
Bi Darsih menghentikan aktivitas sarapannya dan tersenyum menatap Mira di depannya.
"Jika Non Mira merindukan ibu Non, maka anggaplah bibi sebagai ibu non. Walaupun bibi tak bisa memberikan apapun untuk Non Mira, tapi setidaknya bibi bisa memberikan kasih sayang untuk non"
"Terimaksih bi"
Bi Darsih kembali melanjutkan sarapannya dan menghabiskan makanan di piringnya. Ia kemudian merapihkan kembali masakannya yang masih tersisia di atas meja makan dan mengambil piring bekas makan Mira serta dirinya.
"Bibi mau cuci piring dulu. Non mandilah dan non bisa mencoba mendekati Non Sarah. Non Sarah memang memiliki sifat seperti anak kecil, namun dia sangatlah baik. Dan bibi yakin bahwa kalian bisa menjadi seorang sahabat"
"Aku tak yakin akan hal itu bi. Tapi aku akan mencobanya"
Mira pergi berlalu meninggalkan Bi Darsih yang sibuk berkutat dengan cucian piringnya. Mira bergegas naik menuju kamarnya dan bergegas mandi kemudian memakai kembali pakaiannya.
Tak lupa, ia pun kini mulai berbaring diatas ranjang dan perlahan lahan keluar dari tubuh wanita yang selama ini ia pakai. Jiwa Maria kini sudah keluar dari raga tersebut. Ia berjalan menyusuri rumah Danu dan menembus dinding kamar Sarah untuk melihat adik tirinya.
Sarah terlihat tengah menyantap sarapan yang dibawakan oleh Bi Darsih dengan lahap. Dengan hati yang masih kesal, dia menghabiskan sepiring penuh makanan dan menyimpan piring tersebut di atas meja rias.
__ADS_1
Sarah kini mengambil kembali buku harian milik Nirmala yang sempat ia baca di bab awal. Maria yang terkejut dengan apa yang di pegang Sarah pun segera menghampirinya sebab Sarah tak bis melihat arwahnya saat ini.
Halaman demi halaman dibuka oleh Sarah dengan pelan. Ia membaca semua isi hati Nirmala ketika ia menjadi istri Danu dan hari harinya menjadi nyonya di rumah ini dengan seorang pembantu yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri ya itu Bi Darsih.
"Bi Darsih? Jadi Bi Darsih tahu selama ini ayah sudah menikahi wanita bernama Nirmala sebelum ia menikahi ibu. Lalu kenapa Bibi diam saja?"
Sarah bangkit dan berjalan menuruni anak tangga untuk menemui Bi Darsih. Dengan langkah yang terburu buru, ia kemudian mendengar dentingan piring yang sedang disusun Bi Darsih kedalam rak dan menghampirinya di dalam dapur.
"Bibi" ucap Sarah membuat Bi Darsih terkejut.
"Eh. Ada apa non? Apa non mau makan lagi?" tanyanya polos.
Bi Darsih terdiam. Ia takut sekali membuka masa lalu Danu dan Ria sebab ia tahu bahwa keduanya sangatlah kejam dan bisa saja mencelakakannya jika sampai ia memberitahu Sarah.
"Maaf non bibi tak tahu siapa wanita itu non, sungguh" Bi Darsih mencoba menyibukan dirinya membereskan tatanan piring di dalam rak.
Dengan tangan yang bergetar ia tak berani menatap putri majikannya sebab ia takut salah bicara.
__ADS_1
"Jangan berbohong bi. Aku hanya ingin tahu siapa istri pertama ayah dan kenapa dia menikahi ibu? Apakah ini ada kaitannya dengan hantu Mala yang sering meneror kita?"
"Tidak ! Tidak ada kaitannya non! Nyonya Nirmala sangatlah baik dan ia sudah tenang di alamnya sekarang"
"Lalu siapakah arwah Mala bi? Siapa?" Sarah mulai mendekatkan tubuhnya pada Bi Darsih.
Wanita paruh baya itu terlihat sangat gugup dan kemudian sepintas ide melintas di pikirannya.
"Sekarang non duduk dulu biar bibi ceritakan siapa hantu Mala sebenarnya. Tapi non harus janji jangan katakan pada tuan dan nyonya bahwa bibi bercerita hal ini sebab bibi pasti akan di pecat dan non takan bisa melihat bibi lagi"
Sarah bergeming. Ia tahu bahwa tindakannya salah dan bisa membahayakan pekerjaan Bi Darsih. Tapi, rasa penasaran di hatinya yang besar membuat Sarah tak terlalu memperdulikan hal itu. Toh dengan ia menangis dan kabur dari rumah, kedua orang tuanya pasti akan membawa kembali Bi Darsih kerumah jika sampai Bi Darsih dipecat.
*******
Disisi lain, Arwah Maria yang melihat buku tergeletak diatas ranjang Sarah segera mengambilnya dan membawa buku tersebut ke dalam kamarnya sendiri.
Maria tak ingin kalau Sarah sampai tahu bahwa istri pertama ayahnya memiliki seorang putri yang tak lain adalah Maria sendiri. Ia takut bahwa saat Sarah membaca bab akhir tentang dirinya yang tak sadarkan diri di rumah sakit, Sarah pasti akan tahu bahwa saat ini Maria sudah tiada dan pasti Sarah juga akan berfikir bahwa arwahbyang selama ini bergentayangan adalah Maria daj bukanlah Nirmala.
__ADS_1
Sarah memanglah cerdik dan pintar, jadi Maria takut bahwa adik tirinya itu akan mengagalkan balas dendamnya tersebut.