
Kamar bernuansa putih sudah rapih disediakan oleh Ria bersama Bi Darsih serta Mang Kardi. Dari kejauhan Mira tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ria yang yakin bahwa arwahnya takan pernah meneror lagi keluarga Danu.
Mira bahkan telah menyusun rencana untuk mencelakakan Ria dan Danu malam inj sebelum melakukan penumbalan pada sang Ibl** tersebut. Mira pun berjalan menuju Ria dengan wajah yang ia buat seperti tak tahu apapun.
"Eh, Mira kamu sudah bangun?" tanya Ria dengan wajah gugupnya.
"Iya nyonya maaf jika saya bangun kesiangan"
"Tak papa nak. Kamu sudah makan?"
"Sudah nyonya. Saya jadi malu karena nyonya sudah baik sekali pada saya sedangkan saya tak melakukan apapun dan hanya membuat beban untuk nyonya dirumah ini"
Ria mengusap pucuk kepala Mira. Ia kemudian tersenyum dengab ramah pada gadis yang benar benar akan membalaskan dendam padanya. Ria bahkan tak sadar bahwa fisik Mira tampak begitu beda dari manusia biasanya. Pupil mata Mira yang tampak begitu besar serta kulitnya yang pucat pasi.
Bahkan Ria tak sadar ketika menyentuh tubuh Mira, tubuh Mira begitu dingin bak sebuah mayat.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Mira dengan pelan.
"Emh, sebentar" Ria berjalan mengambil sebuah bunga dan memetik satu tangkai kedalam wadah.
"Kau petik saja mawar ini dan taruh di dalam wadah. Nanti kau hias berbentuk hati diatas ranjang dengan indah ya"
Mira menganggukan kepala. Ia tersenyum dan segera meraih beberapa tangkai mawar serta wadah ditangan Ria.
"Bolehkah saya memetik bunga bunga ini di ruang tamu nyonya? saya merasa sangat pengap disini"
Ria berjalan meninggalkan Mira, Bi Darsih dan Mang Kardi di kamar tersebut. Mira kemudian berjalan menuju ruang tamu dan segera duduk untuk memetik kelopak bunga dari tangkainya.
Bi Darsih dan Mang Kardi pun segera membereskan kembali sampah sampah bekas hiasan yang ada di atas lantai kemudian membuangnya ke tempat sampah. Keduanya tampak begitu sibuk dan bekerja sama membereskan semuanya agar terlihat rapih dan bersih.
Lain halnya dengan Mira yang sesekali memakan bunga mawar yang ia gengam. Rasa manis yang ia rasakan dari kelopak bunga mawar seolah menjadi candu baginya dan bahkan ia seperti ingin sekali menghabiskan semua bunga yang ada.
__ADS_1
Matanya tak berhenti mengawasi sekitar sebab ia takut bahwa akan ada orang yang melihat kelakuannya.
******
Sore hari telah tiba. Danu berjalan menuju ruang tamu membawa seorang gadis lugu dan polos masuk ke kediamannya yang besar. Nampak sekali gadis itu masih sangat muda namun cukup berani melenggak lenggokan tubuhnya bak sudsh terlatih.
"Kamu akan melayani saya nanti malam" ucap Danu berbisik ditelinga gadis tersebut.
Terlihat gadis itu dengan cepat menganggukan kepala dan tersenyum seraya memelintir tangannya di kerah baju Danu.
"Baik tuan. Saya akan pastikan tuan puas dengan pelayanan saya"
"Kau benar benar ahlinya sayang. Ah, tapi apakah kau benar benar belum pernah melakukannya sebelumnya?" tanya Danu memastikan bahwa gadis yang ia bawa masih per**n .
"Tentu saja tuan. Tuan akan tahu nanti malam. Saya bahkan tak dibolehkan mendekati seseorang pria sebab Tante May sudah membandrol harga untukku cukup mahal. Dan hanya tuan yang mampu membeli s*ya"
__ADS_1
"Bagus kalau begitum. Kau jangan sampai mengecewakanku. Paham"