RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH

RINTIHAN SENDU DI KAMAR SEBELAH
125


__ADS_3

Sarah berpamitan pada Bi Darsih dan mulai pergi meninggalkan rumah sakit. Rasa penasaran serta rasa keingin tahuannya begitu besar sehingga membiat Sarah kini mulai berlari menuju angkutan umum yang melewati rumahnya.


Dengan hati yang tak karuan, Sarah mulai menunggu kapan angkot yang ia naiki akan berhenti tepat di persimpangan menuju rumahnya. Hingga akhirnya tampak dengan jelas persimpangan yang Sarah maksud.


"Pak berhenti!" teriak Sarah dengan kencang.


Ia memberikan uang pada supir tersebut dan segera berlari menuju rumahnya. Tanpa lelah dan tanpa rasa takut, Sarah mulai berlari sekencang mungkin menuju rumahnya dan sampailah ia di depan rumah besar bercat putih yang selama ini ia tempati bersama ayah serta ibunya.


Sarah menarik nafasnya dengan panjang dan mulai melangkahkan kaki menuju pintu rumahnya. Untung saja memegang kunci rumah yang Bi Darsih berikan sehingga membuatnya leluasa bisa masuk kedalam kamar yang Bi Drsih maksud.


Ruangan yang gelap tanpa cahaya sedikitpun kini dimasuki oleh seorang gadis yang mulai merasakan hawa dingin menyelimuti diririnya. Debu yang begitu tebal menyelimuti lemari pakaian membuat Sarah sedikit menyapu dengan jemari lentiknya.


Hingga ia pun kemudian memasukan kunci lemari yang selama ini Bi Darsih pegang dan mulai membuka lemari usang tersebut.


Tangan Sarah dengan teliti mencari sesuatu yang mungkin bisa di jadikan petunjuk diantara tumpukan pakaian bekas Nirmala semasa hidup. Sampai kemudian tanpa sengaja tangan Sarah memegang sebuah benda yang memiliki ikatan rantai kecil menempel padanya.

__ADS_1


"Liontin?" gumam Sarah pelan.


Ia membuka liontin berbentuk hati tersebut dan menemukan sepotong kecil foto wanita serta ayahnya yang tengah memangku seorang bayi di tangannya. Ayah serta wanita misterius itu tampak bahagia bahkan senyum ayahnya nampak begitu berbeda dengan sekarang.


"Apa mungkin ini istri pertama serta putri pertama ayah" gumam Sarah pelan.


****


Di lain sisi, Maria yang masih berada di tubuh Mira pun mulai marah dan jijik dengan perlakuan ayah kandungnya yang mulai bertindak seenaknya. Dengan kekuatan yang ia miliki, Maria mulai meniup wajah Danu hingga membuat pria itu kehilangan kesadaran dan kejang kejang di depan ruangan tersebut.


Entah kenapa tiba tiba saja dada Maria begitu sangat sakit dan merasa seperti terbakar. Sampai pada akhirnya terlintas bayangan Sarah yang mulai masuk kedalam kamarnya dan mulai mencari tahu sosok Maria serta ibunya yang sudah lama tiada.


Ia mulai meninggalkan tubuh Mira dan segera menghilang menuju kamar yang selama ini selalu saja terkunci. Di tatapnya Sarah yang kini mulai membuka liontin miliki ibunya dan inilah saat yang paling tepat untuk menujukan diri pada adik tirinya tersebut.


Maria mulai menutup pintu kamar dengan sangat kencang hingga membuat Sarah terkejut dan sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Siapa itu! Siapa! Cepat tunjukan wujudmu! Sekarang aku tahu kau memanglah istri pertama ayah, tapi kau tak bisa mencelakakan ayah dan ibuku seperti ini! Kau set**n yang jahat!" Sarah berteriak teriak dengan kencang.


Membuat Maria perlahan menujukan wujud aslinya yang sangat menyeramkan. Bola mata yang sedikit terlepas dari tempatnya, kulit wajah yang perlahan mulai mengelupas serta bibirnya yang tersenyum sampai pipi membuat darah dari sobekan di pipinya perlahan mulai menetes.


"Ini aku" ucap Maria dengan parau.


Sarah yang ketakutan mulai beringsut mundur dengan tangan yanv masih menggenggam erat liontin di tangannya. Ia benar benar tak menyangka bahwa arwah yang ia pikir istri ayahnya sangatlah menyeramkan.


"Ka...kau"


"Aku Maria"


Sarah membelalakan mata. Nama yang disebit oleh arwah di hadapannya sunggh tak sama dengan nama istri pertama ayahnya.


"Jad...jadi kau bukanlah. Ni"

__ADS_1


"Bukan! Aku adalah Maria kakakmu Sarah" Maria tersenyum menyeringai.


Sarah bahkan masih terlihat bingung dab beberapa kali menggelengkan kepalanya.


__ADS_2