RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
84


__ADS_3

Hujan turun dengan lebat, disusul dengan petir yang kuat menyambar di sekeliling hutan. Ria dan Danu saat ini dalam ketakutan yang luar biasa. Jam di ponsel mereka berdua menujukan pukul enam malam namun sebetulnya mereka yakin bahwa saat ini harusnya baru pukul tiga sore.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi Ri?" tanya Danu dengan panik.


Ia terus menstater mobilnya namun tak kunjung menyala. Dengan kepanikan Danu dan Ria terus saja mengucap beberapa kaliamat yang sebelumnya si mbah berikan untuknya jika dalam masalah.


Hutan yang tadi sangat terang dan panas seketika kini berubah menjadi sangat gelap dan mencekam. Ria tak henti hentinya menatap sekeliling mobil yang hanya disinari oleh cahaya lampu mobilnya.


"Bagaimana ini mas? Kenapa mobilnya tak mau menyala? Apa bensinya habis?" Ria terus saja bergumam dan bertanya pada Danu.


Danu yang tengah panik tak bisa mengontrol emosinya dan membentak Ria dengan sangat kasar.


"Sudah ku bilang kau ini pembuat masalah! Kau sama seperti si Mala yang selalu membuatku si*l! Kau berhentilah bicara dan diam!"


Ria seketika terdiam. Ia begitu tak menyangka bahwa Danu bisa sekasar ini padanya. Entah apa yang sudah ia lakukan sebelumnya, sampai sampai Danu selalu memarahinya dengan sangat kasar.


Ria mulai panik, matanya tak henti menatap sekeliling hutan. Hujan yang lebat sungguh membuat didalam mobil terasa dingin dan lembab. Tak ada suara apapun selain suara hujan yang sangat deras.

__ADS_1


Hingga tak lama kemudian terdengar kaca mobil bagian belakang seperti diketuk oleh seseorang.


"Mas itu siapa yang ketuk?" Ria bertanya dengan takut.


Danu menoleh ke arah belakang dan tak mampu melihat ke arah luar mobilnya, karena kaca mobil yang ia gunakan berwarna hitam pekat, ditambah lagi hujan yang deras membuat di luar hutan sangat gelap seperti malam.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan semakin keras dan cepat. Ria hanya mampu membaca beberapa kalimat yang si mbah ajarkan dengan bulir bening yang mulai menetes di pipinya.


Tak lama kemudian terdengar seperti ada gesekan di samping bemper mobilnya yang ia yakin bahwa benda yang menggesek body mobilnya adalah benta tajam.


Danu merogoh kembali saku celananya dan mulai menyalakan senter di ponselnya.


Ia kemudian menyorot kaca bagian belakang mobil dan alangkah terkejutnya Danu ketika melihat sebuah tangan dengan kuku yang sangat tajam tengah menempel di kaca mobil bagian belakangnya.


"Astaga Ri! Itu set*!" teriak Danu panik.

__ADS_1


Melihat suaminya yang sangat ketakutan, Ria pun segera menangis dengan kencang dan mulai menarik tubuh Danu agar mendekat kearahnya.


Perlahan lahan, cakar di tangan misterius itu mulai mengetuk ngetuk kaca mobil bagian samping lalu tepat bagian depan mobilnya. Ria yang ketakutan terus saja berteriak dan menangis karena syok.


"Apa yang harus kita lakukan mas?"


Danu yang juga merasa sangat takut hanya mampu membaca kalimat kalimat sesat yang diajarkan sang dukun seraya mulai meminta ibl** yang tadi untuk membantunya. Namun, beberapa lama Danu menunggu, ibl*s itu tak kunjung datang menolongnya.


"Ck Sia**! Kuarasa inu adalah akibat dari kau yang berbicara kasar Ri! Si mbah telah menyuruh seluruh anak buahnya menyerang kita"


"Lalu apa yang harus kita lakukan mas?" Ria mengusap air matanya dengan kasar.


"Sekarang kita tak bisa melakukan apapun selain memohon ampun pada si mbah agar mau memaafkan kita dan mengembalikan kita ke alam nyata. Aku tahu pasti si mbah menginginkan bayaran yang besar untuk ini"


"Apa yang si mbah minta? Dan apa yang harus kita berikan ?"


"Jika dia meminta harta, kita harus menyiapkan sebulan penghasilan kita kali ini untuknya, tapi jika ia meminta yang lain kau jiga harus membantuku"

__ADS_1


Dengan rasa takut yang menjalar di seluruh tubuhnya, Ria menganggukan kepala tanda setuju, tanpa mengetahui apa yang akan dukun itu minta.


"Ampun mbah, ampun, Saya meminta ampun dan belas kasih dari mbah yang agung. Saya mohon ampun dan mohon belas kasih dari sampean. Saya janji akan memberikan apapun yang mbah minta, asal kembalikan saya dan istri saya ke alam nyata, alam manusia"


__ADS_2