RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
66


__ADS_3

Maria yang kini sudah berada didalam tubuh seorang wanita mulai membuka matanya. Perlahan lahan ia terbangun dan kini sudah berada di pinggir sungai keadaan tubuh yang sudah kotor dan lusuh.


"Apakah aku sudah kembali?" gumam Maria pelan.


Silaunya sinar mentari membuat Maria sulit sekali membuka matanya dan beberapa kali mengerjapkan matanya. Perlahan lahan Maria mulai bangkit dan menyentuh tubuh barunya. Rambutnya yang dirasa kusut mulai ia rapihkan. Sampai ia pun memutuskan menatap wajahnya dari pantulan air sungai.


Ia begitu terkejut ketika melihat wajah barunya yang cantik dengan tahi lalat yang menempel di bawah kelopak mata kanannya.


Namun ia begitu terkejut ketika merasakan sakit di bagian kakinya dan ia pun mulai membuka rok yang tubuh itu kenakan.


Tampak dengan jelas noda memar di beberapa bagian kakinya dan Maria pun baru sadar ternyata terdapat luka sayatan di bagian pergelangan tangan serta bagian lehernya.


Tanda tanda itu menunjukan adanya bentuk kekerasan bahkan bisa di pastikan bahwa wanita yang tubuhnya Maria pakai, mungkin saja mengalami kekerasan se***sual dan pembunuhan.


Irisan melingkar di bagian lehernya serta adanya bekas tusukan di bagian perut, tak membuat Maria kesakitan. Hanya sesekali saja ia merasa sakit dan berdenyut di bagian luka itu.


Maria mulai bangkit seraya membenarkan pakaian kotor yang ia gunakan. Tak berselang lama ia pun mulai mencari tumpangan dan mencari orang orang yang mau membantunya di daerah jalanan.

__ADS_1


Banyak mata memandangnya dengan takut. Mungkin saja mereka mengira bahwa Maria adalah orang yang tidak waras sebab palaian yang kotor dan rambut yang acak acakan. Namun para preman dan anak brandalan yang sedang nongkrong di jalanan menatap Maria dengan tatapan penuh nafsu. Mareka pun menghampiri Maria dan mulai menggodanya.


"Cantik. Kenapa kamu disini? Apakah kamu mau permen? Hahahahha" ucap salah satu preman.


Hari yang masih siang dengan panas yang terik membuat Maria tak merasakan ketakutan.


"Kalian mau apa hah?! " Maria berteriak dengan kencang hingga membuat para pengendara menatap kearahnya.


Preman pun yang tahu bahwa kondisi siang dan jalanan sedang ramai pun mulai perlahan meninggalkannya.


"Ya sudah kalai kamu belum mau permennya. Nanti malam kalau kita ketemu lagi pasti kamu mau sayang"


Mereka pun mulai pergi meninggalkan Maria sendirian dengan wajah yang menunjukan kemarahan.


"Dasar ibl**s bertubuh manusia" Maria bergumam dan kembali berjalan menyusuri jalan raya.


Ia memandang sebuah mobil yang tak asing di sebrang jalan dan ia pastikan bahwa mobil itu milik ayahnya. Tanpa diduga Danu melambaikan tangan kearahnya dan memanggil dirinya.

__ADS_1


Danu memarkirkan mobil dipinggir jalan dan berjalan mendekati gadis tersebut. Dari kejauhan Ria melihat suaminya sedang membujuk gadis tersebut dan gadis itu pun terlihat menganggukan kepalanya.


Tak lama kemudian, Danu pun berjalan menuju arah mobil dengan gadis muda tersebut disampingnya. Rambut hitam yang terlihat rapih, serta baju daster minim yang ia kenakan sungguh membuat Ria yakin bahwa gadis tersebut adalah orang miskin.


Danu membukakan pintu penumpang bagian belakang mobil dan menyuruh gadis tersebut duduk. Ria tersenyum manis kearah sang gadis cantik dengan tahi lalat di bawah matanya.


"Namamu siapa ?" tanya Ria penasaran.


"Emh, nama saya Mira nyonya" ucapnya Maria sedikit berbohong untuk menyembunyikan identitas aslinya .


"Rumahmu dimana? dan apakah orang tuamu masih ada?" Ria kembali bertanya pada gadis yang hanya menundukan kepala.


"Sa...saya tak punya rumah nyonya. Saya tidur dibawah jalan layang bersama gelandangan lainnya. Saya baru saja berhasil kabur dari mucikari yang ingin menjual saya dengan iming iming mendapatkan pekerjaan di sini. Saya tak punya siapapun didunia ini. Orang tua saya sudah meninggal sejak saya masih kecil"


Ria menganggukan kepala tanda mengerti apa yang dimaksud gadis tersebut.


"Ya sudah kalau begitu kamu ikut kami kerumah untuk bekerja sebagai asisten pribadi putri saya. Kamu hanya bertugas menemaninya dirumah dan menjaganya disekolah"

__ADS_1


"Ta...tapi saya tak sekolah nyonya"


Akhirnya Maria pun ikut kerumah Danu dan Ria. Tanpa banyak kerja keras ternyata Danu dan Ria mengantarjan nyawanya sendiri ketangan Maria.


__ADS_2