
Mang Kardi datang menghampiri Bi Darsih yang tengah menatap kaku ke arah Danu dan Ria. Keduanya tak mampu melakukan apapun karena takut mereka akan dilibatkan dalam kasus ini.
"Apa ynag harus kita lakukan bi?" tanya Mang Kardi membuyarkan lamunan Bi Darsih.
"Entahlah mang. Sebaiknya kita mengecek kondisi dulu Sarah dan Mira. Bibi takut mereka terluka dan kenanapa"
Bi Darsih mulai berjalan meninggalkan Kamar Danu dan Ria menuju kamar Sarah
Bi Darsih yang saat ini diikuti Mang Kardi pun telah sampai di depan pintu kamar Sarah.
"Non! Non Sarah! Non Sarah baik baik saja kam!" Bi Darsih berteriak dengan kencang di depan kamar Sarah.
"Bagaimana ini Kardi? Tak ada jawaban dari arah dalam"
"Ya sudah kita cek dulu saja ke kamar Mira"
Saat ini Maria yang baru saja sampai di kamarnya bergegas masuk kembali ke tubuh Mira. Ia bahkan berpura pura tidur pulas agar tak ada kecurigaan pada Mang Kardi dan Bi Darsih.
"Nak Mira buka pintunya nak! Nak Mira ini bibi! Buka pintunya!"
Mang Kardi menatap Bi Darsih. Ia bahkan takut bahwa Sarah dan Mira sama sama trluka seperti Danu dan Ria. Tak lama kemudian pintu terbuka secara perlahan.
Terlihat Mira yang saat ini menatap Bi Darsih dan Mang Kardi dengan wajah keheranan.
"Ada apa bi? Kenapa malam malam berteriak?" Mira menggaruk kepalanya dan mengucek matanya.
Tanpa bicara sepatah kata pun Bi Darsih memeluk tubuh Mira dengan sangat erat dan mulai mencium kening gadis itu tanpa mempersulikan suhu tubuh MIra yang begitu dingin seperti es.
"Syukurlah kamu baik baik saja nak. Bibi sangat khwatir keadaanmu"
"Khawatir? Kenapa bibi khawatir? Aku baik baik saja bi" Mira tersenyum seraya menatap manik mata wanita paruh baya di depannya.
"Tu...tuan Danu dan Nyonya Ria terluka nak. Bibi sama Mang sangat khwatir kalau Nak Mira dan Non Sarah kenapa napa" Mang Kardi mencoba menjelaskan pada Mira yang pura pura tak tahu.
__ADS_1
Dengan memasang wajah bingung dan kaget, Mira segera bertanya mengenai pertanyaan yang ia pun tahu jawabannya .
"Bagaimana mungkin bisa bi, mang? Kenapa Tuan Danu dan Nyonya Ria terluka? Apa yang telah mereka lakukan? Lalu mereka dimana sekarang?"
"Tuan dan Nyonya masih berada di dalam kamar. Bibi sama Mang Kardi tak bisa melakukan apapun dan tak mau menyentuh apapun karena bisa jadi nanti kami yang dituduh melakukan kejahatan. Kami sudah menelpon polisi dan sedang menunggu mereka. Maka dari itu bibi sama Mang Kardi mau memastikan keadaan Nak Mira sama Non Sarah terlebih dahulu"
Mira menganggukan kepala dengan senyum yang ia sembunyikan dari dalam hatinya.
"Lalu dimana Sarah? Bagaimana keadaannya?"
Bi Darsih menepuk jidatnya karena asik mengobrol dengan Mira. Ia kemudian bergegas menuju kamar Sarah dan memanggil gadis tersebut.
"Non Sarah! Non Sarah buka pintunya non!" teriak Bi Darsih dengan keras.
"Sarah buka! Buka pintunya! Ini aku Mira, Sarah!"
Mira mulai meniup pintu kamar Sarah untuk menghilangkan mantra peredam suaranya. Hingga tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari dalam kamar Sarah dan akhirnya pintu pun terbuka dengan lebar.
Bi Darsih segera memegang tangan Sarah dan menatapnya penuh dengan ke khawatiran.
Sarah yang bingung hanya menatap ketiga manusia yang kini tengah berdiri di hadapannya. Raut wajah heran di dirinya tak mampu disembunyikan.
