"


"Apakah nyonya mau memecat saya?" tanya Bi Darsih dengan sedih.


"Mau gimana lagi nyonya? saya sudah tak memiliki siapapun disana. Anak saya sudah meninggal bersama wanita tak waras itu dan suami saya juga sudah diambil oleh wewe gombel dikampung sebelah"


Nirmala terkejut dengan perkataan Bi Darsih mengenai keluarganya.


"Bagimana bisa bibi kehilangan anak bibi?"

__ADS_1


"Anak saya diculik pada saat masij bayi oleh tetangga saya yang stres berat. Ia seorang wanita yang memiliki masalah mental dan ketika ia tahu saya telah melahirkan seorang putri, saat saya mengambil air hangat untuk bayi saya mandi, wanita itu membuka pintu kayu rumah saya yang tak terkunci dan membawa putri saya entah kemana. Suami saya sudah lama jarang sekali pulang, bahkan saat saya melahirkan pun ia tak ada. Saat bayi saya hilang saya sempat melihat wanita itu dan berlari dengan kencang masuk kedalam hutan yang lebat. Saya dibantu oleh warga tak berhasil menemukannya hingga saat esoknya saya tahu kabar bahwa wanita yang mengalami masalah mental itu meninggal dengan tubuh menyangkut di batu sungai dibawah jembatan"


Nirmala pun terkejut dan menatap Bi Darsih yang saat ini tengah berada disampingnya.


Gelapnya kamar Maria membuat Nirmala bisa mengendalikan wajah keterkejutannya sehingga tak dapat dilihat oleh Bi Darsih.


"Lalu apa lagi yang terjadi bi?" tanya Nirmala penasaran.


"Ya begitulah nyah. Anak saya pun sudah dapat dipastikan ikut meninggal sebab sungai yang berada di bawah jembatan penghubung itu airnya cukup deras karena beberapa hati sudah sigur hujan, serta banyak sekali bebatuan yang besar ada disana"


"Lalu suami bibi kenapa bisa ikit diculik wewe gombel?"


Bi Darsih pun terlihat tersenyum kecil dan mulai menarik nafasnya.


"Untuk cerita suami saya, suami saya adalah pria yang tempramental dan sangat kasar nyonya. Dulu saya menikahinya karena ia merupakan anak dari sahabat bapak saya dan mau tak mau saya harus menikah dengannya. Bapak serta emak saya tak tahu bahwa menantunya memiliki tabiat buruk sebab ia begitu handal berakting dan lagi pula saya juga takut untuk bercerita tentang kekerasan yang saya alami karena ia sering mengancam akan membunuh saya. Saat saya akan melahirkan, ia diketahui tengah mendekati janda kampung sebelah dan janda tersebjt dengan bangganya memberi kabar bahwa mereka sudah akan menikah. Semula saya tak percaya seban bagaimana pun suami saya setia walaupun kasar, tapi saat keesokannya anak saya meninggal, saya dan warga cukup terkejut saat melihat dirumah suami saya dan janda tersebut sedang melakukan mesum dan tak lama kemudian mereka diarak mengelilingi kampung tanpa memakai pakaian"


Nirmala begitu miris mendengarkan cerita asisten rumah tangganya sehingga ia tak mampu berkata kata.

__ADS_1


"Setelah itu saya yang sudah sakit hati dan sedih akhirnya memilih bercerai dan pergi merantau ke daerah ini. Hingga saya pun bertemu majikan sebaik nyonya dan bekerja disini sampai sekarang. Saya tak pernah merasa rindu kampung halaman karena dengan mengingat kejadian itu saja hati saya sudah sakit. Apalagi jika saya harus kembali kesana dan bertemu dengan manusia berhati ibl*s seperti mereka. Saya sudah cukup bahagia tinggal bersama nyonya dan saya bejanji akan senantiasa mengabdu di rumah ini sebelum nyonya sendirilah yang memecat saya"


Nirmala terharu mendengar ucapan Bi Darsih dan tak terasa bulir bening menetes begitu saja dari matanya. Nirmala begitu takjub dengan kesetiaan Bi Darsih selama ini bahkan ia senantiasa ada disaat ia seduh sekalipun.


__ADS_2