"Ada apa ini bi? Kenapa bibi terlihat panik? Aku baik baik saja dan tak ada apapun yang terjadi padaku" Sarah meyakinkan Bi Darsih dan mulai memutar badannya agar Bi Darsih yakin bahwa tak ada sedikitpun luka pada dirinya.
"Syukur alhamdulillah non jika Non Sarah baik baik saja"
"Iya bi. Lalu sekarang katakan apa yang sebenarnya membuat bibi panik?"
Bi Darsih pun menatap Mang Kardi untuk menjelaskan semua yang terjadi pada kedua orang tua Sarah. Bi Darsih sudah tahu pasti Sarah akan histeis ketika melihat kondisi kedua orang tuanya. Dari kejauhan mulaibterdengar sirine dar ambulan serta polisi yang sebelumnya di telpon oleh Mang Kardi.
Ting tong!
Bel rumah telah berbunyi. Bi Darsih pun menyuruh Mang Kardi untuk segera membuka pintu agar para polisi bisa masuk ke adalam rumah. Dan inilah saatnya Bi Darsih menjelaskan semuanya pada Sarah.
__ADS_1
"Emh, jadi...jadi ...jadi gini non, Tuan sama nyonya sudah mengalami teror malam ini"
"Teror? Jadi set**n itu masih membuat teror pada keluarga kita! Ini tak bisa di biarkan bi. Dimana ibu dan ayah?" Sarah mulai mengguncang tubuh Bi Darsih.
"Tuan sama nyonya ada di kamar, bibi harap non bisa sabar dan tabah. Tunggu pihak polisi mengecek kondisi mereka berdua non"
Sarah yang mendengar ucapan Bi Darsih pun segera berlari menuju kamar kedua orang tuanya. Ia berlari dengan bulir air mata yang sudah tak bisa di bendung lagi.
Air matanya kian jatuh kala melihat kondisi kedua orang tuanya yang kini tergeletak di atas lantai.
"Ayah! Ibu!" Sarah berteriak dan langsung memeluk tubuh ibunya yang kini berada di atas ranjang tempat tidur.
Darah yang mengalir dari tangan Ria mulai mengering dan membuat Sarah semakin panik dan terguncang.
"Apa yang sudah terjadi pada ibu dan ayah bi?" Sarah berteriak dengan kencang pada Bi Darsih.
Para polisi yang kini sudah berada di depan kamar Danu dan Ria pun segera masuk dan terkejut ketika melihat pemandangan mengerikan di hadapan mereka.
"Maaf anda dimohon untuk menjauhi tkp! Kami akan membawa kedua orang tua anda untuk segera mendapatkan tindakan medis"
Para perawat yang datang berdama para polisi pun mulai mendekati tubuh Ria dan Danu. Mereka mulai menggotong tubuh keduanya dan membawa mereka ke dalam ambulan.
Sarah berteriak dan menangis dengan histeris, namun Mira mamlu mengendalikan Ssarah dan membuatnya sedikit tenang dengan dekapan erat pada tubuh Sarah.
"Tenang Sarah. Tenanglah, ibu dan ayahmu pasti akan baik baik saja" Mira mengusap kepala Sarah dan mencium keningnya.
Entah kenapa Sarah pun mampu terdiam dan sedikt tenang akibat sentuhan dari Mira. Ya, ini adalah ikatan batin antara dua kakak beradik.
"Ta...tapi ayah dan ibuku kenapa Mir? Kenapa mereka bisa seperti ini?"
"Ini sudah takdir mereka. Arwah itu tak mungkin melakukan ini tanpa sebab. Apa kau tahu sesuatu Sarah?"
Sarah yang mendapat pertanyaan dari Mira pun segra menggelengkan kepala. Ia bahkan tak tahu tentang istri pertama ayahnya itu, apalagi ia baru tahu bahwa identitas asli arwah yang selama ini meneror kampungnya.
__ADS_1
"Aku tak ingin ayah dan ibu celaka Mir. Aku harus segera membuat arwah itu binasa dan lenyap!" Sarah menatap kosong ke arah lantai.
Dendam di hatinya begitu dalam pada arwah penasaran yang sudah membuat kedua orang tuanya itu terluka. Tanpa ia sadari, bahwa arwah yang ia maksud adalah arwah Maria, kakanya sendiri.